HARIAN RAKYAT KALTARA - Di salah satu sudut Kota Bandung, teknologi pesawat tanpa awak (drone) dikembangkan oleh sejumlah insinyur dan teknisi.
Melalui proses panjang dari balik meja kerja, di dalam ruang perakitan, dan area pengujian serta di antara rangka pesawat, kabel, perangkat elektronik, dan layar komputer, mereka bekerja memastikan setiap bagian dapat berfungsi sebelum sebuah drone diterbangkan.
Dari sini perkembangan teknologi penerbangan tanpa awak di Indonesia terus berjalan mengikuti kebutuhan di berbagai bidang.
BETA-UAS nama tempatnya. Didirikan sejak tahun 2016 oleh sejumlah alumni Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung (ITB), pengembangan drone dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari perancangan, rekayasa struktur, integrasi sistem elektronik, perakitan, hingga pengujian penerbangan.
Setiap tahapan membutuhkan ketelitian karena kesalahan kecil pada satu komponen dapat memengaruhi kinerja drone ketika terbang di udara.
Drone yang dikembangkan terdiri dari beberapa jenis, di antaranya fixed-wing dan multirotor. Pesawat fixed-wing memiliki karakteristik menyerupai pesawat pada umumnya dan dapat digunakan untuk penerbangan dengan cakupan wilayah luas.
Sementara multirotor memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal serta bergerak lebih fleksibel di ruang yang terbatas.
Dalam perkembangannya, drone tidak hanya digunakan untuk mengambil gambar dari udara. Kamera dan berbagai sensor yang dibawanya dapat menghasilkan data untuk kebutuhan pemetaan, survei, pemantauan kawasan, pertanian, kehutanan, inspeksi infrastruktur, hingga pengumpulan informasi di wilayah yang sulit dijangkau manusia.
Sistem kendali penerbangan dan pengolahan data juga terus berkembang, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dan kemampuan pemrosesan data langsung di udara.
Produk pengembangan BETA-UAS ini sudah digunakan di sejumlah wilayah Indonesia dan beberapa negara lain, termasuk Australia, Korea Selatan, serta sejumlah negara di kawasan Asia.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan teknologi pesawat tanpa awak yang semakin banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Namun, di balik setiap penerbangan terdapat proses yang tidak selalu terlihat. Ada tangan yang merakit komponen, mata yang memeriksa setiap sambungan, layar yang menampilkan data, serta insinyur yang terus mengamati pergerakan drone dari daratan.
Pengujian, kegagalan, evaluasi, dan perbaikan menjadi bagian dari perjalanan sebelum sebuah drone kembali mengudara.
Dari sebuah bengkel kerja, mimpi itu perlahan menemukan sayapnya. Ia melintasi sawah, hutan, kawasan industri, pegunungan, bahkan melampaui batas-batas negara.
Setiap penerbangan menjadi penanda bahwa kemampuan untuk berinovasi tidak mengenal batas geografis, selama ada pengetahuan, kerja keras, dan keyakinan untuk terus melangkah.
Dan di langit Bandung, mimpi itu terus terbang membawa harapan agar suatu hari nanti, teknologi buatan Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan di negeri sendiri, tetapi juga dipercaya dan menginspirasi dunia.
Sebab langit bukan lagi sekadar ruang untuk diterbangi, melainkan tempat di mana mimpi-mimpi anak bangsa menemukan arah tujuannya.
Editor : Nurismi