Siagakan Empat Unit Water Tank, BWS Kalimantan V Bantu Padamkan Karhutla di Bulungan

Nurismi • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 12:10 WIB
KARHUTLA: Petugas BWS Kalimantan V Tanjung Selor turut padamkan api karhutla belum lama ini. (BWS KALIMANTAN V UNTUK HRK)
KARHUTLA: Petugas BWS Kalimantan V Tanjung Selor turut padamkan api karhutla belum lama ini. (BWS KALIMANTAN V UNTUK HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah kawasan Bulungan membuat Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor menyiagakan empat unit mobil water tank. 

Armada tersebut dipersiapkan untuk mendukung pemadaman di Bulungan, Tana Tidung hingga Malinau. Terutama ketika kebutuhan air di lokasi kebakaran meningkat.

Kepala BWS Kalimantan V Tanjung Selor Mustafa, mengatakan beberapa kejadian Karhutla di Bulungan belakangan terjadi di Desa Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning. Sebagian lokasi berada di kawasan perkebunan sawit dan lahan gambut.

“Alhamdulillah dengan kolaborasi BWS, BPBD, Damkar, TNI-Polri dan masyarakat, titik-titik yang muncul bisa kami tangani dan dipadamkan,” ujar Mustafa.

Menurutnya, kecepatan menerima informasi menjadi salah satu faktor dalam pengendalian kebakaran. Laporan dapat diterima dari kepolisian, Babinsa maupun masyarakat dan langsung diteruskan kepada personel di lapangan.

“Begitu informasi masuk, teman-teman langsung turun. Kami bawa kendaraan bersama BPBD dan Damkar, kemudian langsung ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Jadi tidak menunggu sampai api semakin meluas,” katanya.

BWS menyiagakan empat water tank untuk mendukung kebutuhan air selama pemadaman. Setelah kembali dari lokasi, kendaraan tersebut langsung diisi kembali agar dapat digunakan ketika muncul laporan baru.

“Kalau kendaraan BPBD dan Damkar kekurangan air, kami memberikan dukungan suplai air ke lokasi. Kendaraan kami siagakan dan setelah kembali langsung diisi lagi,” jelas Mustafa.

Penanganan juga diarahkan untuk mencegah api bergerak menuju permukiman. Tim melihat arah penyebaran api sekaligus mencari batas yang dapat digunakan untuk mengendalikan pergerakannya.

“Pemukiman kami amankan lebih dulu. Ketika ada spot kebakaran, kami lihat arah penyebarannya dan bagaimana membatasi supaya tidak masuk ke pemukiman,” tuturnya.

Di sejumlah kawasan gambut Bulungan, kanal blok turut menjadi bagian dari pembatas hamparan. Kanal tersebut memiliki lebar sekitar lima meter dan terdapat air yang dapat membantu menghambat pergerakan api.

Luas lahan yang terbakar dalam beberapa kejadian bervariasi. Mulai sekitar dua hektare, empat hektare hingga mencapai 10 hektare. Ketika api meluas sejak siang, pemadaman dapat berlangsung hingga malam.

“Kalau apinya sudah meluas, teman-teman bisa bekerja sampai tengah malam. Ada yang dua hektare, empat hektare, bahkan ada yang sampai 10 hektare,” ujarnya.

Selain Bulungan, wilayah kerja BWS Kalimantan V mencakup Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di daerah tersebut, jumlah titik panas disebut jauh lebih tinggi.

Berdasarkan informasi BMKG yang diterima BWS, hotspot pernah mencapai 200 hingga hampir 400 titik dalam satu periode.

“Untuk wilayah Kalimantan Timur, yang paling banyak titik hotspot itu di Berau. Pernah 200, 300, bahkan hampir 400 titik panas dalam satu periode. Di sana memang kondisinya cukup panas dan sudah lama tidak mendapatkan hujan,” ungkap Mustafa.

BWS menempatkan sekitar 15 personel di Berau. Mereka bekerja bersama BPBD, pemadam kebakaran, TNI-Polri dan masyarakat ketika menerima laporan kebakaran.

Dua unit water tank juga disiapkan di Berau untuk mendukung suplai air. Armada tersebut membantu mengisi kebutuhan kendaraan pemadam ketika persediaan air di lokasi menipis.

“Kami operasikan dua mobil water tank. BPBD punya dua unit, Damkar juga punya dua unit, lalu kami mendukung airnya. Selang mereka bisa mencapai 300 sampai 500 meter, sehingga ketika air di kendaraan pemadam kurang, water tank kami langsung menyuplai,” jelasnya.

Informasi titik panas dari BMKG diteruskan kepada tim lapangan, termasuk Polsek, Koramil dan masyarakat. Dengan pola tersebut, personel dan kendaraan dapat segera disiapkan ketika muncul laporan api.

Mustafa mengatakan, seluruh perkembangan penanganan Karhutla dilaporkan setiap hari kepada Satgas Kekeringan Kementerian Pekerjaan Umum. Satgas tersebut melibatkan BWS bersama BPBD, Damkar, TNI-Polri dan masyarakat dalam penanganan kebakaran.

“Laporan kejadian kami sampaikan setiap hari kepada pimpinan di Satgas Kementerian PU. Operasionalnya memang tidak sedikit, terutama BBM dan kebutuhan kendaraan. Air bisa kami ambil dari sumber yang tersedia, termasuk berkoordinasi dengan PDAM. Jadi semua pihak saling mendukung di lapangan,” pungkasnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
water tank pemadaman karhutla