Pelaku UMKM Batik Yogus asal Bulungan Beromzet Rp 40 Juta, Modal Awal Tak Sampai Sejuta Rupiah

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:15 WIB
BATIK YOGUS: Pekerja tengah memproduksi batik yang sudah dipesan pelanggan. (IPUNK/HRK)
BATIK YOGUS: Pekerja tengah memproduksi batik yang sudah dipesan pelanggan. (IPUNK/HRK)

Menekuni usaha batik tentu memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Batik juga merupakan warisan budaya yang mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage atau warisan budaya tak benda milik Indonesia. 

PURWANTO, Tanjung Selor

KONDISI terik matahari yang menyengat di wilayah Kabupaten Bulungan, tak menghalangi untuk mendatangi lokasi produksi pengrajin batik Yogus, Rabu (26/8).

Lokasi pelaku UMKM batik Yogus berada di wilayah Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Sepunggur RT 003 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. 

Sesampainya di lokasi tersebut, terlihat 5 pekerja tengah fokus mengerjakan pembuatan batik. Berselang beberapa detik, seorang pemuda berusia 27 tahun menyambut dari dalam rumah. 

Pemuda itu bernama Aldi Bagus Firmansyah, menyambut hangat kedatangan tamu dan mempersilakan duduk di kursi rotan.

Terlihat di ruangan tamu dalam etalase, terpajang kain-kain dan baju batik yang sudah siap untuk dijual. Dan mungkin saja sudah menjadi pesanan pelanggan. 

Pria kelahiran tahun 1999 itu pun memulai menceritakan awal merintis usaha Batik Yogus yang kini sudah dikenal hingga kancah nasional. Usaha yang ditekuni hingga saat ini, berawal pada tahun 2020 lalu.

Pada saat itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (KPwBI Kaltara) mencari peserta untuk pelatihan membatik. 

Namun, di tahun tersebut kondisi Indonesia terkendala pandemi COVID-19. Sehingga proses pelatihan pun harus dilaksanakan secara virtual.

Proses pelatihan pun diikuti Aldi—sapaan akrab Aldi Bagus Firmansyah mulai pewarnaan hingga menghasilkan produk batik. 

Bermodalkan pelatihan itulah, Aldi perlahan menekuni usaha batik. Namun, keberhasilan tidak langsung dirasakan anak kedua dari tiga bersaudara tersebut. Pasalnya, pada tahun pertama dan kedua, hasil produk batiknya belum cukup dikenal. 

“Untuk pemasaran produk pun saya merasa agak kesulitan. Kita awalnya hanya menitip ke pengrajin batik yang sudah lama eksis untuk pemasarannya,” ucap Aldi. 

Aldi mengakui, tantangan di awal merintis harus benar-benar dari nol dan tanpa modal besar. Modal awal Aldi hanya menggunakan dana kurang dari sejuta rupiah.

Dari modal itulah, dia mencoba menghasilkan produk batik untuk dijual. Akan tetapi, batik yang sudah diproduksi masih sulit untuk terjual. 

“Kita menyadari awal merintis tentu produk belum banyak yang mengenal. Baik di kalangan masyarakat maupun pemerintahan,” ujarnya. 

Aldi sempat merasa putus asa dikarenakan produknya yang sudah dihasilkan belum juga ada pembeli. Apalagi modal usaha yang digunakan harus bisa memutar otak, agar produksi tetap berjalan.

Diambang keputusasaan itulah, sang ibu tetap memberikan semangat dan motivasi, agar Aldi tetap melanjutkan usaha batiknya tersebut. 

Momen yang ditunggu-tunggu pun tiba, dengan adanya event di Tanjung Selor berupa pameran. Aldi pun ikut dalam pameran tersebut dan mendemokan pembuatan batik. 

“Alhamdulillah bisa mendapatkan modal untuk membeli bahan usaha. Dari hasil pameran itu juga perlahan produk batik saya dikenal khalayak ramai,” tuturnya. 

Puncaknya pada tahun 2022, saat kembali ada pameran yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara.

Mengingat, produksi yang dihasilkan Aldi dilakukan setiap hari. Bahkan, Aldi mempersilakan pelanggan untuk melihat proses produksi batik miliknya. 

Ditambah dengan adanya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 21 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Batik Khas Daerah Provinsi Kalimantan Utara.

Hal itu tentu menambah motivasi Aldi untuk terus memproduksi batik miliknya. Pasalnya, dalam Pergub tersebut mengharuskan pegawai di lingkup Pemprov Kaltara pada hari Kamis agar menggunakan batik khas daerah. 

“Itu menjadi momen kebangkitan dalam merintis usaha batik dan dengan adanya Pergub, saya pun menyesuaikan motif khas Kalimantan Utara. Saya menyambangi sejumlah tokoh adat untuk mengetahui motif batik khas Kalimantan Utara,” ungkapnya. 

Berselang tiga tahun saat pertama merintis usaha, perlahan produksi batik milik Aldi meningkat. Dikarenakan juga Aldi sering mengikuti berbagai pameran yang digelar pemerintah daerah.

Kebangkitan itu juga didorang dari pembinaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara.

Meskipun diakui Aldi, sempat tak ada komunikasi dengan pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara. 

“Ketika pasca pelatihan dengan BI Provinsi Kaltara, sempat tanpa ada komunikasi lanjutan. Dikarenakan mengira sudah tidak melanjutkan produksi batik,” imbuhnya. 

Namun, Aldi meyakinkan bahwa usaha batiknya tetap tekun dijalani pasca mendapatkan pelatihan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara. Bahkan, setiap ada event, Batik Yogus selalu dibawa Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara.

“Saya sudah mengikuti KKI (Karya Kreatif Indonesia) di pusat sampai tiga kali. Dan dalam waktu dekat ini kembali mengikuti KKB (Karya Kreatif Benuanta) 2026 di Kebun Raya Bundayati Tanjung Selor,” ujarnya. 

Menurut Aldi, bukan perkara mudah untuk bisa tampil di KKI. Pasalnya, pelaku UMKM yang turut serta harus melalui proses seleksi ketat.

Beruntung bagi Aldi, menjadi salah satu pelaku UMKM yang lolos dan berhak mengikuti KKI yang merupakan event tahunan tersebut. 

“Bank Indonesia Provinsi Kaltara selalu menberikan dukungan, baik itu berupa pembinaan hingga pemasaran produk,” tuturnya. 

Namun bagi Aldi, meski saat ini hasil produksi sudah dikenal banyak orang. Tidak merasa dirinya harus berpuas diri. Aldi terus mengembangkan inovasi-inovasi dengan menampilkan motif batik terbaru. 

“Inovasi membangun usaha batik, lebih kepada mengembangkan motif dengan menyesuaikan selera pasaran khususnya di wilayah Kaltara. Batik yang saya produksi berbeda dari pengrajin batik lainnya di wilayah Kaltara. Batik yang saya miliki warna lebih soft dan motif agak perkecil,” terangnya. 

Dari usaha batik yang ditekuninya, Aldi pun memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Aldi memberikan kesempatan untuk pemuda-pemudi agar bisa membatik. 

“Saya memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk bekerja membatik. Alhamdulillah saat ini sudah mempekerjakan 5 orang ditambah dari lingkungan keluarga sendiri. Seperti orang tua dan adik yang turut berperan mengembangkan usaha batik ini,” ucapnya. 

Aldi juga memasarkan produksinya menggunakan platform Instagram, agar lebih dikenal lagi. Hal itupun mendapat respons positif dari pelanggan dan dia menilai cukup membantu proses pemasaran produk. 

“Di era digitalisasi ini kita harus bisa memanfaatkan untuk membantu memasarkan produk-produk yang dimiliki. Tak hanya melalui pelanggan yang datang langsung dan melihat proses produksi. Dengan adanya platform pun cukup membantu,” tuturnya. 

Untuk memudahkan proses pembayaran, Aldi mengakui sudah sejak lama juga menggunakan Qris. Bagi Aldi, dengan adanya Qris sangat membantu pelaku UMKM.

Tentu hal tersebut juga membantu pelanggan untuk melakukan pembayaran. Sehingga tidak harus membawa uang tunai. 

“Saya sudah lama menggunakan Qris sejak 2021, karena memudahkan dalam proses pembayaran,” imbuhnya. 

Menurut Aldi, dengan banyak pelaku UMKM tentu memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Kaltara. Dia menilai, geliat ekonomi Kaltara makin maju.

Apalagi mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah hingga Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara. 

Aldi pun memberikan motivasi bagi yang ingin menggeluti usaha. “Anak muda harus berani mencoba, jangan menunggu ada modal baru membuka usaha. Saya merintis yang ada di rumah dan pengerjaan awal hanya bermodalkan tidak sampai satu juta rupiah,” jelasnya. 

Terpenting, kata Aldi, ada kemauan, niat dan disiplin dalam menekuni usaha yang akan dijalani. Hasilnya, saat ini dari usaha yang dijalani Aldi, kini telah memiliki omzet Rp 40 juta-Rp 60 juta per bulan.

Tentu usaha yang dilakoni tidak instans berhasil di awal. Banyak rintangan dan tantangan yang dilalui, untuk mencapai di titik keberhasilan saat ini. (*)

Editor : Nurismi
batik khas Kaltara umkm