Sebulan Bikin Satu Kain, Kisah Perajin Tenun Pakis Tarakan Menembus Panggung Nasional

Nurismi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:20 WIB
MENENUN KAIN: Salah seorang pekerja sedang menenun kain khas Kaltara di rumah produksi, Senin (24/8). (SEPTIAN ASMADI/HRK)
MENENUN KAIN: Salah seorang pekerja sedang menenun kain khas Kaltara di rumah produksi, Senin (24/8). (SEPTIAN ASMADI/HRK)

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara akan menampilkan berbagai kerajinan dan produk dari pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Dalam pagelaran Karya Kreatif Benuanta (KKB) 2026 yang terlaksana pada 27—30 Agustus di Kebun Raya Bundayati, Kabupaten Bulungan. 

SEPTIAN ASMADI, Tarakan

DI sebuah rumah sederhana di Gang Timur, Jalan Pulau Bunyu, Kelurahan Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah, gulungan-gulungan benang tersusun rapi menunggu giliran diwarnai. 

Sebagian sudah berubah jadi kain, bermotif pakis yang menjalar seperti sulur asli di hutan Kalimantan. Beberapa lembar di antaranya sudah tidak ada lagi di rumah itu.

Mereka sedang dalam perjalanan, sebagian dibawa Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara ke Jakarta, sebagian lagi menuju Tanjung Selor, tempat Karya Kreatif Benuanta (KKB) 2026 akan digelar 27—30 Agustus di Kebun Raya Bundayati, Kabupaten Bulungan. 

Yohanes Suyanto, Ketua Kelompok Tenun Pakis Kaltara, ikut melepas kain-kain itu pergi dengan perasaan yang bercampur.

Dia tahu persis berapa lama satu lembar kain bekerja sebelum layak disebut selesai — bisa sebulan penuh. Dari benang putih polos sampai motif dan warna yang menyatu. Dia juga tahu, tahun ini, jalan menuju panggung nasional itu tidak seringan tahun-tahun sebelumnya.

Yohanes merantau dari Maumere, Nusa Tenggara Timur, ke Tarakan pada 1996. Bertahun-tahun kemudian dia bekerja di salah satu perusahaan tambang di Kalimantan Utara, mengenakan batik tenun dengan pola biasa ke tempat kerja.

Bukan niat membangun bisnis yang mendorongnya bereksperimen dengan motif. Mulanya sekadar kebutuhan keluarga sendiri, kain untuk dipakai di rumah.

Tapi pola-pola yang dia ciptakan mulai menarik perhatian. Rekan kerja asal Malaysia adalah yang pertama menyatakan minat. 

“Mereka suka,” katanya, mengenang titik balik yang sederhana namun menentukan itu. 

Dari sana, gagasan membentuk usaha mulai tumbuh di kepalanya. Tahun 2018, Kelompok Tenun Pakis Kalimantan Utara resmi berdiri dengan 20 anggota. Bekerja setiap hari dari pukul satu siang hingga lima sore.

Ritme kerja itu baru bertahan dua tahun sebelum pandemi Covid-19 membubarkannya. Anggota berkurang, kerja kolektif di satu tempat tak lagi mungkin karena aturan jaga jarak.

Yohanes lalu membagi proses produksi. Lima tahap awal dia kerjakan sendiri, sisanya dioper ke anggota yang menenun dari rumah masing-masing.

Sistem darurat itu, secara tak terduga, justru menjadi format kerja yang bertahan sampai hari ini. Didukung bantuan pemerintah, menurutnya, malah membuat kondisi masyarakat penenun lebih baik dibanding sebelum pandemi.
Merajut Motif dari Tanah Sendiri

Nama "Pakis" bukan sekadar label dagang. Motif itu lahir dari riset panjang Yohanes atas ragam hias yang hidup di antara suku-suku Kalimantan Utara — Dayak dengan berbagai rumpunnya, dan Tidung.

Dari situ ia mengembangkan sejumlah pola pakis, tadu galung, belah ketupat, tabur bintang, tameng, hingga burung enggang, yang kemudian dikolaborasikannya satu sama lain agar tidak monoton.

“Sebelum kita membuat suatu motif, kita harus mempunyai gagasan untuk membentuk motif dan filosofi. Setelah keduanya sudah terlahir, baru kita memunculkan,” ujarnya.

Setiap kain yang keluar dari rumah produksinya sudah membawa cerita. Baik dari motif maupun pilihan warnanya, bukan sekadar hasil coba-coba di atas alat tenun. Dua tahun terakhir, kolaborasi warna dalam satu lembar kain, kadang sampai lima warna sekaligus. 

Justru menjadi yang paling diminati pasar, menggantikan kain satu warna yang dulu jadi standar. Namun perubahan paling besar datang dari arah lain, pewarnaan alam.

Selama ini, warna khas Kalimantan Utara identik dengan warna cerah yang terjangkau secara produksi tapi terbatas jangkauan pasarnya, hanya laku di kalangan lokal. 

“Dengan motif khas warna yang cerah itu, tidak bisa menggapai pembeli sampai luar negeri,” kata Yohanes.

Tiga tahun terakhir, dia beralih menggarap warna alam: cokelat, abu-abu, biru, merah maroon atau merah bata, dan kini lebih dari enam varian warna.

Termasuk hitam yang ditemukannya sendiri lewat serangkaian uji coba. Warna biru, misalnya, diproses lewat fermentasi daun nila yang ditanam sendiri di sekitar rumah produksi.

Yohanes menolak membuka detail teknik pewarnaan itu ke publik, katanya, hanya bisa dibagikan lewat pelatihan resmi. Yang jelas, perubahan ke warna alam membuka jalan ke pasar luar negeri. Meski baru dalam jumlah kecil, satu-dua lembar kain per pengiriman.

Sebulan untuk Satu Kain

Proses membuat satu lembar tenun Pakis dimulai dari pembentangan benang putih, dilanjutkan pembentukan motif, pewarnaan sesuai permintaan pasar, pengeringan, pembukaan motif, penyusunan ulang di bingkai, pembuatan sisipan lurik tanpa motif, hingga akhirnya penenunan. 

Tahap paling lama, memakan waktu tujuh hari untuk satu kain. Dibanding lima, tiga, atau dua hari untuk tahap lain.
Untuk efisiensi, Yohanes biasanya menyiapkan lima lembar kain sekaligus dalam satu siklus produksi bulanan, baru memisahkan proses penenunan satu per satu di pekan keempat.

Satu kain berukuran tiga meter panjang dan delapan puluh sentimeter lebar. Tersusun dari sekitar 200—300 helai benang yang harus disusun teliti. Satu kesalahan urutan bisa mengacaukan seluruh motif. Bahkan alat tenun yang dipakai adalah hasil rancangannya sendiri. 

“Saya membuat gambar, baru saya ke mebel. Para mebel pun mereka bingung untuk membuat ini,” katanya.

Dia sendiri yang mengawal proses pembuatan alat, agar kuat menahan tegangan benang selama proses menenun.
Modal untuk satu lembar kain berkisar Rp 1,6 juta, mencakup benang didatangkan dari Surabaya.

Meski Nunukan sebenarnya sudah membudidayakan ulat sutra sendiri, ongkos kirimnya yang lebih mahal membuat Surabaya tetap jadi pilihan. Lalu, tenaga penggulungan, pembentangan, pembuatan motif, bahan pewarna, hingga penenunan.  

Sebagai kelompok bermodal kecil, arus kas mereka sepenuhnya bergantung pada penjualan yang berputar. Sesuatu yang menjadi rapuh ketika permintaan pasar seret.

Efisiensi Anggaran, Setengah Penjualan Hilang

Selama ini, sekitar 80—90 persen pasar Kelompok Tenun Pakis dibentuk lewat dukungan pemerintah, pameran dan event yang dulu bisa berjalan hampir tiap bulan.

Tahun ini semua berubah. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah langsung memangkas jumlah kegiatan promosi, dan dampaknya dirasakan langsung oleh kelompok Yohanes: penjualan turun sekitar 50 persen, baik di pasar lokal maupun internasional. 

“Kami langsung mendapatkan dampaknya,” kata Yohanes.

Bahkan langganan tetapnya di Jakarta ikut mengeluh order berkurang. Rencana yang sudah disusun sejak awal tahun menembus pasar luar negeri lewat kerja sama dengan desainer internasional di Jakarta yang melibatkan kementerian akhirnya batal terlaksana. 

“Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah,” ujarnya. 

Dia menegaskan bahwa produk tenun ini masuk kategori kebutuhan mewah, bukan pokok. Sehingga jumlah pembelinya memang terbatas dan sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi.

Bantuan yang diterima kelompok ini pun sepenuhnya berbentuk barang, peralatan tenun, alat penggiling, alat pengolahan warna, dan alat penampung air dari Bank Indonesia.

Serta dukungan serupa dari pemerintah pusat, provinsi, dan kota Tarakan. Tidak ada bantuan tunai. Pelatihan pemasaran digital yang pernah diberikan BI dan pemerintah provinsi kini juga baru mulai berjalan lagi tahun ini, setelah sempat terhenti.

Meski begitu, permintaan dari segmen usia menengah, basis konsumen utama tenun Pakis relatif stabil. Pesanan tetap masuk tiap bulan, walau jumlahnya menyusut dari masa jaya sebelumnya.

Di tengah tekanan pasar, Yohanes tetap menyisihkan waktu untuk mengajar. Salah satu muridnya, seorang guru asal suku Dayak di Kabupaten Malinau, kini sudah bisa memproduksi tenun dari nol. Bahkan sudah memesan benang langsung dari kelompok Yohanes. 

Pencapaian itu datang dari pelatihan intensif satu bulan dua minggu. Tanpa hari libur, di mana dari 54 peserta yang mendaftar, hanya satu yang benar-benar bertahan hingga mahir.

“Mereka hanya melihat saja, mereka pusing,” kata Yohanes, menggambarkan tantangan mengajarkan kerajinan yang menuntut ketelatenan tinggi dari menyusun ratusan helai benang satu per satu hingga membaca pola yang belum terbentuk di kepala pemula.

Menanti Panggung Tanjung Selor

Ketika KKB 2026 dibuka akhir Agustus di Kebun Raya Bundayati, kain-kain bermotif pakis, tameng, dan belah ketupat dari Tarakan sudah lebih dulu tiba di sana.

Berdampingan dengan tas-tas kecil buatan kelompok yang dibanderol mulai Rp 25 ribu untuk gelang hingga Rp 900 ribu untuk tas kolaborasi ekspor.

Bagi Yohanes, panggung itu bukan sekadar pameran tahunan. Di tengah efisiensi anggaran yang memukul penjualan separuh dari biasanya, dan rencana ekspor yang kandas di tengah jalan, KKB menjadi salah satu ruang tersisa tempat kain-kain hasil racikan warna alam dan filosofi motif Kalimantan Utara itu masih bisa bertemu calon pembeli baru. 

Harapannya sederhana, dan diucapkan tanpa banyak berbunga-bunga: efisiensi ini segera berakhir. Agar kelompoknya bisa kembali menenun bukan hanya kain, tapi juga masa depan. (*/uno)

Editor : Nurismi
Tenun Pakis KKB 2026 Bulungan pewarna alami umkm