BERAU POST – Di tengah potensi kakao yang berkembang di Kampung Labanan Makarti, Kecamatan Teluk Bayur, seorang pemuda bernama Dhea Nurwana Solihin berhasil mengubah komoditas lokal tersebut menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kelompok usaha Kulanta, ia memberdayakan belasan ibu rumah tangga untuk mengolah kakao menjadi produk bernilai tambah.
Perjalanan Dhea dimulai pada tahun 2019 saat bergabung dalam Program Pejuang Sigap Sejahtera. Kala itu, Kampung Labanan Makarti tengah mengembangkan sektor agribisnis kakao dengan dukungan bibit dari Pemerintah Kabupaten Berau.
Melihat potensi tersebut, Dhea berinisiatif mengembangkan pengolahan kakao agar mampu menciptakan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih.
Berangkat dari ide tersebut, Dhea mengajak para perempuan di desanya untuk berdaya melalui pengembangan produk turunan cokelat.
Hingga lahirlah kelompok usaha Kulanta sebagai ruang bagi ibu rumah tangga untuk belajar dan mengembangkan keterampilan mengolah kakao. Kini Kulanta memberdayakan 15 perempuan yang merupakan perwakilan dari setiap RT di Labanan Makarti.
“Kenapa perempuan? Karena saya melihat keterlibatan kegiatan di kampung masih banyak didominasi laki-laki. Saya ingin ibu-ibu juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Dari situ akhirnya terbentuk Kulanta,” ungkapnya.
Perjalanan Kulanta kemudian mendapat dukungan dari PT Berau Coal sejak akhir tahun 2022 melalui program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Dukungan tersebut meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana produksi, perbaikan kemasan, studi banding ke Bali dan Yogyakarta, hingga pendampingan pemasaran melalui Rumah Kemas Batiwakkal.
“Peningkatan kapasitas dari Berau Coal hampir setiap tahun kami dapatkan, kami juga diberikan kesempatan melakukan studi banding ke Bali dan Yogyakarta untuk belajar tentang pengembangan usaha dan strategi pemasaran produk,” ujar Dhea.
Perjalanan usaha Kulanta tidak selalu mudah. Pada awal berdiri, omzet penjualan hanya berkisar Rp 1 juta per bulan dan sempat bertahan di angka Rp 3 juta selama enam bulan pertama.
Namun, berkat peningkatan kualitas produk dan pemasaran yang semakin luas, produk Kulanta kini telah masuk ke berbagai kanal penjualan, seperti minimarket, hotel, dan platform daring.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada PT Berau Coal, karena telah mendampingi perjalanan Kulanta sampai pada tahap ini,” ungkapnya.
Produk mereka juga telah tampil dalam berbagai pameran, termasuk Trade Expo Indonesia di Jakarta. Salah satu penghargaan yang Kulanta peroleh adalah Tjipta UMKM Awards Kategori Outstanding UMKM.
“Setelah mendapatkan pendampingan dari Berau Coal, terutama dalam perbaikan kemasan dan pemasaran, pasar kami semakin luas. Saat ini pendapatan dalam satu tahun hampir mencapai Rp 150 juta,” kenang Dhea.
Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan mengatakan, pendampingan kepada Kulanta merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung program Pemerintah Kabupaten Berau untuk mendorong UMKM yang mandiri dan berdaya saing.
“Kisah mas Dhea dan Cokelat Kulanta menunjukkan bahwa dengan semangat, inovasi, dan pendampingan yang tepat, potensi lokal seperti kakao dap8at berkembang menjadi usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Reza.
Menurutnya, perusahaan tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga pendampingan kelompok usaha dalam mendapatkan penguatan kapasitas agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Kami berharap Kulanta dapat menjadi inspirasi bagi kelompok usaha lainnya bahwa produk lokal memiliki peluang besar untuk berkembang dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” tuturnya.
“Kolaborasi antara swasta dengan pemerintah dan masyarakat mendorong terciptanya UMKM yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan,” tutupnya. (sen/***/arp)
Editor : Nurismi