Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

ALFI/ILFA Kaltimtara Gelar Rapimwil: 'Sinergi, Kolaborasi dan Inovasi Penguatan Potensi Daerah dalam Meningkatkan Kerja Logistik’

Beraupost • Kamis, 22 Januari 2026 | 16:40 WIB
KOLABORASI: Pengurus DPW ALFI/ILFA foto bersama dengan stekholder di sela Rapimwil. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)
KOLABORASI: Pengurus DPW ALFI/ILFA foto bersama dengan stekholder di sela Rapimwil. (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)

BERAU POST - Tantangan industri logistik nasional memasuki fase yang semakin kompleks pada 2026.

Ketegangan geopolitik global yang terus meningkat, ditambah dampak lanjutan perang dagang antarnegara besar, menjadi ujian serius bagi rantai pasok dunia, termasuk Indonesia.

Di tengah situasi tersebut, Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia/Indonesian Logistics and Forwarders Association (DPW ALFI/ILFA) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara) memperkuat konsolidasi internal melalui Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) yang digelar di Kabupaten Berau, Rabu (21/1).

Rapimwil ini menjadi momentum strategis bagi pelaku logistik di kawasan timur Indonesia untuk menyamakan persepsi, merumuskan langkah bersama, sekaligus membaca arah perubahan industri logistik global dan nasional.

Acara tersebut dihadiri jajaran pengurus ALFI/ILFA, pelaku usaha logistik, serta pemangku kepentingan daerah.

Wakil Ketua Umum DPP ALFI/ILFA, Rifka Hidayat, dalam sambutannya menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang sangat strategis justru membawa tantangan tersendiri.

Indonesia dilalui oleh tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi jalur vital perdagangan internasional.

Ketika konflik global meluas baik di Timur Tengah, Eropa, maupun kawasan Asia, dampaknya secara langsung memengaruhi arus logistik yang melewati perairan Indonesia.

“Posisi strategis ini ibarat dua mata pisau. Di satu sisi memberi peluang besar, namun di sisi lain menghadirkan tantangan serius ketika situasi global tidak stabil. Konflik dan perang dagang berdampak pada biaya logistik, waktu pengiriman, hingga kepastian usaha,” ujar Rifka.

Ia menambahkan, di tengah target pemerintah untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, sektor logistik dituntut tampil sebagai penopang utama. Namun, upaya tersebut tidak dapat berjalan sendiri.

Diperlukan sinergi kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan asosiasi, serta keberanian melakukan inovasi agar industri logistik tetap adaptif dan tangguh.

“ALFI harus menjadi bagian dari solusi. Industri logistik tidak boleh hanya bertahan, tapi juga harus mampu bertransformasi menghadapi ketidakpastian global,” tegasnya.

Sementara itu, dari perspektif daerah, Ketua DPW ALFI/ILFA Kaltimtara, Muhammad Gobel, mengulas perjalanan panjang dan dinamika perkembangan logistik di wilayahnya.

Ia mengenang masa awal tahun 2000-an, ketika distribusi barang ke Berau dan wilayah sekitarnya masih sangat bergantung pada kapal kayu, dengan waktu tempuh yang bisa mencapai berminggu-minggu.

“Kondisinya jauh. berbeda dengan sekarang. Infrastruktur, konektivitas, dan moda transportasi telah berkembang pesat. Ini tentu kemajuan besar,” ungkap Gobel.

Namun demikian, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Persaingan usaha yang semakin ketat, tuntutan efisiensi biaya, serta praktik perang tarif menjadi persoalan serius yang harus dihadapi bersama.

Gobel menekankan pentingnya peran asosiasi sebagai penyeimbang dan pengawal iklim usaha yang sehat.

“ALFI hadir untuk memastikan arus barang tetap lancar dan stabil, sekaligus menekan persaingan tidak sehat yang justru merugikan pelaku usaha sendiri. Prinsipnya jelas, ALFI tidak boleh melanggar prosedur. Semua harus berjalan sesuai regulasi yang berlaku,” tegasnya.

Menurut Gobel, kepatuhan terhadap aturan bukan hanya kewajiban, tetapi juga fondasi utama untuk membangun kepercayaan dan keberlanjutan industri logistik di daerah.

“Hal seperti ini yang patut diperhatikan untuk asosiasi, karena semuanya harus berjalan bersama-sama,” tutupnya.

Pesan senada disampaikan Ketua Umum DPP ALFI/ILFA Akbar Johan, yang hadir secara virtual.

Ia mengingatkan bahwa tahun 2026 menuntut perubahan cara berpikir dan strategi bisnis yang lebih adaptif.

Efisiensi, digitalisasi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kata kunci agar pelaku usaha logistik mampu bertahan sekaligus menangkap peluang di tengah dinamika ekonomi global yang semakin rumit.

“Efisiensi bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dunia usaha harus siap beradaptasi dengan perubahan yang cepat dan penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Melalui Rapimwil ini, DPW ALFI/ILFA Kaltimtara menegaskan komitmennya untuk menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Dengan mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi, transparansi, serta inovasi berkelanjutan, ALFI/ILFA optimistis mampu memperkuat peran sektor logistik sebagai tulang punggung perdagangan dan pembangunan daerah, sekaligus menghadapi tantangan global yang kian dinamis (aky/sam)

Editor : Nurismi
#industri logistik #logistik global