HARIAN RAKYAT KALTARA - Kebutuhan tenaga pengajar di sekolah-sekolah Kota Tarakan diperkirakan masih kurang 285 guru hingga Desember 2026.
Jumlah tersebut dihitung berdasarkan kebutuhan pembelajaran dengan beban mengajar 24 jam per minggu.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan Tamrin Toha mengatakan, angka kebutuhan tersebut masih dapat berubah seiring adanya guru yang pensiun, mutasi, maupun meninggal dunia.
“Perhitungan sampai Desember nanti menunjukkan masih ada kekurangan sekitar 285 guru. Angka itu dihitung dari kebutuhan pembelajaran dengan beban 24 jam mengajar dalam seminggu. Di sisi lain, ada guru yang pensiun, mutasi, dan ada juga yang meninggal,” kata Tamrin, Minggu (13/9).
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sekolah tidak lagi memiliki keleluasaan merekrut tenaga honorer seperti sebelum 2025.
Kebijakan pemerintah pusat dengan prinsip zero growth membatasi penambahan tenaga baru di lingkungan pemerintah daerah.
Di tengah keterbatasan tersebut, Disdik Tarakan memanfaatkan program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Borneo Tarakan (UBT).
Mahasiswa ditempatkan di sekolah sesuai kebutuhan dan bidang pendidikan, untuk membantu proses pembelajaran selama masa praktik.
Tamrin menegaskan, mahasiswa PLP tidak berstatus sebagai guru dan keberadaannya tidak menggantikan kebutuhan tenaga pendidik secara permanen.
“Mahasiswa PLP posisinya tetap sebagai peserta praktik. Mereka membantu proses pembelajaran selama berada di sekolah, tetapi tidak menggantikan posisi guru secara permanen. Untuk kebutuhan jangka panjang, tetap diperlukan pemenuhan tenaga pendidik,” ujarnya.
Kekurangan tersebut juga tidak terjadi secara merata pada seluruh mata pelajaran. Di tingkat SMP, sejumlah bidang studi masih membutuhkan tambahan guru, di antaranya Pendidikan Kewarganegaraan, Seni Budaya dan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Sementara guru olahraga saat ini dinilai masih mencukupi. Namun, kebutuhan pada bidang tersebut tetap diproyeksikan untuk beberapa tahun ke depan karena membutuhkan kompetensi khusus.
“Guru olahraga untuk saat ini masih mencukupi. Tetapi kebutuhan ke depan tetap harus dihitung karena bidang olahraga memiliki kompetensi tersendiri. Tidak semua guru bisa langsung mengambil alih mata pelajaran tersebut,” tutur Tamrin.
Disdik Tarakan sebelumnya telah mengusulkan tambahan formasi guru untuk sekolah negeri. Pemenuhannya masih menyesuaikan kebijakan pemerintah serta kemampuan daerah dalam menyediakan tenaga pendidik.
Tamrin mengatakan, pemetaan kebutuhan berdasarkan sekolah dan mata pelajaran diperlukan. Agar distribusi guru dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing satuan pendidikan.
“Setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada mata pelajaran tertentu yang masih kekurangan guru. Sehingga penempatannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Harapannya proses pembelajaran tetap berjalan dan kelas tidak sampai mengalami kekosongan pengajar,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi