Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

DPRD Berau Desak Pemerataan Nakes ke Kampung Terpencil: Pelayanan Kesehatan Jangan Hanya di Kota!

Nurismi • Rabu, 6 Mei 2026 | 18:20 WIB
OPTIMALKAN PELAYANAN: Dinkes Berau berusaha memberikan layanan kesehatan yang merata, melalui keberadaan 21 Puskesmas Induk dan 113 Puskesmas Pembantu. (SENO/BP)
OPTIMALKAN PELAYANAN: Dinkes Berau berusaha memberikan layanan kesehatan yang merata, melalui keberadaan 21 Puskesmas Induk dan 113 Puskesmas Pembantu. (SENO/BP)

BERAU POST – Legislatif mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan hingga menjangkau seluruh kampung.

Rekomendasi tersebut disampaikan sebagai upaya pemerataan layanan dasar bagi masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto menegaskan pentingnya pemenuhan tenaga kesehatan (nakes) agar pelayanan tidak terpusat di wilayah perkotaan saja.

“Kami mendesak pemda agar penempatan tenaga kesehatan bisa menjangkau setiap kampung,” ujarnya.

Akses layanan kesehatan yang merata menurutnya menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sementara saat ini masih ada sejumlah wilayah yang belum terlayani secara optimal, sehingga perlu perhatian serius dari pemerintah daerah. 

“Pelayanan kesehatan harus dirasakan semua masyarakat,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sari menyebut upaya pemerataan layanan sebenarnya sudah menjadi bagian dari tugas pokok instansinya. “Itu sudah dilakukan, memang tugas kami,” ucapnya.

Ia menjelaskan, secara struktur, Dinkes Berau saat ini memiliki 21 puskesmas induk dan 113 puskesmas pembantu (pustu) yang tersebar di berbagai wilayah.

Fasilitas tersebut dirancang untuk menjangkau masyarakat hingga tingkat kampung. “Kalau induk ada 21, pustu 113 lokasi,” jelasnya.

Meski demikian, Lamlay mengakui dalam praktiknya tidak semua fasilitas kesehatan dapat terisi tenaga medis secara penuh setiap waktu.

Hal ini disebabkan berbagai faktor, mulai dari pensiun, cuti melahirkan, hingga kondisi kesehatan petugas. 

Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes biasanya melakukan penyesuaian dengan melibatkan puskesmas induk agar tetap bisa memberikan pelayanan. “Kami cari solusi dengan puskesmas induknya,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan lain berupa minat tenaga kesehatan yang cenderung rendah untuk ditempatkan di wilayah terpencil atau terisolasi. Kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas menjadi faktor yang memengaruhi.

“Nakes cenderung menghindari wilayah terisolasi,” sebutnya.

Selain itu, beberapa fasilitas baru juga masih dalam proses pengisian tenaga kesehatan, seperti pustu di Kampung Usiran yang baru selesai dibangun. 

Lebih lanjut, Lamlay menegaskan, secara statistik sulit untuk memastikan seluruh pustu terisi 100 persen sepanjang waktu.

Mobilitas tenaga kesehatan yang dinamis menjadi salah satu penyebabnya. “Tidak mungkin 100 persen terisi terus,” ujarnya. (sen/arp) 

 

 

Editor : Nurismi
#pemerataan nakes #fasilitas kesehatan #DPRD Berau #Dinkes Berau