BERAU POST – Jajaran legislatif turut mengecam kasus pembunuhan dan pengambilan telur penyu secara paksa yang kembali terjadi.
Aksi tersebut dinilai bukan hanya sebagai tindak pidana terhadap satwa yang dilindungi, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kelestarian ekosistem laut serta citra pariwisata Bumi Batiwakkal.
Anggota DPRD Berau, Sutami, menegaskan, tindakan keji terhadap penyu harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan.
Ia meminta aparat penegak hukum bersama instansi terkait mengusut tuntas kasus tersebut dan menjatuhkan sanksi tegas kepada para pelaku.
"Perilaku seperti ini tidak boleh dibiarkan. Pelaku harus diberikan hukuman yang berat agar menimbulkan efek jera dan tidak ada lagi orang yang berani melakukan perburuan maupun pembunuhan penyu," tegasnya kepada awak media, Senin (3/8).
Menurut Sutami, penyu merupakan satwa yang dilindungi oleh negara dan memiliki nilai ekologis yang sangat penting.
Bahkan, keberadaan penyu selama ini telah menjadi salah satu ikon Berau yang dikenal memiliki kekayaan laut dan kawasan konservasi bertaraf internasional.
"Penyu bukan hanya satwa yang dilindungi, tetapi juga sudah menjadi bagian dari identitas Bumi Batiwakkal. Kalau kita membiarkan perburuan ini terus terjadi, lambat laun kita bisa kehilangan salah satu kebanggaan daerah," ujarnya.
Ia menilai seluruh stakeholder mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), hingga masyarakat harus bersinergi untuk menghentikan praktik perburuan penyu dan perdagangan telur penyu yang masih terjadi.
"Jangan ada pembiaran. Semua pihak harus turun ke lapangan melakukan pengawasan, mengusut pelakunya, dan memastikan ada tindakan hukum yang tegas," katanya.
Selain penegakan hukum, Sutami menilai edukasi kepada masyarakat juga menjadi langkah penting untuk menekan praktik perdagangan satwa dilindungi tersebut.
Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami bahwa memperjualbelikan penyu maupun telur penyu merupakan pelanggaran hukum yang dapat merusak keseimbangan ekosistem.
Ia mengungkapkan, saat ini bukan hanya telur penyu yang menjadi incaran oknum tidak bertanggung jawab, tetapi penyu dewasa juga mulai diburu untuk diperjualbelikan.
Kondisi tersebut menurutnya, menjadi alarm serius yang harus segera direspons sebelum populasinya terus menurun.
"Kalau yang diburu bukan hanya telurnya, tetapi juga induk penyu, tentu ancamannya jauh lebih besar terhadap keberlangsungan spesies ini. Karena itu, kasus seperti ini harus diusut hingga tuntas," ucapnya.
Sutami juga mengingatkan bahwa keberadaan penyu memiliki peran strategis dalam mendukung sektor pariwisata Berau. Kawasan pesisir dan pulau-pulau di Berau selama ini dikenal sebagai habitat penyu yang menjadi daya tarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
"Pemerintah sedang gencar mempromosikan sektor pariwisata. Penyu merupakan salah satu daya tarik utama wisata bahari Berau. Kalau satwa ini sampai punah akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab, bukan hanya ekosistem yang rusak, tetapi identitas daerah dan potensi pariwisata kita juga akan ikut hilang," pungkasnya.
Diwartakan sebelumnya, Sekretaris Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Lestari Balikukup, Suriyadi, mengetahui adanya pembantaian terhadap penyu itu saat melakukan pemantauan rutin di kawasan pantai bersama anaknya.
Suriyadi mengungkapkan, awalnya ia melihat jejak penyu yang baru naik ke daratan untuk bertelur. Tidak lama kemudian, warga setempat memanggilnya dan mengabarkan adanya seekor penyu yang ditemukan dalam kondisi telah mati.
"Saya langsung menuju lokasi. Setelah dicek, ternyata benar ada seekor penyu berukuran besar yang sudah mati. Kondisinya sangat memprihatinkan karena tubuhnya telah disayat atau dibelek, sementara telurnya sudah diambil," ujarnya kepada awak media saat dikonfirmasi kemarin.
Temuan tersebut kemudian segera dilaporkan kepada anggota Pokmaswas lainnya untuk dilakukan pengecekan bersama.
Dari hasil pemeriksaan di lapangan, dipastikan bahwa penyu tersebut menjadi korban perburuan liar.
Berdasarkan jejak dan kondisi lokasi, Suriyadi memperkirakan penyu itu naik ke pantai sekitar pukul 02.00 Wita saat air laut sedang pasang untuk bertelur. Sementara aksi pembantaian diduga terjadi sekitar pukul 04.00 Wita.
"Perkiraan kami penyu naik sekitar pukul dua dini hari. Bekas darah di lokasi masih terlihat segar saat kami menemukannya, sehingga diduga baru beberapa jam sebelumnya dibunuh," jelasnya.
Seluruh telur yang ada di dalam tubuh penyu telah raib dibawa pelaku. Setelah menemukan kejadian tersebut, Pokmaswas langsung berkoordinasi dengan pihak konservasi guna menentukan langkah penanganan dan upaya pengungkapan kasus.
“Kita masih menunggu langkah-langkah apa yang akan diambil dengan melakukan koordinasi bersama pihak konservasi,” tutupnya. (aky/sam)
Editor : Nurismi