BERAU POST – Fasilitas layanan kesehatan di RSUD dr Abdul Rivai didorong legislatif untuk ditingkatkan. Khususnya pada layanan cuci darah (hemodialisis).
Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto mengatakan, jumlah pasien gagal ginjal di Kabupaten Berau mengalami peningkatan.
Sehingga kebutuhan layanan cuci darah di Berau saat ini turut meningkat. Kondisi ini dinilai perlu diimbangi dengan penambahan sarana dan prasarana agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal.
“DPRD meminta ada penambahan alat cuci darah dan perluasan area, mengingat pasien terus bertambah. Ini penting agar pasien tidak antre dan tidak perlu lagi berobat ke luar daerah,” ujarnya, Senin (4/5).
Selain itu, DPRD juga mengusulkan penambahan layanan khusus untuk pasien dengan kelainan darah genetik, seperti thalasemia.
Keberadaan fasilitas tersebut akan sangat membantu masyarakat Berau yang selama ini masih harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD dr Abdul Rivai, dr Jusram mengakui, kapasitas layanan cuci darah di rumah sakit saat ini memang masih terbatas, terutama dari sisi ketersediaan ruangan.
Ruang hemodialisis yang ada saat ini disebutnya hanya mampu menampung delapan mesin cuci darah sesuai standar yang ditetapkan BPJS Kesehatan. Padahal, secara keseluruhan pihak rumah sakit memiliki 12 unit mesin.
“Luas ruangan yang kami pakai saat ini hanya cukup untuk delapan mesin,” ungkapnya.
“Masih ada empat mesin yang belum bisa kami operasionalkan, karena keterbatasan ruang dan harus menyesuaikan standar dari BPJS Kesehatan,” sambungnya.
Diungkapkan Jusram, jumlah pasien cuci darah di RSUD dr Abdul Rivai saat ini mencapai sekitar 36 orang. Sementara itu, masih terdapat 47 warga Berau yang menjalani cuci darah di luar daerah.
“Kalau mengacu data BPJS Kesehatan, sebenarnya totalnya bisa sekitar 80an orang,” tuturnya.
Terlebih, tren pasien gagal ginjal di Berau juga terus meningkat setiap bulannya. Rata-rata terdapat penambahan dua hingga tiga pasien baru yang membutuhkan layanan cuci darah.
“Ini sifatnya akumulatif, karena pasien lama tetap menjalani terapi, sementara pasien baru terus bertambah,” katanya.
Secara ideal, RSUD dr Abdul Rivai menargetkan dapat mengoperasikan hingga 20 mesin cuci darah. Namun, dengan kondisi saat ini, baru delapan mesin yang bisa digunakan secara optimal.
“Dari 12 mesin yang ada, baru delapan yang operasional karena keterbatasan ruangan,” jelasnya.
Adapun solusi utama untuk mengatasi keterbatasan tersebut adalah pembangunan ruang baru yang lebih luas. Namun hingga kini, rencana tersebut masih terkendala anggaran.
“Kalau ada saran dari DPRD untuk perluasan ruangan, kami tentu siap. Yang penting ada dukungan anggaran. Karena untuk mengoperasionalkan mesin tambahan, kami harus bangun ruangan baru,” tegasnya.
Dalam praktiknya, layanan cuci darah di RSUD dr Abdul Rivai juga harus mengatur jadwal pasien secara ketat. Pasien tetap tentunya memiliki jadwal rutin, biasanya dua kali dalam sepekan dengan durasi sekitar lima jam setiap kali terapi.
Selain itu, rumah sakit juga mengakomodasi pasien asal Berau yang menjalani pengobatan di luar daerah melalui skema traveling.
Pasien tersebut dapat menjalani cuci darah sementara di Berau, terutama pada momen tertentu seperti libur Lebaran.
“Kami tetap melayani pasien traveling, biasanya dua kali dalam seminggu. Itu kami atur jadwalnya agar tidak mengganggu pasien tetap,” ujarnya.
Meski diakui layanan ini secara finansial tidak selalu menguntungkan, pihak rumah sakit tetap mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.
“Kalau dipikir dari sisi bisnis mungkin rugi. Tapi kami lebih mementingkan pelayanan. Daripada masyarakat harus ke luar daerah dengan biaya yang lebih besar,” katanya.
Jusram berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas layanan cuci darah di Berau, baik melalui penambahan ruangan maupun anggaran operasional.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa bersama-sama memikirkan solusi, terutama untuk penambahan ruang dan kapasitas layanan cuci darah ke depan,” pungkasnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi