Perusahaan kembali menyerahkan bantuan personel dan logistik kepada Posko Pengendalian Karhutla (Dalkarhutla) Sektor Labanan, KPHP Wilayah Berau Barat.
Dukungan tersebut diberikan di tengah kondisi cuaca yang cukup panas dan meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Selain membantu kebutuhan operasional posko, keterlibatan perusahaan juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan personel di lapangan apabila terjadi titik panas yang membutuhkan penanganan.
Direktur Operasional PT HSB, YP Kurniawan mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaan dalam upaya pengendalian karhutla.
Kegiatan serupa telah dilakukan secara rutin setiap tahun sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga kawasan hutan.
“Kami menyerahkan bantuan personel dan logistik untuk penanganan karhutla,” ujarnya Rabu (12/8).
Selain armada, sebanyak empat personel perusahaan turut dilibatkan. Mereka terdiri dari dua pegawai tetap PT HSB dan dua tenaga outsourcing.
Kurniawan menjelaskan, personel tersebut akan mendukung tim di lapangan, terutama ketika diperlukan penanganan terhadap titik panas maupun kebakaran lahan.
Dukungan juga mencakup kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), konsumsi dan bahan makanan, serta perlengkapan yang menunjang kegiatan pemadaman.
“Empat personel kami ikut membantu di lapangan,” katanya.
Keterlibatan PT HSB dalam pengendalian karhutla juga berkaitan dengan kegiatan pengamanan wilayah hutan. Perusahaan menilai pencegahan dan penanganan kebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem di kawasan yang berada dalam wilayah operasional maupun sekitarnya.
Kurniawan menyebut bantuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Namun, menurutnya, dukungan itu tidak sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian dari komitmen perusahaan terhadap kelestarian hutan.
“Ini merupakan komitmen untuk menjaga ekosistem hutan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi cuaca saat ini perlu mendapat perhatian serius. Cuaca panas dan kondisi lingkungan yang kering dapat meningkatkan risiko munculnya kebakaran, terutama jika aktivitas manusia tidak dilakukan dengan memperhatikan aspek pencegahan.
Karena itu, PT HSB mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Aktivitas tersebut dinilai berisiko memicu api yang sulit dikendalikan apabila kondisi cuaca dan lingkungan mendukung terjadinya kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar,” ujarnya.
Sementara itu, Danru Posko Sektor Labanan, Dwi Susilo menyampaikan apresiasi atas dukungan yang kembali diberikan PT HSB.
Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu operasional petugas dalam menjalankan tugas pengendalian karhutla di wilayah Labanan.
Dwi mengatakan, kebutuhan penanganan karhutla berbeda dengan penanganan kebakaran di kawasan permukiman.
Sementara personel Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) lebih banyak memiliki tugas utama menangani kebakaran permukiman, penanganan kebakaran lahan membutuhkan dukungan sumber daya tambahan.
“Disdamkar lebih banyak menangani pemadaman di permukiman,” jelasnya.
Karena itu, keterlibatan perusahaan yang memiliki wilayah kerja maupun lahan di sekitar kawasan rawan kebakaran dinilai penting. Dukungan tersebut dapat berupa personel, kendaraan, BBM, konsumsi maupun peralatan pemadaman.
Menurut Dwi, keterbatasan anggaran juga menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan kegiatan pengendalian karhutla.
Kondisi tersebut membuat posko membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar penanganan di lapangan dapat berjalan maksimal.
“Kami masih mengalami keterbatasan anggaran,” ungkapnya.
Selama ini, PT HSB disebut menjadi salah satu perusahaan yang konsisten memberikan dukungan kepada Posko Sektor Labanan.
Bantuan tidak hanya diberikan dalam bentuk kebutuhan operasional, tetapi juga berupa personel yang ikut terlibat dalam kegiatan pemadaman bersama petugas dan relawan.
Dwi menyebut dukungan tersebut membantu memperkuat tim ketika harus melakukan penanganan kebakaran di lapangan.
Kehadiran personel tambahan juga memungkinkan pembagian tugas dilakukan lebih baik, terutama ketika kondisi kebakaran membutuhkan penanganan secara cepat.
“HSB setiap tahun membantu kami di sini,” katanya.
Di sisi lain, Dwi mengungkapkan kondisi sumber daya manusia di lapangan masih menjadi persoalan. Dalam pelaksanaan pengendalian karhutla, pihaknya tidak hanya mengandalkan petugas pemadam, tetapi juga mendapat dukungan dari masyarakat dan relawan.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat selama ini menjadi bagian penting dalam membantu proses penanganan kebakaran lahan.
Relawan turut membantu petugas ketika diperlukan, termasuk dalam kegiatan pemadaman dan dukungan di lapangan. “Selain petugas, kami banyak dibantu relawan,” ujarnya.
Karena itu, Dwi berharap dukungan dari perusahaan lain maupun pemilik lahan di wilayah sekitar dapat semakin diperkuat.
Setiap perusahaan diharapkan dapat berkontribusi dalam pengendalian kebakaran di wilayah masing-masing sehingga koordinasi dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika muncul titik panas.
“Kalau perusahaan lain ikut membantu, penanganan akan lebih optimal,” pungkasnya.(sen/***/arp)
Editor : Nurismi