TANJUNG REDEB – Lambatnya proses pengerjaan pembangunan Jembatan Sei Satta, Kecamatan Gunung Tabur turut mendapat perhatian dari Ketua Komisi III DPRD Berau, Saga.
Menurut legislator PPP ini, harus menjadi atensi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau. Sebab, keberadaan jembatan tersebut memperdekat jarak menuju wilayah Pesisir Utara.
“Karena kasihan juga masyarakat yang ingin melintas, harus berputar melewati jalan yang lama,” ujarnya kepada Berau Post, Senin (6/2).
Dirinya meminta pembangunan jembatan tersebut bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu. Namun, tetap memperhatikan kualitas pekerjaan.
“Jangan sampai yang seharusnya belum selesai, karena dikejar oleh waktu pengerjaan jadi tidak sesuai spesifikasi. Itu bisa merugikan masyarakat juga nanti,” imbuh dia.
Maka dari itu, dirinya meminta DPUPR bisa terus memantau jalannya pengerjaan jembatan tersebut. Supaya bisa terlaksana dengan baik dan pengerjaan juga dapat dipercepat.
Diwartakan sebelumnya, pembangunan Jembatan Sei Satta masih dalam proses pekerjaan. Padahal sebelumnya ditarget akhir Januari akan selesai.
Dari pantauan awak media ini di lapangan, jembatan tersebut masih belum bisa dilintasi pada Sabtu (3/2) lalu.
Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, Benny Sepriady Panjaitan mengakui pembangunan jembatan tersebut belum rampung. “Ada beberapa bagian yang masih dikerjakan,” terangnya, Senin (5/2).
Adapun, beberapa pekerjaan yang masih dikerjakan adalah pengecoran oprite-jalan penghubung menuju jembatan pada sisi Samburakat atau dari arah kota. Di mana, pengecoran masih terhambat oleh kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pengecoran.
“Jadi yang arah Samburakat itu belum, karena mau ngecor terkendala cuaca hujan beberapa waktu belakangan ini,” ujarnya.
Sebaliknya, pada sisi Sembakungan kondisi oprit sudah siap dan selesai. Kendala yang dialami, dipaparkan Benny memang cuaca yang berlangsung belakangan ini menghambat pelaksanaan proyek. Sehingga hingga kini masih terhambat.
“Jika seminggu ke depan cuaca mendukung, harapan kami bisa selesai pengecoran untuk oprit tersebut,” tuturnya. Selain itu, pekerjaan minor seperti pengecatan jembatan juga terus dikerjakan.
Menurut Benny, dalam dua minggu ke depan pekerjaan bisa rampung jika kondisi cuaca mendukung. “Kalau cuaca mendukung, perkiraan kami 2 minggu bisa selesai. Nanti kendaraan roda 2 bisa melintas,” tuturnya.
Terpisah, salah seorang pengguna jalan, Sumar mengaku agak kesulitan selama pembangunan Jembatan Sei Satta tidak selesai. Sebab, dirinya dalam sepekan bisa melakukan perjalanan ke Tanjung Batu beberapa kali.
Sedangkan, untuk melewati jalur Jalan Nasional atau jalur lama memerlukan waktu lebih lama. “Kita pengennya si cepat selesai, kemarin coba-coba ternyata belum selesai,” terangnya. (aky/arp)
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi