HARIAN RAKYAT KALTARA — Kelompok kesehatan menjadi salah satu kelompok pengeluaran yang turut memberikan andil terhadap inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada September 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, kelompok ini mengalami inflasi secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 2,14 persen.
Kelapa BPS Kaltara Mustaqim, menjelaskan inflasi tersebut tercermin dari kenaikan indeks kelompok kesehatan, dari 110,81 pada September 2025 menjadi 113,18 pada September 2026.
“Kelompok kesehatan pada September 2026 mengalami inflasi year-on-year sebesar 2,14 persen,” ungkapnya, Minggu (4/10).
Jika dilihat berdasarkan subkelompoknya, jasa rawat jalan menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Subkelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 3,03 persen. Sementara itu, inflasi terendah terjadi pada subkelompok jasa rawat inap yang tercatat sebesar 0,31 persen.
Meski tingkat inflasinya relatif terbatas, kelompok kesehatan tetap memberikan kontribusi terhadap perkembangan inflasi Kaltara secara keseluruhan.
“Pada September 2026, kelompok kesehatan memberikan andil terhadap inflasi y-on-y sebesar 0,05 persen,” jelasnya.
Sejumlah komoditas tercatat menjadi pendorong utama inflasi pada kelompok tersebut. Di antaranya obat dengan resep, tarif dokter umum, vitamin, serta obat gosok. Masing-masing komoditas memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,01 persen.
“Sementara jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau secara month-to-month (m-to-m), kelompok kesehatan juga mengalami inflasi dan memberikan andil sebesar 0,01 persen,” kata dia.
Pada periode tersebut, tarif dokter umum menjadi komoditas yang paling dominan memberikan sumbangan terhadap inflasi m-to-m, yakni sebesar 0,01 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan harga pada sejumlah layanan dan komoditas kesehatan tetap menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam melihat dinamika inflasi di Kaltara.
“Meski kontribusinya tidak besar, perubahan tarif layanan kesehatan dan harga sejumlah produk kesehatan tetap memengaruhi pergerakan indeks harga konsumen di daerah,” ujarnya.
Dengan demikian, kelompok kesehatan pada September 2026 mencatat kenaikan harga secara tahunan sebesar 2,14 persen. Ddengan jasa rawat jalan sebagai subkelompok dengan inflasi tertinggi dan jasa rawat inap sebagai yang terendah.
Sementara harga angkutan udara yang turun membuat tekanan inflasi Kota Tarakan pada September 2026 tidak lebih tinggi.
Di tengah kenaikan sejumlah harga bahan pangan, kelompok transportasi justru mencatat deflasi dan menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang memberikan andil penahan inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat inflasi September secara bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,26 persen.
Secara tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,79 persen, sedangkan secara tahunan (year on year/y-on-y) berada di level 2,82 persen.
Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi mengatakan, kelompok transportasi mengalami deflasi 0,05 persen. Penurunan harga angkutan udara menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar, yakni 0,0477 persen.
“Kalau kita lihat pergerakan September, transportasi justru memberikan pengaruh yang menahan inflasi. Kelompok ini mengalami deflasi 0,05 persen dan yang paling besar memberikan pengaruh adalah angkutan udara, dengan andil deflasi 0,0477 persen,” ujar Umar, Minggu (4/10).
Selain angkutan udara, sejumlah komoditas turut mengalami penurunan harga. Di antaranya sawi hijau dengan andil deflasi 0,0477 persen, bayam 0,0351 persen, kacang panjang 0,0155 persen, emas perhiasan 0,0144 persen, ikan kembung 0,0072 persen, bawang putih 0,0037 persen, besi beton dan kangkung masing-masing 0,0017 persen, serta kunyit 0,0011 persen.
Di sisi lain, tekanan kenaikan harga terbesar datang dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memberikan andil inflasi 0,28 persen.
Cabai rawit menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, mencapai 0,2475 persen. Berikutnya telur ayam ras 0,0509 persen, jagung manis 0,0221 persen, cabai merah 0,0145 persen, soto 0,0125 persen, beras 0,0092 persen, tomat 0,008 persen, laptop/notebook 0,0077 persen, bawang merah 0,0066 persen, dan obat gosok 0,0056 persen.
“Untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau memang tekanannya masih cukup kuat. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar, kemudian telur ayam ras, jagung manis dan cabai merah,” sebutnya.
Dua kelompok lain, yakni kesehatan serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan, masing-masing memberikan andil inflasi 0,01 persen. Besaran yang sama juga berasal dari kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.
Secara regional, inflasi bulanan Tarakan sebesar 0,26 persen lebih rendah dibandingkan Kalimantan Utara yang mencapai 0,37 persen dan nasional 0,30 persen.
Untuk inflasi tahun kalender, Tarakan sebesar 1,79 persen juga berada di bawah Kaltara 1,82 persen dan nasional 2,17 persen.
“Namun secara tahunan, inflasi Tarakan sebesar 2,82 persen lebih tinggi dibandingkan Kaltara yang berada di angka 2,56 persen. Sementara inflasi nasional tercatat 3,28 persen,” ungkap Umar.
Memasuki tiga bulan terakhir 2026, BPS memperkirakan inflasi Tarakan sepanjang tahun dapat berada di angka 2,82 persen. Apabila pola pergerakan harga Oktober hingga Desember sama dengan pola pada Triwulan IV 2025.
“Kalau pola pada Triwulan IV 2026 mengikuti pola yang terjadi pada Triwulan IV tahun lalu, inflasi Tarakan sepanjang 2026 diperkirakan berada di angka 2,82 persen. Tetapi ini tentu berdasarkan asumsi, perkembangan harga pada tiga bulan terakhir tetap menjadi faktor penentunya,” pungkas Umar. (fai/sas/uno)
Editor : Nurismi