HARIAN RAKYAT KALTARA — Mengenali keaslian dan karakteristik Rupiah tidak hanya dilakukan dengan melihat pecahan uang.
Di Tarakan, edukasi Rupiah juga dikenalkan melalui pengalaman sensorik. Termasuk fitur blind code pada uang kertas yang dapat membantu penyandang disabilitas mengenali nominal.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu bagian dari Rupiahverse Fest 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bersama Association of Youth for Sustainability (AYS) Indonesia.
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 60 teman sebaya dan penyandang disabilitas dalam berbagai rangkaian edukasi. Mereka mendapat ruang untuk belajar, berinteraksi, berkarya dan berpartisipasi bersama peserta lainnya.
Selain mengenalkan fitur blind code, edukasi Rupiah dalam kegiatan tersebut mencakup cara mengenali keaslian uang melalui metode 3D, yakni Dilihat, Diraba dan Diterawang. Peserta juga diperkenalkan pada penggunaan Rupiah secara bijak dalam transaksi sehari-hari.
Deputi Kepala Perwakilan (KPwBI) Provinsi Kaltara Wesky Putra Pratama, hadir dalam kegiatan tersebut bersama Wali Kota Tarakan Khairul, serta unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku UMKM dan mitra strategis lainnya.
“Ini merupakan tindak lanjut capacity building edukator Cinta, Bangga dan Paham (CBP) Rupiah yang digelar pada Mei 2026 di Tanjung Selor bersama 10 komunitas mitra. Masing-masing komunitas kemudian mengembangkan proyek edukasi CBP Rupiah di lingkungan mereka,” ujar Wesky.
AYS Indonesia mengembangkan proyek tersebut secara bertahap sejak Juni hingga September 2026. Puncaknya berlangsung melalui Rupiahverse Fest di Tarakan.
Sejumlah materi edukasi dikemas melalui Talkshow Rupiah, Drama Musikal Inklusi, Zona Meraba Rupiah, lomba prototype CBP Rupiah, senam bersama lansia dan bazar UMKM lokal.
“Pembahasan diarahkan pada literasi Rupiah, peran generasi muda dan keterlibatan komunitas dalam memperluas pemahaman masyarakat,” tuturnya.
Materi juga dikemas melalui pengolahan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) dengan konsep waste to product. Limbah tersebut diolah menjadi karya berbentuk peta Indonesia, sekaligus memperkenalkan pemanfaatan limbah dari proses pengelolaan uang.
BI menekankan bahwa Rupiah bukan sekadar alat pembayaran, tetapi juga simbol kedaulatan dan identitas bangsa. Pemahaman tersebut mencakup memperlakukan uang dengan baik, menggunakan secara bijak sesuai kebutuhan, serta mampu mengenali keasliannya.
Melalui keterlibatan berbagai kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, edukasi mengenai Rupiah diperluas. Agar dapat diakses dengan pendekatan yang lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Wali Kota Tarakan Khairul mengapresiasi atas keterlibatan berbagai pihak dalam edukasi Rupiah. Menurutnya, pengenalan Rupiah perlu disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
“Kolaborasi antara BI, Pemkot Tarakan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dunia pendidikan, komunitas serta mitra strategis. Diharapkan terus memperluas pemahaman mengenai Rupiah di Kalimantan Utara,” singkat Khairul. (sas/uno)
Editor : Nurismi