Titik Panas Meningkat Tajam di Kaltara, Dishut Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Karhutla

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 11:45 WIB
ATASI KARHUTLA: Ditsamapta Polda Kaltara bergerak cepat lakukan Quick Response penanganan karhutla di dua lokasi berbeda di wilayah Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, pada Minggu (13/9) lalu. (POLDA KALTARA)
ATASI KARHUTLA: Ditsamapta Polda Kaltara bergerak cepat lakukan Quick Response penanganan karhutla di dua lokasi berbeda di wilayah Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, pada Minggu (13/9) lalu. (POLDA KALTARA)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Utara (Kaltara) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). 

Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi sepanjang Agustus-September 2026. 

Berdasarkan pemantauan satelit Terra Aqua, SNPP dan NOAA20 NASA dengan tingkat kepercayaan tinggi (High Confidence Level), tercatat 183 titik panas di Kaltara sepanjang Agustus. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. 

Sementara hingga 11 September 2026, kembali terdeteksi 71 titik panas. Dengan demikian, terdapat 254 hotspot pada periode Agustus-11 September. 

Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDE) Dishut Kaltara Maryanto mengatakan, peningkatan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Meski secara nasional jumlah hotspot Kaltara masih relatif rendah, kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan menurun. 

“Jumlah hotspot kita memang masih lebih rendah dibanding beberapa provinsi lain. Namun, kenaikan pada Agustus harus menjadi perhatian. Kita tidak boleh lengah,” ujarnya, Senin (14/9). 

Data rekapitulasi Sistem Monitoring Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan, jumlah hotspot Kaltara sepanjang awal tahun relatif rendah.

Pada Januari tercatat satu titik, Februari satu titik, Maret dua titik, April 10 titik. Kemudian pada Mei delapan titik, Juni tiga titik dan Juli tiga titik. 

“Lonjakan kemudian terjadi pada Agustus dengan 183 titik panas. Angka tersebut kembali bertambah 71 titik hingga 11 September. Secara nasional, berdasarkan data yang menjadi acuan Dishut Kaltara, tercatat 34.404 hotspot di Indonesia. Kaltara berada di peringkat ke-19 dalam jumlah titik panas tersebut,” sebutnya. 

Ia menegaskan, keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan telah terjadi kebakaran. Karena itu, setiap titik yang terdeteksi perlu segera diverifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan. 

Untuk memperkuat langkah tersebut, Dishut Kaltara mengoptimalkan patroli terpadu dan ground check dengan melibatkan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di seluruh kabupaten/kota. 

“Setiap koordinat hotspot yang muncul melalui sistem Sipongi akan menjadi bahan tindak lanjut petugas di lapangan. Langkah ini dilakukan agar potensi kebakaran dapat diketahui sedini mungkin dan penanganan bisa dilakukan sebelum api meluas,” tegasnya. 

Selain itu, Dishut Kaltara memperkuat koordinasi dengan Balai Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), Manggala Agni, tim penegakan hukum Kementerian Kehutanan, TNI/Polri serta masyarakat. 

“Sinergi lintas sektor dinilai penting karena penanganan Karhutla tidak hanya bergantung pada pemadaman ketika api sudah muncul. Upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam menekan risiko kebakaran,” ungkapnya. 

Pihaknya juga terus mendorong edukasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), baik kepada masyarakat maupun pemegang izin konsesi hutan.

Penggunaan api untuk membuka atau membersihkan lahan dinilai memiliki risiko besar, terutama ketika kondisi cuaca memasuki periode yang lebih kering. 

“Yang paling penting pencegahan. Setiap titik yang terdeteksi harus segera diverifikasi, agar kita mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan dan bisa mengambil langkah secepat mungkin,” kata dia. 

Ia mengingatkan, pencegahan Karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, pemegang izin dan seluruh pihak terkait harus meningkatkan kewaspadaan.

Khususnya ketika kondisi cuaca mendukung terjadinya kebakaran. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran. 

“Dengan respons cepat dan kolaborasi seluruh pihak, peningkatan hotspot di Kaltara diharapkan tidak berkembang menjadi Karhutla yang lebih luas,” harapnya. 

Sementara itu, Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Kaltara bergerak cepat melakukan Quick Response penanganan karhutla di dua lokasi berbeda di wilayah Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, pada Minggu (13/9) lalu. 

Penanganan dilakukan setelah terjadi kebakaran lahan di Desa Gunung Sari dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai kurang lebih 13 hektare dan di Desa Apung dengan luas lahan sekitar 6 hektare. 

Ditsamapta Polda Kaltara mengerahkan 30 personel yang dipimpin Ipda Haris Rohadi, dengan dukungan 10 personel BPBD, 10 personel KPH, 15 personel TNI, serta 10 personel Manggala Agni.

Kekuatan tersebut didukung kendaraan dan sarana pemadaman Karhutla, di antaranya kendaraan Karhutla, AWC, mobil Isuzu D-Max, pompa pemadam, fire hose, nozzle, APD, Alkon, serta floating pump.

Di lokasi pertama, Desa Gunung Sari, kebakaran terjadi sekitar pukul 14.00 Wita. Lahan tersebut sebelumnya telah mendapatkan penanganan, namun kembali memunculkan titik api. Personel kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan pengecekan, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan. 

Kondisi medan yang berupa lahan gambut, rawa, semak, serta pepohonan cukup tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan.

Terlebih, tidak terdapat akses langsung menuju titik api sehingga personel harus melakukan pergeseran melalui jalan utama. 

Kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter sambil membawa peralatan pemadaman. Untuk mendukung proses pemadaman, personel memanfaatkan area rawa sebagai sumber air dengan menggunakan floating pump. 

Air kemudian dialirkan melalui selang pemadam menuju titik api. Bersama BPBD dan KPH, personel melakukan pemadaman dan pendinginan secara intensif untuk memastikan bara api tidak kembali menyala dan mencegah api meluas ke area lainnya. 

Setelah penanganan dilakukan, personel melaksanakan penyisiran dan pemantauan di sekitar lokasi. Guna memastikan tidak terdapat titik api aktif yang berpotensi kembali menimbulkan kebakaran. 

Selanjutnya, sekitar pukul 19.00 Wita, personel bergerak menuju lokasi Karhutla kedua di Desa Apung. Di lokasi tersebut, api masih terlihat pada beberapa bagian lahan.

Namun, kondisi medan dan tidak tersedianya akses masuk menuju titik api utama menyebabkan personel belum dapat menjangkau sumber api secara langsung. 

Sebagai langkah antisipasi, personel bersama instansi terkait melakukan pemadaman dan pendinginan pada area pinggir jalan yang merupakan bagian dari lahan bekas terbakar.

Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya kembali titik api sekaligus mengantisipasi kemungkinan api merambat ke area lainnya. 

Personel selanjutnya melaksanakan stand by dan pemantauan secara intensif di lokasi dengan tetap menyiagakan sarana dan prasarana pemadaman.

Langkah tersebut dilakukan agar setiap perkembangan situasi, khususnya apabila api membesar atau meluas, dapat segera ditindaklanjuti. 

Quick Response ini merupakan bentuk kesiapsiagaan dan komitmen Polda Kaltara dalam mencegah serta menanggulangi Karhutla.

Sekaligus memperkuat sinergi antara Polri, TNI, BPBD, KPH, dan Manggala Agni dalam melindungi masyarakat. Serta mencegah meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Utara. 

Melalui respons cepat, pemanfaatan sarana dan prasarana secara optimal, serta pemantauan berkelanjutan, Polda Kaltara bersama seluruh unsur terkait terus berupaya memastikan setiap titik api dapat segera ditangani dan risiko meluasnya Karhutla dapat ditekan.

Tak hanya Ditsamapta Polda Kaltara, bahkan personel SAR Batalyon A Pelopor Satuan Brimob Polda Kaltara juga melaksanakan penanganan karhutla di Jalan Komjen HM. Jasin KM 12. Personel SAR Batalyon A Pelopor menuju lokasi dan melakukan pengecekan kondisi titik karhutla. 

Personel kemudian melaksanakan upaya penanganan dan pemadaman api serta melakukan pemantauan terhadap area sekitar.

Untuk memastikan tidak terdapat titik api yang berpotensi kembali menyala. Seluruh kegiatan dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan personel dan koordinasi di lapangan. 

Personel terus melakukan pemantauan dan pendinginan pada area yang terdampak. Guna mengantisipasi munculnya kembali titik api, serta mencegah penyebaran kebakaran.  

Batalyon A Pelopor berkomitmen untuk terus mendukung upaya pencegahan dan penanganan karhutla serta menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan di wilayah Kaltara. (fai/uno2/uno)

Editor : Nurismi
Titik panas karhutla polda kaltara