Berawal dari Modal Rp 500 Ribu, Batik Mosho Jadi Kebanggaan Berau Berkat Pendampingan Berau Coal

Nurismi • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:25 WIB
USAHA RUMAHAN: Batik Mosho berkembang dari usaha rumahan bermodal minim hingga menjadi produk unggulan yang mampu menembus pasar lebih luas. (PT BERAU COAL UNTUK BP)
USAHA RUMAHAN: Batik Mosho berkembang dari usaha rumahan bermodal minim hingga menjadi produk unggulan yang mampu menembus pasar lebih luas. (PT BERAU COAL UNTUK BP)

BERAU POST – Komitmen PT Berau Coal dalam mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Berau terus membuahkan hasil nyata.

Melalui program pendampingan yang berkelanjutan, perusahaan berhasil mengantarkan Batik Mosho, salah satu UMKM batik khas Berau, berkembang dari usaha rumahan bermodal minim hingga menjadi produk unggulan yang mampu menembus pasar lebih luas dan menciptakan lapangan kerja baru.

Pemilik Batik Mosho, Muhammad Shodiq mengisahkan perjalanan usahanya yang dimulai pada 2018. Saat itu, ia memberanikan diri merintis usaha batik setelah berhasil meraih Juara II dalam Lomba Cipta Motif Batik Kabupaten Berau.

Berbekal ilmu yang diperolehnya saat menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung, Shodiq memulai usahanya hanya dengan modal sekitar Rp500 ribu serta peralatan sederhana. 

Dari tangan kreatifnya lahirlah berbagai motif batik khas Berau, salah satunya Penyu Pandurata, yang memadukan ikon penyu sebagai identitas Kabupaten Berau dengan anggrek hitam atau Pandurata yang menjadi flora khas Kalimantan Timur.

Perjalanan Batik Mosho kemudian memasuki babak baru pada 2021 ketika PT Berau Coal mulai memberikan pendampingan melalui program pengembangan UMKM.

Pendampingan diawali dengan pemetaan kebutuhan usaha, kemudian dilanjutkan dengan bantuan sarana produksi berupa alat cap batik dan bak pencelupan kain. 

Dukungan tersebut terbukti mampu meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan. Proses pembuatan batik menjadi lebih cepat, efisien, dan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah.

Tak hanya membantu dari sisi produksi, PT Berau Coal juga membuka akses pemasaran yang lebih luas. Batik Mosho difasilitasi memasarkan produknya melalui Rumah Kemas Batiwakkal serta rutin diikutsertakan dalam berbagai pameran dan promosi produk lokal. 

“Kami juga sering diberi kesempatan mengikuti pameran sebagai salah satu cara mengenalkan batik khas Berau kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Shodiq.

Pendampingan tersebut tidak berhenti pada pengembangan usaha semata. Bersama Shodiq sebagai mitra pelatih, PT Berau Coal juga mengembangkan program pelatihan membatik di berbagai kampung binaan perusahaan. 

Hingga kini, pelatihan telah dilaksanakan di sedikitnya 10 kampung, di antaranya Gunung Panjang, Rinding, Teluk Bayur, Maluang, Labanan Jaya, dan Labanan Makarti.

Program tersebut bertujuan mencetak pembatik-pembatik baru sekaligus melestarikan batik khas Berau sebagai bagian dari identitas budaya daerah. 

Hasilnya pun mulai terlihat. Saat ini Batik Mosho mempekerjakan lima karyawan tetap serta hingga 25 tenaga kerja borongan ketika permintaan meningkat.

Menariknya, sebagian besar tenaga kerja tersebut merupakan lulusan pelatihan membatik yang diselenggarakan di kampung-kampung binaan PT Berau Coal.

Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan menegaskan, perusahaan berkomitmen mendampingi UMKM lokal agar mampu tumbuh secara berkelanjutan dan memiliki daya saing. 

“Karena itu, pendampingan yang kami berikan tidak hanya berupa bantuan sarana, tetapi juga pelatihan, promosi, dan membuka peluang agar produknya semakin dikenal,” ungkapnya.

Keberhasilan tersebut turut dibuktikan melalui berbagai prestasi yang berhasil diraih Batik Mosho. Pada 2021, UMKM ini sukses meraih Juara I Dekranasda Kalimantan Timur Award, kemudian Juara III pada 2022, dan hingga 2024 secara konsisten menjadi salah satu peraih penghargaan dalam ajang tersebut. 

Sementara pada 2025, Batik Mosho kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara I Kategori Fashion pada ajang Tjipta UMKM.

Dari sisi bisnis, perkembangan Batik Mosho juga semakin menjanjikan. Saat ini usaha tersebut mampu mencatat omzet berkisar Rp 30 juta hingga Rp60 juta setiap bulan dengan kebutuhan modal produksi sekitar Rp 15 juta per bulan.

Shodiq mengakui capaian tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, khususnya Pemerintah Kabupaten Berau dan PT Berau Coal yang terus mendampingi sejak awal usaha dirintis. 

“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung UMKM untuk terus berkembang, terutama kepada PT Berau Coal yang telah mendampingi kami sejak awal merintis usaha hingga batik kami semakin dikenal,” ungkapnya. 

“Harapan kami, pendampingan ini terus berlanjut agar Batik Mosho bisa terus naik kelas dan semakin banyak masyarakat yang bangga menggunakan batik khas Berau,” tutupnya.(aky/sos/arp) 

Editor : Nurismi
batik mosho PT Berau Coal