HARIAN RAKYAT KALTARA — Kesiapan peralatan keselamatan di dua kapal PELNI yang melayani Tarakan kembali diperiksa menyusul rangkaian kecelakaan kapal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pemeriksaan mencakup sekoci, life jacket, alat pemadam api ringan (APAR), hingga kesiapan kru menghadapi kondisi darurat.
Kepala PT PELNI Cabang Tarakan, Ferdy Ronny Masengi, mengatakan pemeriksaan dan latihan keselamatan merupakan agenda rutin kru kapal.
Dalam satu round voyage, latihan dapat dilakukan saat kapal bersandar lebih dari empat jam di pelabuhan tertentu. Sementara di Tarakan, waktu sandar kapal rata-rata hanya sekitar tiga hingga empat jam.
“Latihan itu sudah terjadwal. Teman-teman di kapal tidak hanya memeriksa alat. Tetapi juga memperagakan bagaimana penggunaannya ketika terjadi keadaan darurat, termasuk cara menggunakan life jacket dan mengatur penumpang,” ujar Ferdy, kemarin (23/9).
Untuk sekoci, latihan penurunan dilakukan ketika kapal tiba di Tarakan. Namun, simulasi tersebut tidak sampai menurunkan sekoci ke permukaan air.
Karena pelaksanaannya memerlukan ketentuan teknis serta izin dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
Selain pemeriksaan internal, armada juga menjalani ramp check oleh KSOP secara berkala. Menurut Ferdy, pemeriksaan tersebut berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan dan turut menjadi bahan evaluasi terhadap kondisi armada setelah adanya sejumlah kecelakaan kapal.
“Setiap ada kejadian, kami jadikan bahan evaluasi. Pemeriksaan tidak berhenti pada alat keselamatan saja. Tetapi kami memastikan seluruh perangkat benar-benar siap digunakan ketika dibutuhkan,” katanya.
Dua kapal PELNI yang melayani Tarakan, yakni KM Lambelu dan KM Bukit Siguntang, masing-masing memiliki kapasitas sekitar 2.000 penumpang. Untuk life jacket, total ketersediaannya sekitar 4.000 unit.
Jumlah tersebut disiapkan melebihi kapasitas penumpang. Kondisi dan masa layak pakainya juga dipantau secara berkala. Penggantian dilakukan sebelum perlengkapan mendekati batas penggunaan.
“Jumlahnya memang kami siapkan lebih dari kapasitas penumpang. Sekitar 4.000 life jacket tersedia di kapal, dan kondisinya harus terus dipastikan layak,” jelas Ferdy.
Hal serupa diterapkan terhadap APAR. Masa berlaku peralatan dipantau dan penggantian disiapkan satu hingga dua bulan sebelum masa kedaluwarsa.
Kondisi cuaca juga menjadi bagian dari pemantauan pelayaran. Informasi dari BMKG diperbarui dan diteruskan ke kru kapal serta control room PELNI pusat. Untuk menjadi bahan pertimbangan dalam operasional.
“Informasi cuaca dari BMKG selalu kami update. Kru di kapal dan control room pusat sama-sama memonitor. Sehingga kondisi cuaca menjadi salah satu pertimbangan dalam operasional maupun pelaksanaan latihan keselamatan,” ungkapnya.
Dalam kondisi cuaca normal, penumpang juga dapat dilibatkan dalam simulasi untuk mengenalkan prosedur menghadapi keadaan darurat.
Di sisi lain, aktivitas penumpang PELNI di Tarakan masih berjalan normal. KM Bukit Siguntang pada Selasa (22/9) dijadwalkan menurunkan sekitar 817 penumpang dan mengangkut sekitar 837 penumpang dari Tarakan.
Dua armada PELNI melayani Tarakan sekitar dua kali dalam sepekan dengan pola trayek berbeda. Jarak antarkapal diatur agar tersedia alternatif kapasitas ketika terjadi peningkatan jumlah penumpang.
“Pola trayek kami atur supaya jarak antarkapal tidak terlalu jauh. Kalau terjadi peningkatan penumpang, ada kapal yang bisa menyusul sehingga kapasitas bisa kami sesuaikan,” ujarnya.
KM Bukit Siguntang dari Tarakan melanjutkan pelayaran menuju Nunukan, Balikpapan, Parepare, Makassar hingga Larantuka. Sementara trayek lainnya melayani hingga Maumere.
Lonjakan penumpang biasanya terjadi pada periode Natal dan Tahun Baru, libur sekolah serta angkutan Lebaran. Namun, pemeriksaan peralatan keselamatan tetap dilakukan di luar periode tersebut.
“Pemeriksaan keselamatan tetap berjalan di luar masa padat penumpang. Kami memastikan setiap alat berfungsi, masih layak dan siap digunakan. Kalau masa penggunaannya mendekati batas akhir, penggantian sudah dipersiapkan lebih awal,” pungkas Ferdy. (sas/uno)
Editor : Nurismi