Jaga Masa Depan untuk Anak Cucu, Pama Komitmen Dukung Keberlangsungan Penyu 

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 20:09 WIB
PEDULI LINGKUNGAN: Manajemen Pamapersada Nusantara memberikan bantuan kapal dan bebersih pantai di area konservasi penyu Pulau Sangalaki. (PAMA UNTUK BERAU POST)
PEDULI LINGKUNGAN: Manajemen Pamapersada Nusantara memberikan bantuan kapal dan bebersih pantai di area konservasi penyu Pulau Sangalaki. (PAMA UNTUK BERAU POST)

Pamapersada Nusantara menunjukkan komitmen mereka dalam konservasi penyu di Berau. Tidak sendiri, perusahaan yang bergerak di sektor batu bara ini mengajak puluhan pelajar untuk ikut bergabung. Selain untuk belajar, mereka juga akan membersihkan area pantai di pulau yang terkenal sebagai wadah konservasi penyu.

MAULID HIDAYAT

Puluhan pelajar dari berbagai sekolah menengah atas (SMA) di Bumi Batiwakkal, sejak pagi berkumpul di halaman Dermaga Sanggam, Jalan Milono, Tanjung Redeb.

Rata-rata mereka menggunakan kaca mata hitam, tawa canda bergema di ruangan milik Pemkab Berau tersebut. Empat speed tujuan Pulau Sangalaki, Kecamatan Maratau, sudah melakukan pemanasan mesin.

Jam di tangan menunjukkan pukul 09.00 Wita, satu persatu peserta menuju speed sesuai dengan absensi yang dipegang oleh Frans, selaku menajemen Pamapersada Nusantara.

Satu speed diisi hingga 15 peserta. Satu persatu speed bergerak menuju ke arah Tanjung Batu. Perjalanan cukup panjang. Membutuhkan waktu 2 jam. Akses satu-satunya menuju ke Sangalaki yakni hanya menggunakan jalur laut.

Di speed peserta kebanyakan memilih tidur, ada juga yang mendengarkan musik. Nyaringnya suara mesin speed tidak memungkinkan untuk mengobrol.

Waktu terus berjalan, tidak terasa, hamparan pasir putih dan hembusan angin laut menyambut para rombongan.

Rezeki saat datang air surut, sehingga peserta turun dari speed harus berjalan kaki sejauh 100 meter, menyusuri air laut setinggi lutut orang dewasa untuk bisa sampai ke pulau tersebut. 

Para peserta disambut hangat oleh tim BKSDA Kalimantan Timur, yang memang standby di lokasi. Tidak ada keluhan yang terdengar meskipun terik matahari tepat di atas kepala.

Peserta antusias ingin menyaksikan wadah penyu. Sebagian peserta bahkan mengaku baru pertama kali ke Pulau Sangalaki.

Dewi salah seorang pelajar mengaku, pertama kali melihat secara langsung tukik atau anak penyu. Ia mengatakan, biasa melihat hanya di media sosial. Kesempatan emas ini tidak akan ia sia-siakan. Ia ingin belajar dan ikut melestarikan satwa ikonik Berau itu.

“Pertama kali (kesini,red). Seru banget,” tuturnya.

Para peserta baik dari manajemen perusahaan maupun pelajar di kumpulkan, untuk diberikan arahan oleh Kepala Resor KSDA Pulau Semama dan Pulau Sangalaki, Arsyat Hatta.

Usai mendengar arahan, peserta diperlihatkan, area pengawasan telur penyu yang telah diberi tanda berupaya tiang, bertuliskan tanggal penyu bertelur. Telur penyu membutuhkan waktu sekitar 45 hingga 60 hari (atau hingga 70–80 hari tergantung kondisi) untuk menetas. 

“Kami memastikan jika telur ini aman dari penjarahan,” ucapnya.

Diakuinya, keterbatasan logistik, kondisi laut, serta luas wilayah menjadi tantangan yang harus dihadapi petugas dalam menjaga kawasan tersebut.

Karena itu, bantuan fasilitas dan longboat dari Pama dinilai dapat mendukung mobilitas sekaligus memperkuat pengawasan kawasan konservasi.

“Kerja keras menjaga konservasi ini akan terasa jauh lebih ringan kalau dikerjakan secara bergotong royong,” ucap Arsyat.

Ia pun menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Pama untuk mendukung upaya pelestarian kawasan konservasi Sangalaki dan Semama. 

“Kami menyampaikan banyak terima kasih banyak atas bantuan dan dukungan dari PT Pamapersada Nusantara,” tukasnya.

Komitmen Pamapersada Terhadap Penyu di Berau 

Program tanggung jawab sosial perusahaan itu, diwujudkan melalui pembangunan dan pembenahan sejumlah fasilitas konservasi.

Sekaligus penyerahan satu unit longboat kepada BKSDA Kalimantan Timur, untuk mendukung pengawasan kawasan perairan Sangalaki dan Semama.

Corporate Social Responsibility Section Head Pama, Besten Fiali Sitepu, mengatakan, kepedulian terhadap penyu merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas dan kekayaan alam Kabupaten Berau.

Menurutnya, penyu tidak semestinya hanya dipandang sebagai simbol daerah, tetapi juga sebagai satwa yang keberadaannya harus dilindungi.

“Penyu bukan hanya sebatas logo Kabupaten Berau, tapi juga satwa yang harus dijaga kelestariannya,” ujar Besten.

Melalui Sangalaki Eco Action, Pama membangun hatchery baru sebagai tempat penetasan telur penyu yang lebih aman dari ancaman predator.

Selain itu, dibangun pula bak penampungan tukik serta fasilitas toilet umum untuk menunjang aktivitas petugas maupun pengunjung kawasan konservasi.

Dukungan juga menyasar pengawasan di laut. Satu unit longboat diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, untuk menunjang mobilitas petugas dalam melakukan patroli kawasan.

Besten menyebut, keberadaan manusia menjadi salah satu tantangan dalam upaya perlindungan penyu.

“Ancaman terhadap penyu bukan hanya soal alam. Tapi juga ulah manusia,” katanya.

Program tersebut mendapat apresiasi dari PT Berau Coal selaku pemilik konsesi tempat Pama beroperasi. Corporate Communication PT Berau Coal, Rudhini, mengapresiasi pelaksanaan program yang merupakan inisiatif Pama Pusat tersebut di wilayah Berau

“Ini murni kegiatan Pama. Kami sangat mengapresiasi,” ujarnya.

“Acungan Jempol” dari Pemkab Berau 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, menyampaikan terima kasih atas kepedulian Pama terhadap konservasi penyu di Sangalaki.

Menurut Yudha, salah satu hal penting dalam program tersebut adalah keterlibatan anak-anak sekolah. Mereka tidak hanya dikenalkan dengan penyu melalui cerita, tetapi juga diajak melihat langsung proses konservasi dan kehidupan tukik.

“Harapannya, mereka tumbuh menjadi generasi yang punya kepedulian tinggi. Estafet penjagaan alam Berau ini ada di pundak mereka,” ujarnya. (***)

Editor : Nurismi
konservasi penyu Disbudpar Berau PT Pamapersada Nusantara