Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

BUMA Dukung Pelestarian Adat Bekudung Betiung

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Jumat, 28 Juni 2024 | 06:00 WIB
MERIAH: Bekudung Betiung yang dilaksanakan di Kampung Tumbit Dayak diyakini mampu menarik wisatawan untuk berkunjung. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi tradisi budaya turun temurun.
MERIAH: Bekudung Betiung yang dilaksanakan di Kampung Tumbit Dayak diyakini mampu menarik wisatawan untuk berkunjung. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi tradisi budaya turun temurun.

SAMBALIUNG – Pesta adat Bekudung Betiung, yang dilaksanakan di Kampung Tumbit Dayak, kembali digelar tahun ini dihadiri ribuan masyarakat.

Pesta budaya ini juga terus disokong oleh BUMA Binsua. Setiap tahunnya perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan ini rutin setiap membantu agar kegiatan ini berjalan dan terus berkembang. Manager Business Support BUMA Binungan Suaran, Sriyanta, mengatakan, BUMA ikut serta mendukung pelestarian budaya yang ada di Bumi Batiwakkal.

“Ada di salah satu program kami memang. Tujuannya jelas, bagaimana budaya yang ada bisa dikenal luas,” tuturnya.

Dilanjutkannya, komitmen BUMA tidak perlu diragukan lagi. Selain kebudayaan, ada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang juga menjadi perhatian serius pihaknya. Menurut Sriyanta, kebudayaan yang ada harus terus dikembangkan agar tidak tergerus zaman. Terlebih di era modernisasi saat ini, banyak kaum milenial yang melupakan budayanya sendiri. Untuk itu dia mengapresiasi langkah pemuda Tumbit Dayak, yang terus mengenalkan budaya kepada wisatawan yang hadir. Memberikan penjelasan makna dari Bekudung Betiung.  “Ini harus dilestarikan,” tambahnya.

Upacara adat tersebut merupakan bagian dari tradisi Suku Dayak Gaai yang sudah dilakukan secara turun-temurun, dan terus berlanjut dan dilestarikan masyakarat Kampung Tumbit Dayak, Sambaliung. “Harapan kita kegiatan ini mampu menarik animo wisatawan berkunjung,” tuturnya.

Untuk diketahui, Bekudung adalah bahasa Berau, terjemahan dari bahasa Gaai (Nae Plie Ngatam) yang artinya adalah pesta syukuran setelah panen. Maknanya, untuk menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas perolehan kesehatan, keselamatan dalam bekerja, dan secara khusus perlindungan terhadap tanaman padi masyarakat.

“Budaya itu jangan sampai hilang dari diri, itu menunjukan jati diri kita,” tutupnya.

Pesta ini sendiri diawali ketika wisatawan selesai melintasi Jembatan Kampung Tumbit Dayak, di pintu masuk puluhan penari hudoq berjejer menyambut wisatawan. Jejeran penari hudoq yang khas itu menyambut kedatangan rombongan bupati Berau yang turut serta dalam kegiatan, Rabu (26/6).

Prosesi dimulai ketika rombongan sampai, para tamu akan melakukan prosesi injak parang. Hal itu dimaknai sebuah prosesi yang didalamnya tersimpan harapan para tamu yang hadir selalu dalam lindungan, dan tidak berkurang satu apapun selama mengikuti acara ini.

Selesai prosesi injak parang, rombongan diarahkan mendatangi 'Rumah Tua', istilah yang digunakan masyarakat Tumbit Dayak terhadap sebuah rumah yang disakralkan hingga hari ini.

“Setelah itu kami melihat kegiatan Paheb bersama rombongan sebagai ciri khas suku Dayak Ga’ai kami,” ujar Kepala Adat Kampung Tumbit Dayak, Muksin.

Paheb merupakan kegiatan mengukir ukiran khas suku dayak, khususnya sub suku Dayak Ga’ai. Kunjungan itu dilakukan sebagai bentuk mendukung dan upaya pelestarian ukiran khas dayak di zaman modern ini.

Setelah penyambutan, masuklah pada rangkaian inti sebagaimana namanya Bekudung Betiung.

Prosesi pertama adalah Betiung, yang punya makna sebagai proses pendewasaan seorang anak laki-laki yang dinyatakan telah dewasa dan siap untuk menikah.

Betiung adalah bahasa Berau, terjemahan dari bahasa Ga’ai yang berasal dari kata Lamko, artinya pendewasaan anak laki-laki.

Prosesi Betiung begitu diminati masyarakat, penonton berkumpul di lapangan belakang balai adat, menyaksikan kedatangan rombongan laki-laki suku Dayak Ga’ai. Dimana mereka datang dan pulang membawa kepala manusia, tanda keberhasilan kedewasaan seorang lelaki di Suku Dayak Ga’ai. “Kalau mereka pulang dari Betiung tidak bawa hasil, maka dianggap gagal,” terangnya.

Prosesi Betiung yang berlangsung selama kurang lebih 20 menit itu menggambarkan ketangkasan seorang laki-laki suku Dayak Ga’ai, yang berhasil membawa kepala manusia tanda ia telah dewasa. (adv/hmd/sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#BUMA #Advertorial #Adat