BERAU POST - Ketika sebagian peserta pawai budaya masih bersiap di rumah, rombongan kecil dari Kampung Tasuk, Kecamatan Gunung Tabur, sudah lebih dulu menembus gelapnya pagi.
Pukul 04.30 Wita, puluhan siswa Sekolah Dasar Swasta (SDS) Tunas Bangsa 198 berangkat menuju Tanjung Redeb. Jarak yang jauh, medan yang tidak selalu mudah, dan dinginnya pagi tidak menyurutkan langkah mereka. Di dalam bus, seragam drum band sudah rapi terpasang. Ada rasa gugup, tapi lebih banyak semangat.
Hari itu, Sabtu (26/9/2026), mereka menjadi bagian dari Berau Ethno Carnival 2026, rangkaian pawai budaya dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 dan Hari Jadi Kota Tanjung Redeb ke-216.
Bagi SDS Tunas Bangsa 198, sekolah binaan Yayasan Pendidikan Kuala Lumpur Kepong (KLK) Berau yang berada di wilayah operasional perkebunan kelapa sawit, ini bukan sekadar pawai. Ini adalah panggung untuk menunjukkan bahwa semangat kebudayaan juga hidup jauh dari pusat kota.
"Walaupun kami jauh dari kota, kami senang bisa bergabung dengan teman-teman yang lain," ujar Kepala SDS Tunas Bangsa 198, Asrie.
Tabuhan drum band menjadi bahasa mereka. Dentuman bass drum, gemerincing simbal, dan hentakan stik yang kompak mengiringi langkah kecil para siswa menyusuri rute karnaval. Sejumlah lagu bernuansa daerah Berau mereka bawakan, hasil dari latihan yang dilakukan hampir setiap sore di halaman sekolah.
"Kami sangat mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk KLK yang selama ini mendukung keberadaan dan pengembangan sekolah kami. Harapan kami, kegiatan seperti ini terus dikembangkan setiap tahun," jelas Asrie.
Semangat itu tidak datang tiba-tiba. SDS Tunas Bangsa 198 sebelumnya merupakan sekolah filial yang menginduk ke sekolah negeri selama sekitar enam tahun. Dengan dukungan Yayasan KLK, sekolah itu akhirnya berdiri mandiri, menjadi harapan akses pendidikan bagi anak-anak di sekitar kebun.
Keterlibatan mereka di Berau Ethno Carnival berawal dari sebuah undangan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau melihat penampilan drum band saat peresmian sekolah dan mengundang mereka untuk tampil di panggung yang lebih besar.
Undangan itu pun disambut dengan persiapan matang.
Manajer Humas KLK Grup, Joko R Utomo, mengatakan dukungan terhadap keikutsertaan SDS Tunas Bangsa 198 merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terlibat dalam kegiatan daerah.
"Kami mendukung penuh kegiatan-kegiatan di Berau, apalagi ini rangkaian HUT Berau," kata Joko.
Menurutnya, partisipasi sekolah binaan menjadi kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkenalkan keberadaan sekolah kepada masyarakat luas.
"Meski perjalanannya jauh dan medannya agak sulit, kami tetap antusias datang. Ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar percaya diri dan mengenal budaya daerahnya sendiri," ujarnya.
Joko menjelaskan, ekstrakurikuler drum band di SDS Tunas Bangsa 198 tidak hanya melatih keterampilan musik, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kebersamaan.
"Kami tinggal melancarkan dan menyempurnakan lagu-lagu yang akan dibawakan. Yang terpenting anak-anak bisa tampil dan merasakan kebanggaan menjadi bagian dari perayaan Berau," tuturnya.
Di tengah riuhnya Berau Ethno Carnival, penampilan anak-anak dari Tasuk itu menjadi cerita tersendiri. Mereka datang dari kampung yang jauh, menempuh perjalanan berjam-jam, untuk kemudian berdiri sejajar dengan peserta lain dari dalam kota.
Partisipasi itu memperlihatkan bahwa semarak hari jadi bukan hanya milik pusat pemerintahan. Dari ujung kampung perkebunan hingga panggung karnaval, budaya menjadi jembatan yang mempertemukan anak-anak, sekolah, pemerintah, dan dunia usaha. (sos)
Editor : Nurismi