HARIAN RAKYAT KALTARA— Pelaku usaha penyedia makanan dan minuman di Kalimantan Utara (Kaltara) menghadapi tekanan kenaikan harga sepanjang setahun terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 4,02 persen secara tahunan (y-on-y) pada Agustus 2026.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim mengatakan, kenaikan tersebut berasal dari subkelompok jasa pelayanan makanan dan minuman yang mengalami inflasi dengan angka yang sama, yakni 4,02 persen.
Perubahan harga tersebut tercermin dari indeks kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang naik dari 108,47 pada Agustus 2025 menjadi 112,83 pada Agustus 2026.
“Dari sisi kontribusi terhadap inflasi, kelompok ini memberikan andil sebesar 0,34 persen terhadap inflasi tahunan Kaltara,” ungkapnya, belum lama ini.
Sejumlah produk yang dijual penyedia makanan dan minuman turut menjadi sumber tekanan harga. Nasi dengan laukmenjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni 0,10 persen. Selanjutnya, bakso siap santap memberikan andil 0,05 persen.
Sementara kue kering berminyak dan bubur masing-masing memberikan kontribusi sebesar 0,03 persen. Produk makanan dan minuman lainnya seperti soto, sate, es, dan ayam goreng masing-masing memberikan andil 0,02 persen. Adapun martabak, mi, gado-gado, serta roti bakar masing-masing menyumbang 0,01 persen.
Rangkaian data tersebut menggambarkan adanya tekanan harga yang cukup luas pada berbagai jenis makanan dan minuman yang disediakan pelaku usaha.
Perubahan harga tidak hanya terjadi pada satu jenis menu, tetapi mencakup berbagai produk yang dikonsumsi masyarakat.
“Meski inflasi tahunan kelompok penyediaan makanan dan minuman mencapai 4,02 persen. Kenaikan harga pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya relatif terbatas,” jelasnya.
Pihaknya mencatat kelompok tersebut hanya memberikan andil 0,01 persen terhadap inflasi secara bulanan (m-to-m). Pada periode ini, nasi dengan lauk menjadi komoditas yang memberikan andil sebesar 0,01 persen.
“Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga pada sektor penyedia makanan dan minuman lebih terlihat dalam perbandingan tahunan dibandingkan secara bulanan,” terangnya.
Bagi pelaku usaha, perubahan harga berbagai komoditas tersebut menjadi bagian dari dinamika usaha penyedia makanan dan minuman.
Sementara bagi konsumen, kenaikan harga menu makanan siap santap dapat berpengaruh terhadap pengeluaran sehari-hari. (fai/uno)
Editor : Nurismi