TANJUNG REDEB – Perumda Air Minum Batiwakkal mengadakan workshop manajemen risiko untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Serta memperkaya wawasan dan pengetahuan terkait manajemen risiko, Senin (22/7).
Pembukaan workshop manajemen risiko itu dihadiri Kepala BPKP Kaltim, Felix Koni Darjoko, Plt Asisten II Setkab Berau, Mustakim, Kabag Ekonomi Kamarudin, serta Direktur Bhakti Praja, Sultan.
Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman menyampaikan, workshop tersebut dilakukan untuk membangun sistem yang disadarinya sangat penting, untuk keberlangsungan air bersih di Kabupaten Berau.
“Sehingga semua yang kami lakukan sudah tersistem dan berbasis risiko. Apapun tindakan yang dilakukan sudah ada identifikasi risikonya,” ungkapnya.
Dicontohkannya, jika terjadi kebocoran atau keluhan air keruh, pihaknya bisa dengan sigap bisa melakukan solusi atau antisipasi yang sebelumnya sudah disusun dalam manajemen risiko. Manajemen tersebut akan dituangkan dalam bentuk sistem operasional.
“Ketika kami menghadapi hal-hal itu, maka kami sudah siap dengan antisipasinya masing-masing. Sehingga kami tidak bingung lagi menghadapi situasi atau kemungkinan buruk,” paparnya.
Jika sudah dilakukan manajemen risiko, nantinya akan berjalan dengan sendirinya. Pihaknya tinggal mengawal saja supaya bisa berjalan lancar.
Apalagi, Perumda Batiwakkal juga telah menggerakkan evaluasi kinerja perusahaan berbasis kinerja pribadi. Supaya karyawan konsisten menjalankan SOP, pihaknya menghubungkan kinerja karyawan dengan tunjangan kinerja.
“Ini salah satu inovasi kita dan itu kita lakukan dengan membuat SOP terkait kinerja masing-masing pegawai agar kinerja perusahaan meningkat,” tuturnya.
Dibeberkannya, dalam workshop tersebut juga diserahkan buku kinerja 2023. Di mana di antara PDAM se-Kaltim, Berau memiliki evaluasi kinerja terbaik dengan 3,95 poin. Itu menunjukkan konsistensi karyawan Perumda Batiwakkal selama ini dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat atau pelanggan.
Hal itu juga bisa dilihat dari pendapatan Perumda Batiwakkal yang terus meningkat setelah tahun 2019 hingga 2024 ini. Indikator lain juga dapat dilihat dari jumlah sambungan rumah (SR) yang meningkat. Secara menyeluruh juga ada mekanisme audit dari BPKP yang meningkat.
“Yang paling jelas terlihat, manfaat manajemen risiko bisa berimbas dari tiga hal tadi,” pungkasnya. (*/aja/sos/arp)
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi