BERAU POST – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau mendorong pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD).
Membantu mengatasi kendala yang dihadapi kelompok tani di Kampung Kayu Indah, Kecamatan Batu Putih, dalam memproduksi pupuk organik cair (POC).
Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin, mengatakan, produksi pupuk organik di kampung tersebut sebenarnya sudah berjalan cukup lama, namun terkendala pada aspek pemasaran dan keterbatasan peralatan.
“Salah satu kendalanya adalah pemasarannya, itu seharusnya perlu dibicarakan kepada Diskoperindag,” terangnya.
Selain pemasaran, Thamrin juga menyoroti perlunya dukungan teknis dari dinas terkait agar proses produksi bisa berjalan lebih efisien.
“Masalah alat itu harus disampaikan ke DPMK, perlu bagaimana mencari solusinya,” ujarnya.
Menurutnya, Diskoperindag dan DPMK memiliki peran penting dalam mendorong keberlanjutan produksi pupuk organik di tingkat kampung.
Ia berharap usulan peralatan yang dibutuhkan kelompok tani dapat diakomodasi melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang).
“Kalau peralatan kan bisa masuk dalam usulan Musrenbang pada saat diusulkan bisa dilakukan,” sambungnya.
Thamrin menilai keberadaan industri kecil seperti produksi POC di Kayu Indah sangat potensial meningkatkan kesejahteraan masyarakat, jika mendapat dukungan memadai dari pemerintah daerah.
“OPD juga harus peka, supaya produksinya bisa lebih baik dan menyejahterakan masyarakat,” pungkasnya.
Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara kelompok tani dengan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) maupun koperasi agar proses pascaproduksi dan distribusi pupuk dapat berjalan lebih luas.
Dengan begitu, produk unggulan dari kampung dapat bersaing dan menjadi sumber ekonomi baru bagi warga Batu Putih.
Sebelumnya, Koordinator Pendamping Sigap Batu Putih, Ricky Sandi Kurniawan, mengatakan bahwa pengembangan Porinka berawal pada 2019 dan terus berkembang hingga kini.
Produk ini merupakan hasil kerja sama antara Pendamping Kampung Sigap, Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD), serta Gapoktan Margo Utomo.
“Kerja sama ini membuat produk makin dikenal dan pesanan dari berbagai daerah terus berdatangan,” terangnya.
Namun menurutnya, saat ini masih terdapat sejumlah kendala yang dihadapi para pengelola, terutama terkait fasilitas produksi.
Ia menjelaskan bahwa gudang penyimpanan belum memenuhi standar, sementara peralatan masih terbatas, sehingga proses pengolahan dilakukan secara manual.
Meski demikian, pendampingan terus dilakukan, baik dalam aspek produksi, pemasaran, hingga pengelolaan media promosi daring.
“Pendampingan juga mencakup pelatihan manajemen dan penyusunan proposal rehab kandang kambing sebagai sumber bahan baku,” ujarnya.
Ricky menambahkan, pemasaran Porinka masih menghadapi kendala izin edar yang saat ini masih dalam proses pengurusan.
Namun, produksi tetap berjalan untuk memenuhi permintaan dari sejumlah pihak, termasuk dari Kampung Pilanjau. (sen/sam)
Editor : Nurismi