TANJUNG REDEB - Tak banyak yang mengenal Kampung Rantau Panjang di Kecamatan Sambaliung. Perkampungan yang masih berada di sekitaran perkotaan itu, jaraknya kira-kira 45 menit dari pusat Kabupaten Berau, Tanjung Redeb.
Namun di sana menjadi tempat menetap pria bernama Saenuddin beserta keluarga. Saenuddin merupakan petani cokelat mandiri, menetap di sebuah rumah yang nyaman, dan memiliki lahan cokelat sekitar 5.000 meter persegi, atau setengah hektare.
Sehari-harinya, dia menjaga tanaman cokelatnya tetap hidup, menghasilkan buah yang baik, dan menguntungkannya. Dalam kesempatan khusus, Berau Post berkesempatan mengunjungi pria ramah itu. Pada Jumat (17/7) sekira pukul 10.00 Wita, rombongan tiba di kediaman Saenuddin, Gang Kakao, Rantau Panjang, Sambaliung. Dari pekarangan rumahnya, orang awam akan mengira Saenuddin adalah penjual bibit pohon, namun ketika diperhatikan secara seksama, di belakang rumahnya terhampar ratusan pohon cokelat yang luas.
Saenuddin bercerita, lahan cokelat yang rimbun itu ia mulai tanam sejak 2018, hampir enam tahun yang lalu.
Awalnya, lahan yang terlihat rimbun dengan pohon-pohon cokelat jenis Hibrida 2 asal Sulawesi itu hanyalah lahan tidur. Kini lahan itu berubah jadi pundi-pundi rupiah yang menguntungkan.
“Semangat kita menanam ini harus ada, dahulu lahan kosong kita mau menanamnya kok. Sekarang sudah berbuah dan menghasilkan, harusnya lebih semangat lagi merawatnya, karena sudah memberi penghasilan,” ujarnya di sela-sela kunjungan ke kebunnya, Jumat (17/7).
Saenuddin sendiri bukan orang yang baru terjun di dunia cokelat ini. Ia bertutur, sejak 2002 ia telah menjajaki usaha cokelat ini. Dalam perjalanannya berkebun kakao pada tahun 2018, ia terus mengasah keahliannya melalui pendampingan PT Berau Coal. “Saya mengenal cokelat ini sudah sejak 2002, hingga saat ini,” ungkapnya menegaskan.
Di kesempatan itu, Saenuddin tidak lupa membagikan pengetahuan, bahkan mempraktikkan langsung cara merawat cokelat berdasarkan pengalaman dan pendampingan yang ia terima. Mulai dari proses penanaman, hingga beberapa proses khusus yang perlu perhatian. Misalnya proses Pruning, yaitu proses memangkas daun atau batang pohon yang tidak perlu.
“Jangan terlalu banyak, kira-kira cahaya masuk itu cukup. Kebanyakan bisa menyebabkan buah muda mati kering,” ungkapnya.
Saenuddin mengatakan, selama menggeluti dunia cokelat dari dulu hingga sekarang terdapat satu perbedaan yang paling ia rasakan, yaitu penanganan pasca panen untuk menjual cokelat itu sendiri. Melalui Berau Cocoa, Saenuddin mengaku sangat merasa terbantu.
"Berau Cocoa ini tidak hanya menerima jual saja, tapi pendampingan dan pembinaannya tidak putus. Kita petani tentu juga perlu hal seperti itu,” ujarnya.
Pendampingan yang diterima Saenuddin baik melalui Berau Cocoa ataupun PT Berau Coal katanya sangat membantu dia bertahan dalam menjalani usahanya.
Dirinya pun berterima kasih dengan PT Berau Coal dan Berau Cocoa yang setia mendampingi dirinya selama ini.
Menurutnya, atas pendampingan tersebut, perusahaan dapat mengatasi masalah bagi petani seperti dirinya yang selama ini kesulitan mencari pasar. Jika kesulitan mencari pasar, maka produk pertanian pun akan menurun dan juga harganya bisa turun.
“Saya sangat terasa terbantu, terima kasih Berau Cocoa dan PT Berau Coal atas pendampingan yang diberikan dan juga dukungan dalam membuka akses pasar bagi petani,” pungkasnya.
Terpisah, Coordinator of Community Enterprise Development Dept PT Berau Coal, Yandi Rama Krisna, mengatakan, kepiawaian Saenuddin dalam melakukan budidaya cokelat sangat baik. Mulai itu dari pembibitan hingga usai panen dilakukan.
“Prosedur yang pernah kita sampaikan dijalankan dengan baik. Beliau dalam menjual hasil panen, tak hanya basah, tapi sudah sampai pada tahap fermentasi, sehingga dari hulu ke hilir lah,” ujarnya.
Menurut Yandi, kemandirian petani merupakan salah satu fokus upaya pendampingan yang dilakukan oleh PT Berau Coal Melalui Berau Cocoa. Melalui dukungan kepada petani dari pengembangan kebun hingga membantu akses pasar, diharapkan dapat menggerakkan industri kakao di Berau yang juga akan berdampak pada kesejahteraan dan kemandirian ekonomi petani.
"Kami harap dari program-program yang kami telah jalankan dalam pengembangan sektor perkebunan kakao di Berau bersama Pemerintah Daerah, dapat mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya petani kakao yang menjadi aktor utama sektor ini,” jelas Yandi. (adv/sen/sam)