TANJUNG REDEB – Petambak udang yang berada di Kampung Pegat Batumbuk, Kecamatan Pulau Derawan kembali memanen udang windu. Dengan program Shrimp Carbon Aquaculture (Secure), produktivitas dapat meningkat hingga 300 persen dalam satu siklus.
Petambak tersebut didukung oleh program Masyarakat Sahabat Tambak Indonesia (MESTI) atau mangrove sahabat tambak lestari dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), yang telah mendapat investasi dari perusahaan Chevron.
Panen raya tersebut disaksikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Jaka Siswanta didampingi perwakilan YKAN, Pact, dan Chevron pada Rabu (21/8).
Jaka Siswanta mengatakan, Berau memiliki ekosistem mangrove terbesar di Kalimantan Timur, yakni sekitar 88.000 hektar. Disayangkan, banyak kawasan mangrove yang beralih fungsi, salah satunya menjadi tambak udang.
Karena praktik tambak udang yang sebelumnya menurunkan kualitas air, akibatnya hasil panen ikut turun. Hal itu menyebabkan petambak udang membuka lahan lebih luas lagi.
“Pemerintahan mendukung program MESTI untuk memulihkan ekosistem mangrove tanpa mengganggu mata pencaharian petambak udang,” terangnya.
Petambak udang di Pegat Batumbuk telah membuktikan bahwa budi daya udang yang ramah lingkungan itu sangat mungkin dilakukan. Diharapkan semakin banyak petambak udang di daerah lain dapat mengadopsi praktik budidaya berkelanjutan seperti ini.
Program tersebut tidak hanya merestorasi ekosistem mangrove, tapi juga membantu menjaga keberlanjutan dan peningkatan produksi perikanan yang berdampak pada peningkatan pendapatan bagi para penambak.
“Kami berharap kemitraan ini bisa mendukung program pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Berau, khususnya di sektor kelautan dan perikanan,” ucapnya.
Direkrut pengembangan dan pemasaran YKAN, Ratih Loekito menjelaskan, sebanyak 11 petambak udang yang ada di Pegat Batumbuk telah berhasil mempraktikkan budidaya udang tradisional ramah lingkungan yang dikembangkan oleh YKAN dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Model baru budidaya perairan berkelanjutan ini bertujuan menghasilkan produktivitas yang sama di lahan tambak seluas 2 hektare (Ha), seperti yang dihasilkan di lahan tambak seluas 10 ha tambak udang yang luas,” urainya.
Manajer Senior Ketahanan Pesisir YKAN, Mariski Nirwan menambahkan, ada 22 tambak udang yang didukung oleh YKAN di Pegat Batumbuk, Tabalar dan Suaran.
Sementara, tambak yang baru saja panen raya sudah masuk ke siklus ketiga dari budidaya.
Pihaknya berupaya menstabilkan produktivitas tambak udang, dengan luasan tambak budidaya yang diperkecil.
“Sebelumnya petambak, hanya panen udang windu saja. Tapi dengan program Secure ada diversifikasi hasil, berupa kepiting, bandeng, dan jenis udang lainnya. Ini sangat penting, ketika harga udang turun, diversifikasi cukup membantu pendapatan petani,” jelasnya.
Banyak perbaikan proses budidaya yang dilakukan di tambak yang lebih kecil, sedangkan restorasi ini sistem penunjang lingkungan untuk tambak dipetak restorasi mangrove. Bagi tambak yang sudah hilang mangrovenya, akan dibuat restorasi secara ekologis supaya mangrove bisa tumbuh kembali.
“Mangrove tersebut bisa stabil pada 3-5 tahun ke depan. Seberapa banyak tutupan lahan dan kestabilan itulah yang dihitung untuk penyimpanan karbonnya,” katanya.
Dari banyaknya tambak, ada 4 tambak yang baru bisa dihitung produktivitasnya lantaran sudah rutin menjual ke pengepul. Bahkan, kenaikan hasil panen bisa mencapai 300 persen. Sedangkan beberapa petambak lainnya baru mulai bergabung, dan ada juga yang baru panen satu kali.
“Karena program kami ini merubah desain tambak jadi ada konstruksi tambak. Lokasinya yang jauh membuat pekerjaan itu tidak mudah dilakukan,” bebernya.
Salah seorang petambak udang, Abdurahman membenarkan, bahwa ada peningkatan hasil produksi udang pada tambak miliknya. Pada saat awal bergabung, hasil panen yang didapatkan hanya sekitar 3,5 kilogram (Kg). Secara bertahap, meningkat menjadi 9 kg, kemudian kg dan terakhir pada masa panen raya ini mencapai 50 kg.
“Siklus panen juga menjadi lebih cepat. Dulu 3 atau 4 bulan sekali panen, sekarang bisa 2 bulan sekali panen. Selain itu, kami juga mendapat panen lain yaitu bandeng dan kepiting yang jumlahnya juga terus meningkat,” katanya. (*/aja/s/arp)