HARIAN RAKYAT KALTARA — Rencana penerbangan internasional dari Bandara Juwata Tarakan menuju Tawau, Malaysia, mulai memasuki tahap pematangan fasilitas dan prosedur layanan penumpang.
Rute Berau—Tarakan—Tawau yang direncanakan dilayani Wings Air dengan pesawat ATR 72 tersebut masih menunggu proses perizinan rute.
Kepala Bidang, Teknik dan Operasi BLU UPBU Juwata Tarakan Fahrudin Rahmad, mengatakan persiapan di bandara kini difokuskan pada pemenuhan fasilitas penerbangan internasional. Termasuk alur penumpang, keamanan, serta layanan Customs, Immigration and Quarantine (CIQ).
“Rapat membahas percepatan kesiapan Bandara Juwata Tarakan sebagai bandara internasional untuk operasional penerbangan penumpang berjadwal,” kata Fahrudin, Kamis (2/9).
Juwata sebelumnya sempat kehilangan status sebagai bandara internasional. Namun, melalui peraturan menteri yang baru, status tersebut kembali ditetapkan.
Dengan keputusan itu, pembukaan kembali layanan penerbangan internasional menjadi salah satu agenda yang tengah dipersiapkan.
Wings Air direncanakan membuka rute Berau—Tarakan—Tawau dengan frekuensi awal tiga kali dalam sepekan. Penerbangan perdana yang sebelumnya direncanakan pada 1 September masih tertunda karena proses perizinan rute belum selesai.
“Di sisi keberangkatan, penumpang nantinya diarahkan melalui tahapan check-in, Security Check Point (SCP), pemeriksaan imigrasi, ruang tunggu internasional hingga boarding gate,” tegasnya.
Sejumlah kebutuhan Imigrasi juga dibahas, termasuk ruang pemeriksaan khusus, penyesuaian meja untuk perangkat face recognition.
Serta pembagian ruang kantor berukuran 3x6 meter menjadi beberapa bagian untuk kebutuhan secondary inspection, Passenger Analysis Unit dan ruang aduan.
Penataan alur juga menjadi perhatian, terutama untuk mengantisipasi kepadatan antrean saat terdapat rombongan penumpang.
Dari sisi keamanan penerbangan, bandara perlu menyiapkan ruang pemeriksaan khusus SCP serta X-Ray cadangan. Sebagai backup apabila perangkat utama mengalami gangguan. Kemampuan pemeriksaan secara manual juga harus dipastikan.
“Bea Cukai dan Karantina nantinya ditempatkan di area keberangkatan untuk melakukan pemantauan dan koordinasi terkait barang yang membutuhkan pemeriksaan, izin khusus maupun tindakan karantina,” ungkapnya.
Sementara fasilitas keberangkatan lainnya mencakup evaluasi kapasitas ruang tunggu, penggunaan check-in counter 1 dan 2 yang direncanakan untuk Wings Air, perbaikan peralatan. Serta memastikan ketersediaan listrik dan jaringan Wi-Fi/LAN untuk mendukung sistem operasional.
Pada area kedatangan, sejumlah fasilitas juga harus disiapkan. Penumpang akan diarahkan melalui area transisi tertutup setelah turun dari pesawat sebelum menjalani pemeriksaan berikutnya.
Area tersebut akan mencakup fasilitas Visa on Arrival (VOA), pemeriksaan suhu dan thermal scanner oleh petugas karantina kesehatan.
Penumpang dengan suhu tubuh di atas normal akan diarahkan ke ruang observasi sebelum melanjutkan proses kedatangan.
“Alur selanjutnya mencakup pemeriksaan Imigrasi, pengambilan bagasi, Bea Cukai dan Karantina. Ruang Imigrasi juga disiapkan untuk fungsi penerimaan, layanan aduan, secondary inspection hingga detensi sementara,” sebut Fahrudin.
Bea Cukai membutuhkan fasilitas meja, kursi, listrik, jaringan dan CCTV yang merekam secara berkesinambungan mulai dari area kedatangan hingga penumpang keluar dari kawasan pabean.
Penataan meja pemeriksaan juga akan diatur agar tidak terlalu dekat dengan pintu keluar. Dalam pembahasan sementara, seluruh area airside disepakati untuk ditetapkan sebagai kawasan pabean.
Untuk Karantina Kesehatan, tiga ruangan yang tersedia akan digabung menjadi satu area lebih luas dengan menggunakan tirai portabel.
Badan Karantina Indonesia juga diperlukan dalam penanganan produk pertanian maupun hewan yang berkaitan dengan penerbangan internasional.
“Karena hanya tersedia satu X-Ray untuk pemeriksaan bagasi domestik dan internasional, bagasi penumpang internasional akan diberi tanda khusus oleh maskapai. Agar dapat dibedakan saat proses pemeriksaan,” tuturnya.
Sejumlah fasilitas pendukung lainnya turut menjadi perhatian, termasuk posisi toilet dan kamar mandi yang harus berada di luar area clearance. Kaca pada area kedatangan internasional juga akan diberi sandblast atau lapisan film privasi.
Fahrudin mengatakan, tindak lanjut rapat akan diawali dengan tinjauan lapangan dan pengukuran langsung terhadap fasilitas yang tersedia.
Kebutuhan modifikasi ruangan, pengadaan meja dan sekat Imigrasi, ruang SCP, X-Ray cadangan serta fasilitas instansi terkait akan segera ditindaklanjuti.
Koordinasi juga akan dilakukan dengan Bea Cukai, Karantina, Avsec, maskapai dan instansi terkait lainnya untuk memastikan petugas tersedia di titik-titik pelayanan.
“Koordinasi intensif antarinstansi dilakukan agar kebutuhan utama dapat dipenuhi dalam waktu sekitar satu sampai dua minggu, menyesuaikan proses perizinan rute,” katanya.
Hasil tinjauan lapangan selanjutnya akan menjadi dasar penetapan tindak lanjut dan penyelesaian kebutuhan fasilitas.
Persiapan tersebut berjalan bersamaan dengan proses perizinan rute Berau—Tarakan—Tawau yang menjadi pintu masuk bagi kembali beroperasinya penerbangan internasional berjadwal dari Juwata. (sas/uno)
Editor : Nurismi