Tolak Terus Pasok Bahan Mentah, Pemprov Kaltara Dorong Hilirisasi Komoditas Gandeng Jatim

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:50 WIB
INVESTASI: Rumput laut salah satu komoditas yang menjanjikan dan menjadi peluang investasi baru di Kaltara. (HRK)
INVESTASI: Rumput laut salah satu komoditas yang menjanjikan dan menjadi peluang investasi baru di Kaltara. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Kalimantan Utara (Kaltara) tidak ingin terus menjadi daerah pemasok bahan mentah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara mulai mendorong kerja sama dengan daerah lain.

Salah satunya Jawa Timur untuk mengembangkan industri pengolahan, memperluas pasar, sekaligus menarik investasi ke daerah. 

Gubernur Kaltara Zainal A. Paliwang mengatakan, Kaltara memiliki kekayaan sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.

Sejumlah sektor yang ditawarkan kepada investor Jatim meliputi perikanan, perkebunan, pertambangan, energi dan industri. 

Di sektor perikanan, Kaltara memiliki komoditas seperti kepiting bakau, kepiting soka, udang windu dan rumput laut. Sedangkan sektor perkebunan memiliki sawit, kakao, kopi, lada dan kelapa. 

Potensi kayu legal dan rotan murai juga menjadi bagian dari komoditas yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan. Namun, pemerintah tidak ingin komoditas tersebut hanya keluar daerah dalam bentuk bahan mentah. 

Hilirisasi menjadi salah satu agenda yang didorong Kaltara. Produk perikanan dan perkebunan diharapkan dapat diolah terlebih dahulu, sehingga nilai tambahnya dinikmati di daerah. 

“Komoditas unggulan Kaltara harus didorong masuk ke proses hilirisasi, pengolahan, dan perluasan pasar,” bebernya, Rabu (9/9). 

Menurut dia, dukungan pelaku usaha Jatim diperlukan untuk membangun mata rantai tersebut. Jatim memiliki basis industri dan jaringan perdagangan yang dapat menjadi pintu masuk bagi produk Kaltara ke pasar yang lebih luas. 

“Sebaliknya, Kaltara juga membutuhkan pasokan dari Jawa Timur untuk memenuhi berbagai kebutuhan daerah. Mulai pangan, pakan, pupuk dan bibit hingga produk industri serta bahan bangunan,” ujarnya. 

Dengan demikian, kerja sama yang dibangun diharapkan tidak sekadar mempertemukan penjual dan pembeli. Pemerintah ingin hubungan dagang tersebut berkembang menjadi kemitraan investasi dan industri. 

“Besarnya peluang kerja sama terlihat dari nilai transaksi Misi Dagang dan Investasi Kaltara-Jatim yang mencapai Rp 2,507 triliun. Nilai tersebut terdiri atas penjualan Jawa Timur ke Kaltara sebesar Rp 1,644 triliun dan pembelian Jatim dari Kaltara Rp 863,28 miliar,” sebut dia. 

Ia berharap angka tersebut menjadi awal dari kerja sama yang lebih panjang. Transaksi yang terjadi dalam forum tidak boleh berhenti sebagai kesepakatan di atas kertas.

Tetapi harus ditindaklanjuti dengan kegiatan usaha dan investasi nyata. Selain persoalan hilirisasi, pemerintah juga berupaya membenahi sisi distribusi. 

“Biaya logistik menjadi salah satu tantangan yang harus ditekan agar produk Kaltara dapat bersaing ketika masuk ke pasar Jawa,” jelasnya. 

Salah satu langkah yang ditawarkan adalah mengoptimalkan muatan arus balik Tol Laut rute Surabaya-Tarakan. 

Selama ini kapal yang membawa kebutuhan dari Jawa menuju Kaltara diharapkan dapat kembali membawa komoditas unggulan dari Kaltara.

Pola tersebut dinilai dapat meningkatkan efisiensi angkutan, sekaligus memperlancar arus barang antara kedua wilayah. 

“Semakin banyak armada, perputaran produk dari Jawa Timur dan Kaltara akan semakin cepat dan efisien,” kata dia. 

Peluang investasi juga diarahkan ke Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Tanah Kuning-Mangkupadi di Kabupaten Bulungan.

Kaltara menawarkan kawasan tersebut sebagai ruang pengembangan industri yang dapat memanfaatkan potensi energi hijau dan sumber daya daerah. 

“Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan rantai pasok baru. Bahan baku tersedia di Kaltara, proses pengolahan berkembang di daerah. Sementara jaringan industri dan pasar Jatim dapat menjadi salah satu pintu pemasaran,” ungkapnya. 

Pengembangan hilirisasi sendiri menjadi bagian dari arah investasi Kaltara. Pemprov sebelumnya telah menawarkan sejumlah proyek.

Termasuk hilirisasi perikanan dan rumput laut, energi baru terbarukan serta peluang industri di kawasan Tanah Kuning-Mangkupadi. 

“Bagi Kaltara, pola kerja sama seperti ini penting untuk mengubah struktur ekonomi daerah. Sumber daya alam tidak sekadar dikirim keluar dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah,” terangnya. 

Jika investasi pengolahan tumbuh, manfaatnya tidak hanya berupa peningkatan nilai komoditas. Aktivitas industri juga berpotensi membuka lapangan kerja, memperkuat usaha lokal dan menciptakan mata rantai ekonomi baru di daerah. 

Kerja sama dengan Jawa Timur pun diharapkan menjadi salah satu pintu masuk untuk mewujudkan target tersebut.

Kaltara memiliki sumber daya dan ruang investasi, sedangkan Jatim memiliki kekuatan industri, perdagangan dan jaringan pasar. 

“Tantangannya kini memastikan berbagai kesepakatan yang telah dibangun benar-benar berlanjut menjadi investasi dan kegiatan produksi. Dengan hilirisasi sebagai arah utama, Kaltara berharap kerja sama dengan Jatim tidak berhenti pada transaksi. Tetapi berkembang menjadi kemitraan ekonomi jangka panjang,” tuturnya. (fai/uno)

Editor : Nurismi
investasi pemprov kaltara