HARIAN RAKYAT KALTARA— Warga di Kecamatan Sebuku dan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, mendapat layanan kas dan edukasi sistem pembayaran dari Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara.
Layanan tersebut dibawa langsung melalui Ekspedisi Rupiah Perbatasan 2026 belum lama ini. Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltara Agus Taufik mengatakan, layanan kas diberikan untuk memastikan masyarakat di wilayah perbatasan memperoleh uang Rupiah layak edar.
Akses masyarakat terhadap layanan keuangan masih terbatas karena sebagian wilayah berada jauh dari pusat perbankan.
“Rupiah merupakan alat pembayaran sekaligus simbol kedaulatan negara. Dalam Ekspedisi Rupiah Perbatasan ini, Bank Indonesia memastikan masyarakat perbatasan memperoleh akses terhadap uang Rupiah yang layak edar,” kata Agus, Senin (5/10) lalu.
Selain penukaran uang, BI memberikan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah serta sistem pembayaran digital. Materi QRIS, perlindungan konsumen, Layanan Informasi Publik dan kebanksentralan juga disampaikan kepada masyarakat.
Edukasi menyasar pedagang, pelaku usaha, ibu rumah tangga, kelompok PKK, pengusaha sawit hingga siswa SMK Negeri 1 Desa Sanur. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai transaksi yang aman serta risiko peredaran uang palsu.
“Pemahaman mengenai ciri-ciri keaslian Rupiah dan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu juga menjadi bagian yang kami sampaikan kepada masyarakat. Ini penting agar masyarakat dapat mengenali uang yang diterima dalam transaksi,” ujarnya.
Dalam materi tersebut, BI menggandeng Forum Sinergi BOTASUPAL Kaltara yang terdiri dari BINDA dan Kejaksaan. Materi mencakup ciri keaslian Rupiah, aspek hukum pemalsuan uang serta mekanisme pelaporan apabila ditemukan indikasi uang palsu.
Kegiatan turut melibatkan Satgas Pengamanan Perbatasan Indonesia-Malaysia. Selain layanan Rupiah, BI bersama Pemerintah Kabupaten Nunukan juga menggelar pasar murah kebutuhan pokok bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat distribusi.
Agus menyebut keterlibatan lintas instansi diperlukan dalam memberikan layanan kepada masyarakat perbatasan.
“Wilayah perbatasan merupakan beranda terdepan Indonesia. Oleh karena itu, kehadiran Bank Indonesia melalui layanan kas, edukasi, dan kerja sama lintas instansi diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus menumbuhkan rasa bangga menggunakan Rupiah dalam setiap aktivitas ekonomi,” katanya.
Ekspedisi Rupiah Perbatasan 2026 melibatkan BI Kaltara, Pemkab Nunukan, BOTASUPAL Kaltara dan Satgas Pamtas Indonesia-Malaysia.
Agus menilai sinergi tersebut juga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah dan sistem pembayaran nasional.
“Sinergi yang kuat akan menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah dan sistem pembayaran nasional,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi