Batu Bara Terbakar Picu Rongga, Badan Jalan Pantai Amal Tarakan Terancam Ambles

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50 WIB
KEBAKARAN LAHAN: Tim gabungan meninjau lokasi batu bara yang terbakar, Senin (24/8). Kondisi ini membuat badan jalan kehilangan sebagian penopangnya. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
KEBAKARAN LAHAN: Tim gabungan meninjau lokasi batu bara yang terbakar, Senin (24/8). Kondisi ini membuat badan jalan kehilangan sebagian penopangnya. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Rongga akibat material batu bara yang terbakar di bawah badan jalan kawasan Pantai Amal Tarakan kini mencapai tiga meter secara horizontal. 

Kondisi ini membuat badan jalan kehilangan sebagian penopangnya, sementara pembakaran di bawah permukaan masih berlangsung.

Kepala Pelaksana BPBD Tarakan Yonsep mengatakan, hasil pemeriksaan di lokasi menunjukkan area permukaan yang terbuka sekitar enam meter. 

Dari titik tersebut, rongga akibat material yang terbakar memanjang sekitar tiga meter ke arah horizontal dengan kedalaman sekitar dua meter.

“Kalau di permukaannya, bagian yang terbuka sekarang sekitar enam meter. Kemudian material yang terbakar itu masuk sekitar tiga meter secara horizontal. Kalau secara vertikal, kedalamannya sekitar dua meter,” kata Yonsep, Senin (24/8).

Posisi rongga berada di bawah kawasan badan jalan. Material yang terbakar juga disebut sudah mendekati bagian jalan. Sehingga kondisi tersebut menjadi perhatian dalam proses penanganan. 

Yonsep mengatakan, rongga berpotensi semakin besar apabila material batu bara yang masih aktif terus terbakar. Pelebaran rongga dapat mengurangi daya dukung tanah di bawah badan jalan.

“Kalau tidak segera ditangani memang ada potensi bertambah, karena materialnya masih aktif. Kalau rongganya semakin besar, penopang jalan semakin berkurang. Itu yang kita khawatirkan, karena jalan bisa jatuh,” ujarnya.

Area terdampak kebakaran diperkirakan hampir dua hektare. Namun, BPBD belum mengetahui secara pasti kandungan maupun sebaran material batu bara yang berada di bawah permukaan.

“Memang ada potensi material batu bara di bawahnya secara keseluruhan. Tetapi kita belum tahu berapa kandungannya dan seberapa luas sebarannya. Itu harus diteliti lebih lanjut,” katanya.

Kebakaran di kawasan tersebut tercatat bukan kali pertama terjadi. BPBD mencatat kejadian serupa sejak 2019. Bahkan, rambu peringatan pernah dipasang di sekitar lokasi karena adanya potensi kebakaran material batu bara.

Khusus 2026, kebakaran tercatat dua kali, yakni pada Juli dan Agustus. Pada kejadian Juli, api masih membakar lahan dan belum mencapai material batu bara. Sedangkan kebakaran Agustus sudah masuk ke lapisan batu bara di bawah permukaan.

“Itu menjadi warning bagi kita, sampai ada rambu yang sebelumnya juga ikut terbakar. Tahun ini khusus di lokasi tadi sudah dua kali, Juli dan Agustus. Kalau yang Juli belum sampai membakar batu baranya, masih lahannya. Sekarang sudah sampai ke material batu bara dan ini yang terbesar,” jelas Yonsep.

Menurut Yonsep, kondisi kering yang berlangsung cukup panjang turut meningkatkan potensi pembakaran material tersebut. Ketika api sudah masuk ke lapisan batu bara, penanganannya berbeda dengan kebakaran lahan biasa.

“Begitu materialnya sudah terbakar, penanganannya berbeda. Tidak bisa hanya disiram air, karena yang terbakar itu ada di dalam. Jadi harus ditangani sumbernya dan bagaimana supaya rambatannya tidak terus berjalan,” katanya.

Penanganan teknis kini diarahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU). BPBD tetap mendampingi pekerjaan di lapangan dengan memantau perkembangan api maupun kondisi bawah permukaan.

“Penanganannya sudah dialihkan kepada dinas teknis, dalam hal ini PU. BPBD mendampingi. Jadi ketika mereka bekerja, kita tetap berada di sana,” ujar Yonsep.

Selain Pantai Amal, BPBD juga memantau lokasi lain yang memiliki indikasi material batu bara, salah satunya di Kampung 6. Lokasi tersebut belum menjadi prioritas penanganan fisik karena tidak berada dekat permukiman warga.

“Yang menjadi prioritas segera ditangani adalah yang di jalan Pantai Amal karena sudah mempengaruhi badan jalan,” tuturnya.

Penutupan badan jalan dilakukan selama proses pemeriksaan dan pekerjaan teknis berlangsung. BPBD juga terus memantau kemungkinan munculnya titik api baru maupun meluasnya rongga di bawah permukaan.

“Kondisi di bawah permukaan masih harus dipantau karena kita belum tahu seberapa jauh rambatannya,” pungkas Yonsep. (sas/uno)

Editor : Nurismi
batu bara terbakar karhutla jalan BPBD Tarakan