Tembus Pasar Ekspor Eropa Anyaman Rotan Buatan Perajin Berau Sukses Pikat Konsumen di Belanda

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 18:05 WIB
TEMBUS INTERNASIONAL: Produk kerajinan rotan dari Kampung Teluk Sumbang, terus dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar internasional. (IZZA/BP)
TEMBUS INTERNASIONAL: Produk kerajinan rotan dari Kampung Teluk Sumbang, terus dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar internasional. (IZZA/BP)

BERAU POST — Anyaman rotan dari tangan perajin Berau telah menembus pasar Eropa, khususnya Belanda. Di balik peluang tersebut, yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah memastikan bahan baku tetap mengalir agar pesanan dari luar negeri tidak terganggu.

Kepala DPMK Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan, menembus pasar ekspor menjadi tantangan tersendiri bagi perajin rotan di Kabupaten Berau.

Setelah produk kerajinan lokal mulai diterima pasar Eropa, pemerintah daerah kini ingin memastikan keberlangsungan pasokan bahan baku agar produksi tidak tersendat.

DPMK Berau membagi peran sejumlah wilayah dalam mendukung rantai produksi kerajinan rotan. “Kampung Teluk Sumbang diarahkan sebagai lokasi pengembangan dan hilirisasi produk, sedangkan Kecamatan Kelay dan Segah sebagai penyangga bahan baku,” sebutnya.

Hal itu disusun, setelah produk kerajinan rotan buatan perajin Berau termasuk pot bunga dan berbagai produk dekorasi berhasil masuk ke pasar Eropa.

Capaian tersebut membuat kebutuhan terhadap bahan baku yang stabil menjadi bagian penting dalam menjaga kelangsungan kerja sama perdagangan.

Adapun kapasitas produksi juga harus diikuti dengan menjaga ketersediaan material. Terlebih ketika produk sudah dipasarkan melalui kerja sama dengan pembeli dari luar negeri.

Menurutnya, apabila ada gangguan pasokan dapat berdampak langsung terhadap proses produksi yang dikhawatirkan tidak bisa memenuhi pesanan.

Karena itu, pengembangan industri rotan juga harus diperkuat dengan mata rantai bahan baku disamping meningkatkan kualitas dan kuantitas produk.

“Ketika sudah ada perjanjian kerja sama dengan pihak luar, pasokan bahan baku tidak boleh terganggu. Sekali suplai terhenti, itu bisa memutus kontrak yang sudah disepakati,” ujarnya.

Pembagian peran kampung itu juga diharapkan mencegah terjadinya tumpang tindih kegiatan, sekaligus membuat pembangunan sektor rotan dapat berlangsung dari hulu hingga hilir secara beriringan.

Sehingga, kebutuhan produksi di sentra hilir dapat disesuaikan dengan kemampuan penyediaan bahan baku di kampung lain.

Di sisi hilir, DPMK Berau juga mendorong perajin Teluk Sumbang meningkatkan kualitas dan desain produk agar tetap sesuai dengan perkembangan permintaan pasar. Salah satu pengembangan yang telah dilakukan ialah mengombinasikan anyaman rotan dengan material kulit.

Penggunaan kombinasi material tersebut membuat produk kerajinan memiliki tampilan yang lebih modern dan memang ditujukan untuk memenuhi selera konsumen internasional.

Diharapkan produk tersebut dapat meningkatkan nilai tambah produk, sebelum dipasarkan ke luar daerah maupun luar negeri.

Target selanjutnya yakni penguatan kerja sama antarwilayah dapat menjaga keberlanjutan industri rotan Berau. Keberadaan pasar ekspor yang sudah terbuka menjadi momentum memperkuat produksi tersebut.

“Ke depan diharapkan produk rotan Berau dapat mempertahankan pasar yang sudah terbentuk, sekaligus mampu menjangkau negara tujuan ekspor lainnya,” harapnya.

Sebelumnya, Menurut Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita, mengatakan, Kampung Teluk Sumbang menyimpan peluang besar untuk dikembangkan menjadi sentra produksi mebel berbahan rotan, seperti kursi dan meja.

“Di sana itu bahan baku rotannya luar biasa banyak, ukurannya juga besar-besar dan memenuhi syarat untuk dijadikan furnitur," kata Eva.

Pun peralatan pengolahannya juga sudah tersedia, jadi tinggal bagaimana didorong supaya benar-benar bisa dimanfaatkan dengan optimal.

Dirinya sendiri berharap agar aparat kampung bisa berperan lebih aktif dalam mendampingi para pengrajin yang ada.

Mengingat lokasi Teluk Sumbang cukup jauh dari pusat kota, Diskoperindag tidak bisa melakukan pembinaan secara intens setiap waktu.

“Kami berharap aparat kampung lebih proaktif karena mereka yang bersentuhan langsung dengan pengrajin. Kita terbatas waktu. Makanya, kami minta komunikasi tetap dijaga agar pembinaan bisa tetap jalan,” jelasnya.

Lanjutnya, potensi rotan di Teluk Sumbang sangat disayangkan jika tidak dimaksimalkan. Selama ini, hasil rotan dari kampung tersebut juga dijual dalam bentuk bahan baku. Bahkan, ada juga yang dibeli oleh perajin dari Kampung Long Beliu.

“Jadi rotannya sudah rapi dan siap tinggal dirajut. Ada juga yang sudah diolah jadi produk, termasuk kerajinan kecil seperti tas rotan. Itu juga kami arahkan supaya lebih berkembang,” ujarnya.

Eva berharap produk rotan dari Teluk Sumbang bisa menjadi salah satu ciri khas kampung di pesisir Berau tersebut. Ia menilai, dengan kekuatan bahan baku dan jumlah pengrajin yang masih cukup banyak, pengembangan produk bisa dilakukan lebih serius.

“Pengrajinnya di sana saya lihat masih cukup banyak, sekitar 20 orang lebih. Ini tinggal ditata saja agar produksinya bisa lebih terarah. Kita sudah punya bahan dan alat, sayang kalau tidak dikembangkan,” lanjutnya.

Ia menambahkan, pengelolaan rotan di Teluk Sumbang saat ini berada di bawah koperasi. Karena itu, Diskoperindag mendorong agar koperasi benar-benar mengambil peran dalam pengembangan produk jadi, khususnya dekoruma. (aja/sam)

Editor : Nurismi
anyaman rotan DPMK Berau