Waspadai Angin Kencang dan Gelombang, Dishub Kaltara Pantau Rutin Keselamatan Jalur Laut

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:46 WIB

AKTIVITAS PELAYARAN: Jarak pandang masih berada pada kondisi yang memungkinkan bagi operasional transportasi sungai termasuk speedboat. (FAISAL/HRK)

AKTIVITAS PELAYARAN: Jarak pandang masih berada pada kondisi yang memungkinkan bagi operasional transportasi sungai termasuk speedboat. (FAISAL/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Aktivitas pelayaran di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) masih berjalan aman di tengah kondisi kabut asap yang muncul dalam beberapa hari terakhir. 

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), jarak pandang saat ini masih berada pada kondisi yang memungkinkan bagi operasional transportasi sungai, termasuk speedboat. 

Kepala Seksi Lalu Lintas dan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (LLASDP) Dinas Perhubungan Kaltara Masahara, mengatakan jarak pandang saat ini masih cukup mendukung operasional speedboat. 

Meski masih aman, kondisi kabut perlu diwaspadai. Karena ketebalannya cenderung meningkat pada malam menjelang subuh hingga pagi hari. 

“Kondisi tersebut dapat memengaruhi jarak pandang pengguna transportasi air,” kata dia. 

Pemantauan kondisi di lapangan tetap dilakukan untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Karena itu, operator speedboat diminta tetap memperhatikan perkembangan kondisi cuaca dan memastikan aspek keselamatan sebelum maupun selama perjalanan. 

Terpisah, Forecaster BMKG Tanjung Harapan Kabupaten Bulungan Agus, menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya kelembapan udara pada periode tersebut.

Partikel asap dari aktivitas pembakaran lahan yang bercampur dengan udara lembap dapat membuat kabut lebih mudah terbentuk dan mengurangi jarak pandang. 

“Partikel hasil pembakaran lahan bercampur dengan udara lembap sehingga pandangan dapat menjadi lebih terbatas,” jelasnya. 

Untuk transportasi sungai, kondisi saat ini dinilai masih mendukung aktivitas pelayaran. Namun, operator tetap perlu memperhatikan perubahan jarak pandang.

Terutama ketika konsentrasi kabut meningkat pada pagi hari. Kondisi perairan sungai memiliki karakteristik berbeda dibandingkan wilayah laut. 

Sementara di laut, ruang pandang yang lebih luas dapat menghadirkan faktor lain yang perlu diperhitungkan. Termasuk fenomena optik seperti fatamorgana yang dapat membuat objek di kejauhan terlihat berbeda dari kondisi sebenarnya. 

Selain jarak pandang, kondisi angin juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan pengguna transportasi air.

Kecepatan angin dapat memengaruhi tinggi gelombang, terutama bagi masyarakat yang melakukan perjalanan melalui jalur laut.

Dengan kecepatan sekitar 20 hingga 40 knot berpotensi memicu gelombang laut dengan ketinggian mencapai 1,5 hingga 2 meter. 

“Kalau angin di atas 20 knot sampai 40 knot, itu berdampak memicu gelombang laut 1,5 hingga 2 meter,” imbuhnya. 

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bagi operator maupun masyarakat yang hendak melakukan perjalanan melalui jalur laut.

Kecepatan speedboat, jarak pandang, arah angin, serta tinggi gelombang harus menjadi pertimbangan sebelum perjalanan dilakukan. 

Meski saat ini belum terdapat gangguan signifikan terhadap aktivitas transportasi sungai, perkembangan kondisi cuaca tetap perlu dipantau. 

“Perubahan kelembapan, arah dan kecepatan angin, serta konsentrasi asap dapat memengaruhi kondisi perairan dan jarak pandang dalam waktu relatif singkat,” ungkapnya. 

Masyarakat yang menggunakan speedboat maupun moda transportasi air lainnya diimbau mengecek informasi cuaca sebelum berangkat.

Operator juga diminta memastikan kondisi perjalanan benar-benar memungkinkan. Khususnya pada pagi hari ketika kabut berpotensi lebih pekat. (fai/uno)

Editor : Nurismi
BMKG Tanjung Harapan kabut asap