BERAU POST - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Tanjung Selor Timur, khususnya Sajau Hilir, menghadapi tantangan berat.
Bukan hanya karena luasan area yang terbakar, tetapi juga karakteristik tanah gambut yang membuat api sulit ditaklukkan.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Utara Nur Laila mengatakan, ketebalan gambut di sejumlah titik kebakaran bahkan sangat dalam. Lapisan gambut disebut dapat mencapai ketinggian hingga se-dada manusia.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman dari permukaan tidak efektif. Api yang terlihat di permukaan dapat padam, tetapi bara masih bertahan di bawah lapisan tanah. “Api itu bisa merambat di dalam tanah,” kata dia, Minggu (6/9).
Karakteristik tersebut membuat petugas harus menggunakan metode berbeda dibandingkan pemadaman pada lahan biasa. Salah satu peralatan yang digunakan adalah nozel gambut atau nozel suntik.
Alat tersebut ditancapkan langsung ke lapisan tanah gambut untuk menyalurkan air menuju titik bara yang berada di bawah permukaan.
“Cara itu dilakukan agar air tidak hanya membasahi bagian atas lahan, tetapi dapat mencapai sumber panas yang tersembunyi di dalam lapisan gambut,” jelasnya.
Persoalan semakin kompleks ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api. Angin kencang dapat membuat kobaran bergerak dengan cepat dan memunculkan titik api baru di lokasi berbeda.
Ia menggambarkan suara api yang muncul ketika angin bertiup kencang terdengar seperti gemuruh. Kondisi tersebut membuat petugas harus memperhitungkan arah angin dan perkembangan api sebelum menentukan pola pemadaman.
“Medan gambut juga membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi. Api yang merambat di bawah permukaan membuat kondisi tanah dan lokasi sumber bara tidak selalu dapat diketahui hanya melalui pengamatan visual,” bebernya.
Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya dengan menyiram bagian lahan yang terlihat terbakar. Petugas perlu memastikan bara di dalam tanah benar-benar mendapatkan penanganan untuk mencegah api kembali muncul.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa karhutla di lahan gambut memiliki karakter yang berbeda dan membutuhkan penanganan khusus.
“Ketika lapisan gambut tebal sudah terbakar, proses pemadaman dapat berlangsung lebih lama karena sumber api berada di bawah permukaan,” terangnya.
Dishut Kaltara menilai pemahaman terhadap karakter lahan menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan karhutla.
“Strategi pemadaman harus disesuaikan dengan kondisi lapangan agar upaya petugas tidak hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga menghentikan penjalaran bara di dalam tanah,” pungkasnya. (fai/udi)
Editor : Nurismi