HARIAN RAKYAT KALTARA — Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Tarakan. Kondisi itu terjadi setelah kualitas udara sempat membaik pascahujan.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan mencatat konsentrasi partikulat PM2,5 kembali meningkat hingga membuat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 101 atau masuk kategori tidak sehat.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup, dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Tarakan Chaizir Zain, mengatakan kenaikan ISPU terpantau sejak subuh. Indeks tersebut bergerak naik sekitar tiga hingga lima poin setiap jam.
“Dari subuh sampai sekarang, ISPU masih mengalami kenaikan sekitar tiga sampai lima poin setiap jam. Kalau trennya terus seperti ini dan tidak ada penurunan, angkanya bisa semakin tinggi,” ujar Chaizir, Kamis (17/9).
Menurutnya, PM2,5 menjadi salah satu parameter utama yang memengaruhi kenaikan ISPU. Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi partikulat tersebut telah melampaui baku mutu, dengan nilai indeks mencapai 101.
“PM2,5 yang terukur sudah berada di atas baku mutu. Setelah dihitung dalam indeks, nilainya berada di 101 sehingga masuk kategori tidak sehat,” jelasnya.
Chaizir mengatakan, ISPU Tarakan sebelumnya berada di kisaran 50 hingga 60 saat hujan turun beberapa hari lalu. Penurunan indeks PM2,5 ke bawah 50 membutuhkan hujan yang cukup serta berkurangnya sumber emisi.
“Indeks PM2,5 di Tarakan biasanya berada sekitar 50 sampai 60. Untuk turun di bawah 50 perlu dukungan hujan yang cukup dan berlangsung terus, ditambah pengurangan emisi dari berbagai sumber,” ungkapnya.
DLH Tarakan mengingatkan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
Warga yang harus beraktivitas di luar juga dianjurkan menggunakan masker. Terutama kelompok rentan seperti anak-anak, balita, ibu hamil dan lanjut usia.Kondisi tersebut juga berkaitan dengan pergerakan asap dari wilayah selatan Kalimantan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, mengatakan Tarakan sebelumnya sempat mengalami perbaikan kualitas udara setelah hujan. Jarak pandang bahkan mencapai sekitar delapan kilometer.
Namun, sejumlah wilayah di Kaltim, Kalteng dan Kalsel masih memiliki hotspot dalam jumlah tinggi. Angin dominan dari selatan menuju utara berpotensi membawa asap menuju wilayah Kaltara, termasuk Tarakan.
“Tarakan dan beberapa wilayah Kaltara memang sudah hujan dan kondisinya sempat cukup bersih, jarak pandang mencapai 8 kilometer. Tetapi di Kalteng, Kaltim dan Kalsel hotspot masih tinggi. Angin dominan bergerak dari selatan ke utara. Sehingga asap dari wilayah tersebut bisa terbawa ke Kaltara, termasuk Tarakan,” ujar Khilmi.
Ia menyebut karhutla di Bulungan tidak menjadi sumber utama asap yang masuk ke Tarakan. Selain skalanya tidak signifikan, arah angin di wilayah tersebut juga lebih bergerak ke utara.
“Memang di Bulungan sampai kemarin ada peristiwa karhutla. Tetapi tidak signifikan menyumbang asap. Arah anginnya juga lebih ke utara, bukan ke timur menuju Tarakan,” katanya.
Kondisi udara di Tarakan juga dapat berubah sepanjang hari mengikuti kecepatan dan arah angin. Pada pagi hari ketika angin relatif tenang, partikulat lebih mudah terkonsentrasi di dekat permukaan. Ketika angin menguat, asap dapat kembali terbawa mengikuti arah pergerakannya.
“Pagi hari anginnya cenderung kalem, sehingga asap lebih terkonsentrasi. Setelah angin mulai menguat, asap ikut terbawa dan konsentrasinya bisa berubah. Kalau angin datang lagi membawa asap, kondisi bisa kembali pekat,” jelas Khilmi.
Khilmi menyebut, potensi asap kiriman masih berkaitan dengan tingginya hotspot di Kaltim, Kalteng dan Kalsel. Ketiga wilayah tersebut memasuki puncak kemarau pada September.
“Di Kaltara jumlah hotspot kemarin sekitar 30, sementara di Kaltim, Kalsel dan Kalteng bisa mencapai ratusan. Puncak kemarau di wilayah tersebut berlangsung September, jadi sampai akhir September masih diprediksi panas dan hujan belum banyak,” tutur Khilmi.
Dengan kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah Kaltara, berdampak terhadap kesehatan. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kaltara mengalami peningkatan signifikan pada akhir Agustus hingga awal September 2026.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat koordinasi sektor kesehatan, jumlah kasus ISPA pada minggu ke-35 mencapai 1.049 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara Usman, mengakui peningkatan tersebut menjadi perhatian serius. Terlebih terjadi di tengah kondisi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang berpotensi memengaruhi kualitas udara.
“Angka tersebut tinggi. Terjadi peningkatan lebih dari dua kali lipat dibandingkan minggu sebelumnya,” ujarnya, Kamis (17/9).
Pada minggu ke-34, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 497 kasus. Sementara pada minggu ke-32, kasus yang dilaporkan mencapai 103 kasus dan meningkat menjadi 140 kasus pada minggu ke-33. Lonjakan kemudian terjadi pada minggu ke-34 hingga minggu ke-35. Adapun pada minggu ke-36, periode 6—12 September 2026, tercatat 11 kasus.
“Angka tersebut belum menggambarkan kondisi secara menyeluruh karena proses pelaporan masih berlangsung ketika rapat digelar,” sebut dia.
Selain tren mingguan, data perkembangan harian juga menunjukkan peningkatan tajam menjelang akhir Agustus hingga awal September. Angka tertinggi dalam grafik tercatat mencapai 367 kasus dalam satu hari.
Penanganan terhadap masyarakat yang mengalami keluhan ISPA perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain memastikan pasien mendapatkan pelayanan kesehatan.
Petugas juga diharapkan melakukan penyelidikan terhadap faktor-faktor yang berpotensi memicu gangguan pernapasan.
“Setiap kasus yang ditemukan harus ditangani. Kami juga mengharapkan adanya penyelidikan terhadap kasus tersebut,” jelasnya.
Dinkes Kaltara turut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, termasuk menggunakan masker. Terutama ketika beraktivitas di luar ruangan saat kondisi udara dipengaruhi kabut asap.
Meski peningkatan kasus ISPA bertepatan dengan periode karhutla. Data yang tersedia belum dapat memastikan bahwa seluruh kenaikan tersebut disebabkan oleh paparan asap kebakaran.
“Kami mendorong penguatan pemantauan dan pelaporan kasus secara harian di seluruh kabupaten/kota. Kesiapan puskesmas, rumah sakit, serta ketersediaan logistik kesehatan juga perlu ditingkatkan guna mengantisipasi bertambahnya keluhan gangguan pernapasan,” ujarnya.
Usman menegaskan, perkembangan kasus ISPA akan terus dipantau dan dilaporkan sebagai bahan evaluasi dalam menentukan langkah penanganan berikutnya.
Enam Kecamatan di Bulungan Berlakukan BDR
Kualitas udara karena kabut asap pun berdampak terhadap dunia pendidikan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan mengambil langkah cepat merespons penurunan kualitas udara akibat kabut asap.
Berdasarkan hasil evaluasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang menunjukkan kondisi sangat tidak sehat, pembelajaran untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP di sejumlah wilayah terdampak dialihkan sementara ke metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR).
Kepala Disdikbud Bulungan Bulungan Suparmin, menyampaikan bahwa kebijakan ini diambil guna menjaga kesehatan dan keselamatan para peserta didik serta tenaga pendidik.
“Berdasarkan pengamatan dan evaluasi kondisi ISPU yang sangat tidak sehat di beberapa wilayah. Kami instruksikan satuan pendidikan yang terdampak untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh. Langkah ini berlaku selama dua hari, mulai tanggal 18 hingga 19 September 2026,” tegas Suparmin, Kamis (17/9).
Instruksi ini secara khusus ditujukan kepada Kepala Satuan Pendidikan jenjang PAUD, SD, dan SMP di wilayah terdampak, yang meliputi enam kecamatan. Yakni, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Tanjung Selor, Tanjung Palas, Tanjung Palas Utara dan Bunyu.
Sementara itu, bagi satuan pendidikan di wilayah yang tidak terdampak kabut asap, kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tetap berjalan seperti biasa.
Untuk sekolah yang wilayahnya terdampak namun belum tercantum dalam daftar di atas, diberikan kewenangan untuk menyesuaikan kondisi di lapangan.
Selain penyesuaian metode belajar, Kadisdikbud Bulungan juga menginstruksikan sekolah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengalihkan pembelajarannya ke BDR agar segera berkoordinasi dengan pihak terkait.
“Bagi satuan pendidikan yang mendapatkan program MBG dan menerapkan BDR, kami minta untuk segera menyampaikan informasi perubahan ini kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masing-masing agar distribusi dapat disesuaikan,” ujarnya.
Kebijakan penyesuaian BDR ini akan dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan kondisi kualitas udara di Kabupaten Bulungan. Surat edaran resmi mengenai kebijakan ini akan segera dikirimkan ke seluruh satuan pendidikan. (sas/fai/uno2/uno)
Editor : Nurismi