HARIAN RAKYAT KALTARA - Kalimantan Utara memiliki potensi sumber daya energi yang besar. Mulai dari tenaga air, batu bara, minyak dan gas bumi hingga energi surya dan biomassa.
Namun, kekayaan sumber daya tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemerataan akses listrik bagi masyarakat.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara Ferdy Manurun Tanduklangi mengatakan, potensi tenaga air di Kaltara diperkirakan mencapai sekitar 13.000 megawatt (MW).
Selain itu, Kaltara memiliki cadangan batu bara lebih dari 1 miliar ton. Potensi minyak dan gas bumi juga tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Tarakan, Bunyu, Nunukan, serta kawasan lepas pantai.
“Di sektor energi terbarukan, peluang pengembangan juga terbuka melalui pemanfaatan tenaga surya dan biomassa. Terutama yang bersumber dari sektor kehutanan dan perkebunan,” bebernya, Kamis (3/9).
Besarnya potensi tersebut menempatkan Kaltara pada posisi strategis dalam pengembangan energi nasional. Sumber daya energi yang tersedia juga dinilai dapat menjadi pendukung bagi pengembangan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) serta proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan.
Meski demikian, Ferdy mengakui masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Terutama dalam memastikan seluruh masyarakat memperoleh akses listrik.
Berdasarkan data yang dibahas, rasio elektrifikasi Kaltara berada di kisaran 96,96 persen. Dari sekitar 482 desa, sebanyak 422 desa telah mendapatkan akses listrik, sementara sekitar 60 desa masih belum berlistrik.
“Kondisi tersebut membuat sekitar 7.956 kepala keluarga belum terlayani listrik. Potensi energi kita besar, tetapi pemerataan akses masih menjadi tantangan. Wilayah perbatasan dan pedalaman membutuhkan biaya pembangunan infrastruktur yang tinggi,” jelasnya.
Wilayah seperti Krayan, Lumbis dan Apau Kayan, kata dia, menghadapi tantangan geografis serta keterbatasan transportasi.
Kondisi tersebut membuat pembangunan jaringan dan infrastruktur kelistrikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di sejumlah daerah, masyarakat juga masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel dan genset.
“Ketergantungan tersebut membuat pasokan energi rentan terhadap gangguan distribusi sekaligus perubahan harga bahan bakar,” ujarnya.
Ketergantungan terhadap pasokan bahan bakar minyak (BBM) dari luar daerah turut menjadi perhatian pemerintah dalam upaya memperkuat ketahanan energi Kaltara. Karena itu, pengembangan sumber energi lokal menjadi salah satu opsi penting untuk mengurangi kerentanan tersebut.
Selain pembangunan pembangkit, penguatan cadangan energi juga dinilai diperlukan. Infrastruktur penyimpanan dan cadangan energi strategis perlu dipersiapkan, untuk mengantisipasi apabila terjadi gangguan terhadap pasokan.
Di sisi lain, pengembangan energi baru dan terbarukan membuka peluang besar bagi Kaltara untuk memperkuat kemandirian energi. PLTA Kayan, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di wilayah terpencil, serta pemanfaatan biomassa menjadi sejumlah potensi yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik daerah.
“Sinkronisasi dengan pemerintah pusat diperlukan agar perencanaan pembangunan energi semakin kuat dan potensi yang kita miliki dapat dimanfaatkan secara optimal,” terangnya.
Ia menambahkan, penguatan ketahanan energi semakin mendesak seiring meningkatnya aktivitas pembangunan di Kaltara. Pengembangan kawasan industri dan agenda hilirisasi akan meningkatkan kebutuhan energy.
Sehingga ketersediaan pasokan yang andal dan merata menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ini jadi tantangan Kaltara ke depan bukan semata-mata bagaimana menghasilkan energy. Tetapi juga memastikan energi tersebut dapat tersedia, terjangkau dan menjangkau masyarakat hingga wilayah perbatasan dan pedalaman,” harapnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi