Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dari Berau Coal Run ke Tokyo Marathon, Jejak Lari Marcel Menginspirasi

Beraupost • Jumat, 20 Februari 2026 | 09:15 WIB

 

TERUS BERLARI: Heribertus Marcel Ericsson saat mengikuti Siaga Run (2023) (kiri) lalu mampu mengikuti Tokyo Marathon (tengah) dan dipercayakan menjadi pacer pada event Berau Coal Run (kanan). (IST)
TERUS BERLARI: Heribertus Marcel Ericsson saat mengikuti Siaga Run (2023) (kiri) lalu mampu mengikuti Tokyo Marathon (tengah) dan dipercayakan menjadi pacer pada event Berau Coal Run (kanan). (IST)

BERAU POST - Tiga tahun lalu, Heribertus Marcel Ericsson berdiri di garis start dengan sepatu seadanya. Tak ada jersey khusus lari, tak ada jam pintar, bahkan ia mengaku belum benar-benar memahami teknik berlari yang tepat. Yang ia punya hanya keberanian mendaftar dan rasa ingin tahu.

Kini, pria kelahiran 2000 itu berdiri di barisan yang sama, tapi bukan lagi sebagai peserta biasa, melainkan sebagai pacer kategori 10 kilometer dengan target waktu 65 menit pada ajang Berau Coal Run 2026, 14 Februari lalu.

“Saya sempat kaget juga. Tiga tahun lalu cuma peserta 5K, sekarang dipercaya menjadi pacer 10K. Itu sebuah kehormatan bagi saya,” ujarnya.

Marcel, sapaan akrabnya, merupakan ASN yang bertugas di Kabupaten Berau. Pria 25 tahun asal Tangerang Selatan ini mengaku, lari sebenarnya sudah dikenalnya sejak masa kuliah sekitar tahun 2020. Namun, saat itu hanya sekadar berkeliling di kompleks atau taman dekat rumah.

“Saat kuliah cuma lari-lari kecil saja, belum serius. Baru benar-benar suka lari setelah kerja. Karena ingin mencari kesibukan selain kerja,” katanya.

Pada Februari 2023, momen itulah yang kemudian menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidupnya.

Hanya berselang satu minggu setelah resmi ditempatkan untuk bekerja di Bumi Batiwakkal, ia mendapat informasi mengenai ajang Berau Coal Run yang saat itu masih bernama “Siaga Run” yang diselenggarakan oleh PT Berau Coal.

Tanpa persiapan yang matang dan dengan waktu yang sangat terbatas, ia memberanikan diri untuk mendaftar, sebuah keputusan spontan yang kelak membawa perubahan besar dalam hidupnya.

“Bahkan waktu itu saya tidak punya sepatu lari, pakaian juga seadanya. Modal nekat saja,” kenangnya.

Ia mengira lomba tersebut akan biasa saja. Ternyata, antusiasme masyarakat Berau begitu tinggi.

Dari mengikuti event lari Berau Coal tersebut, Marcel mulai mengenal dan mengikuti komunitas lari, hal itu membuka banyak pintu bagi Marcel dan membuka pengetahuan mengenai lari.

Diungkapnya, ia sempat mengikuti empat ajang lari maraton mulai dari nasional hingga internasional. Seperti di Borobudur, Bali, Kuala Lumpur Malaysia, dan Tokyo. Untuk kategori fun run, ia mengaku sudah tak terhitung lagi berapa kali ikut.

Diceritakan, pengalaman bersama komunitas memberi warna berbeda. Pada 2024, setelah mengikuti event maraton di Kuala Lumpur bersama rekan-rekan komunitas larinya Berau Runners. Dari sana, muncul keberanian mendaftar Tokyo Marathon.

Untuk mengikuti Tokyo Marathon, ada dua jalur umum melalui charity dengan donasi amal dengan nominal yang cukup besar atau melalui undian (ballot). Marcel sendiri memilih jalur undian (ballot).

“Belum tentu pelari hebat bisa lolos ballot. Alhamdulillah ketika saya daftar dan keterima,” katanya.

Maret 2025, ia resmi menuntaskan Tokyo Marathon sejauh 42 kilometer dengan catatan waktu 3 jam 52 menit. Ia berangkat sendiri dari Berau.

Kini Ia rutin menjalani latihan disiplin setiap hari, bangun pukul 05.00 untuk berlari sebelum bekerja.

Pengalaman di Tokyo menjadi salah satu bekal penting. Tak lama setelah itu, ia mendapat kepercayaan menjadi pacer di Berau Coal Run 2026 kategori 10K dengan target 65 menit.

Menjadi pacer bukan sekadar kuat berlari. Ada kriteria tertentu. Seorang pacer harus mampu menjaga tempo stabil sesuai target waktu, memberi semangat kepada peserta, sekaligus memastikan finis tepat waktu.

“Kalau pacer 65 menit, artinya harus konsisten di pace yang sudah dihitung supaya peserta bisa selesai di 65 menit,” jelasnya.

Marcel mengaku, peningkatan kemampuannya cukup signifikan. Pada saat Siaga Run 2023 lalu, pace larinya berada di angka 7 menit per kilometer.

Kini, ia mampu stabil di pace 5 menit per kilometer berkat latihan konsisten dan istirahat yang cukup.

“Semua tidak harus dimulai dari yang bagus. Dulu saya pakai baju pembagian event dan sepatu bukan khusus lari. Tapi kalau berada di lingkungan yang tepat, mimpi itu bisa dicapai,” ujarnya.

Kepercayaan sebagai pacer di kategori 10 kilometer itu pula yang membuatnya melihat jalannya lomba dari sudut pandang berbeda.

Bukan hanya sebagai peserta yang berlari mengejar garis finis, tetapi bagian dari tim yang memastikan ritme dan pengalaman pelari lain tetap terjaga.

Pemuda yang juga memiliki hobi membaca itu, cukup kagum dengan event lari tahunan PT Berau Coal tersebut.

Ia menilai penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, baik dari sisi manajemen lomba, penataan rute, kesiapan panitia, hingga konsep acara secara keseluruhan. Itu jika dibandingkan dengan sejumlah ajang lari di luar kota yang pernah ia ikuti sebelumnya.

“Mulai dari setting, panitia, sistem pacer, sampai adanya guest star, sudah sangat mirip event di luar. Menurut saya ini race terbaik di Berau,” katanya.

Antusiasme peserta pun dinilainya luar biasa. Ia berharap ke depan kategori lomba bisa ditambah agar lebih banyak pelari yang terakomodasi.

“Pesertanya sangat banyak hingga mencapai 3.700 orang, bahkan banyak yang masih mau daftar. Tinggal bagaimana ke depan PT Berau Coal bisa menampung antusias masyarakat tersebut,” tambahnya.

Tak berhenti di 10K dan maraton 42K, Marcel sudah menyiapkan tantangan berikutnya. Mei mendatang, ia berencana mengikuti ultra maraton 120 kilometer di Tangerang dengan target finish selama 16 jam.

Latihannya tentu lebih berat. Namun ia tetap memegang prinsip yang sama, disiplin dan konsisten.

Kepada para pelari pemula, ia berpesan agar tidak mudah menyerah, terutama di fase-fase awal yang kerap terasa paling berat dan melelahkan.

“Awal pasti tidak mudah. Tapi kalau punya disiplin dan keberanian, bukan cuma di lari, di hal lain juga bisa tercapai,” tuturnya.

Berawal dari sepatu seadanya, perjalanan Heribertus Marcel Ericsson menjadi pengingat bahwa setiap garis start selalu menyimpan harapan dan kemungkinan.

Bukan tentang seberapa sempurna persiapannya, melainkan tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama, karena dari sanalah cerita besar sering kali dimulai. (aja/adv)

Editor : Nurismi
#pacer #Berau Coal Run 2026