Dorong Perdagangan Resiprokal, BI Kaltara Harap Transaksi Bisnis Jatim Berlanjut Jangka Panjang

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 12:15 WIB
Kepala KPwBI Provinsi Kaltara, Agus Taufik. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
Kepala KPwBI Provinsi Kaltara, Agus Taufik. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Bank Indonesia (BI) Kaltara berharap kesepakatan bisnis yang terbentuk tidak berhenti pada forum tersebut. Tetapi berlanjut menjadi transaksi perdagangan antardaerah.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Agus Taufik, mengatakan sejumlah perjanjian kerja sama dan komitmen transaksi telah dihasilkan dalam kegiatan tersebut. Pertemuan antara pelaku usaha dari kedua provinsi juga sebelumnya telah dilakukan secara daring.

“Transaksinya sudah sampai Rp 2 triliun ya. Kami berharap akan ada terus penambahan, dan tidak berakhir di hari ini saja. Karena sudah ada pertemuan-pertemuan sebelumnya secara online, dan kami berharap setelah hari ini pun akan ada tambahan transaksi,” kata Agus, Selasa (8/9) lalu. 

Menurut dia, hubungan perdagangan Jatim dan Kaltara diharapkan berlangsung dua arah. Selain memenuhi kebutuhan Kaltara, produk unggulan dari provinsi paling utara di Pulau Kalimantan tersebut juga memiliki kesempatan masuk ke pasar Jawa Timur.

“Kami tentunya berharap resiprokal. Artinya dari Kalimantan Utara juga ada transaksi penjualan ke sana. Produk-produk unggulan Kalimantan Utara pun demikian,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, sekitar 20 UMKM binaan BI Kaltara ikut membawa produk lokal. Di antaranya makanan, batik, tenun, bandeng, cokelat hingga kain. Pelibatan pelaku usaha dilakukan BI bersama Dinas Perindagkop Kaltara.

Agus mengatakan, produk lokal tersebut dapat diperluas pemasarannya melalui pertemuan bisnis atau business matching.

Forum tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan UMKM dengan calon pembeli, lembaga pembiayaan hingga akses pasar ekspor.

“Business matching untuk pembiayaannya, kemudian business matching untuk ekspor, mempertemukan antara calon-calon pembeli potensial di mana pun, di dalam negeri maupun di luar negeri. Termasuk bagaimana agar UMKM di sini juga bisa melakukan transaksi secara online, agar pasarnya semakin luas,” jelasnya.

Selain produk UMKM, sarang burung walet menjadi salah satu komoditas Kaltara yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar ekspor. Permintaan komoditas tersebut disebut datang dari sejumlah negara di Asia dan negara lainnya.

“Walet juga merupakan salah satu komoditas penting dan memberikan nilai ekonomis yang tinggi ya, apalagi orientasi ekspor. Banyak permintaan burung walet dari negara-negara tetangga, termasuk di Asia, kemudian di negara-negara lain. Mudah-mudahan ke depan bisa dipenuhi dari Kalimantan Utara juga,” katanya.

Untuk sektor peternakan, nilai transaksi yang tercatat mencapai sekitar Rp 1,2 triliun. Agus menyebut angka tersebut menggambarkan kebutuhan Kaltara yang terus meningkat. Terutama seiring perkembangan kawasan industri dan kebutuhan masyarakat.

“Kebutuhannya semakin meningkat seiring dengan pengembangan kawasan industri, kemudian juga kebutuhan sehari-hari masyarakat yang barangkali belum dipenuhi sendiri oleh Kalimantan Utara,” ungkapnya.

Agus menyebut kondisi tersebut membuat perdagangan antardaerah menjadi penting. Kaltara memiliki sejumlah komoditas unggulan seperti pertambangan, sawit dan perikanan. Sementara beberapa kebutuhan pangan dan komoditas lainnya masih didatangkan dari luar daerah.

“Ini hal yang positif sebagai daerah yang kekayaannya di sektor pertambangan atau mungkin sawit. Sektor perikanan juga kita banyak. Tiap daerah punya kelebihan dan kekurangan. Makanya ada business matching, dipertemukan dalam satu forum, ada pembeli dan penjual,” ujarnya.

Arus perdagangan tersebut juga berkaitan dengan ketersediaan kebutuhan pangan dan pengendalian inflasi. Menurut Agus, pasokan dari daerah lain, termasuk Jawa Timur, dapat membantu memenuhi kebutuhan komoditas pangan Kaltara.

Ia menyebut inflasi Kaltara pada Agustus 2026 tercatat 2,17 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut dinilai masih terjaga meskipun kebutuhan pangan Kaltara masih banyak dipasok dari luar daerah.

“Inflasi kita relatif terjaga, terakhir di angka 2,17 persen year on year. Dan tadi juga Pak Gubernur menyampaikan, Kalimantan Utara menjadi inflasi yang relatif terendah,” katanya.

Dengan nilai transaksi yang telah mencapai Rp 2 triliun, BI Kaltara berharap pertemuan pelaku usaha Jatim dan Kaltara menghasilkan hubungan dagang yang berkelanjutan.

Kesepakatan yang telah terbentuk juga diharapkan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan dan aktivitas ekonomi di Kaltara.

“Dengan adanya aktivitas perdagangan dan investasi yang semakin meningkat di Kalimantan Utara. Tentunya ini akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Utara. Mudah-mudahan kerja sama ini terus berkembang, transaksi terus bertambah, dan hubungan perdagangan antara Kalimantan Utara dengan Jawa Timur semakin kuat,” tutupnya. (fai/sas/uno) 

Editor : Nurismi
investasi KPwBI Kaltara