HARIAN RAKYAT KALTARA – Kabut yang muncul di wilayah Tanjung Selor cenderung lebih tebal pada waktu malam menjelang subuh hingga pagi hari.
Fenomena tersebut terjadi akibat perpaduan partikel asap dengan kelembapan udara yang meningkat.
Forecaster BMKG Tanjung Harapan, Kabupaten Bulungan, Agus, menjelaskan kondisi atmosfer pada periode tersebut membuat kabut lebih mudah terbentuk. Partikel hasil pembakaran lahan bercampur dengan udara lembap sehingga pandangan dapat menjadi lebih terbatas.
“Lebih pekat terjadi dari malam menjelang subuh sampai pagi karena bercampur dengan kelembapan udara yang tinggi,” kata dia, Jumat (21/8).
Meski terdapat kabut, kondisi jarak pandang di Tanjung Selor masih tergolong baik. Pengamatan BMKG menunjukkan pandangan horizontal masih berada pada kisaran 5 hingga 8 kilometer. Batas tersebut masih memenuhi kebutuhan operasional penerbangan di wilayah Tanjung Selor.
“Aktivitas pesawat hingga kini belum mengalami gangguan akibat kondisi atmosfer tersebut,” terangnya.
Untuk transportasi sungai, Agus menilai situasinya juga masih mendukung. Karakter perairan sungai yang berbeda dengan laut membuat kondisi pandangan dapat dipantau secara lebih jelas oleh operator. Sementara di wilayah laut, terdapat faktor lain yang perlu diperhatikan. Ruang pandang yang luas dapat memunculkan fenomena optik seperti fatamorgana sehingga objek di kejauhan terlihat berbeda dari kondisi sebenarnya.
“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bagi pengguna transportasi air, terutama ketika melakukan perjalanan pada waktu konsentrasi kabut meningkat. Kecepatan kendaraan dan kewaspadaan operator menjadi faktor penting untuk menjaga keselamatan perjalanan,” jelasnya.
Ia mengatakan kondisi saat ini belum menunjukkan gangguan signifikan terhadap aktivitas pelayaran sungai. Namun, perkembangan jarak pandang tetap perlu dipantau karena kondisi cuaca dapat berubah seiring perubahan kelembapan, angin dan konsentrasi asap.
Masyarakat yang menggunakan speedboat maupun transportasi sungai disarankan memperhatikan perkembangan cuaca sebelum melakukan perjalanan.
“Operator juga perlu memastikan kondisi pandangan cukup aman, khususnya pada pagi hari ketika kabut biasanya berada pada tingkat paling pekat,” bebernya.
Dengan pemantauan rutin, aktivitas transportasi di wilayah perairan diharapkan tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
“Kecepatan angin berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat di wilayah perairan karena dapat meningkatkan tinggi gelombang,” ungkapnya.
Ia menyebut angin dengan kecepatan sekitar 20 hingga 40 knot berpotensi menghasilkan gelombang laut setinggi 1,5 hingga 2 meter. Kondisi tersebut perlu diantisipasi pengguna transportasi laut.
“Kalau angin di atas 20 knot sampai 40 knot, itu berdampak memicu gelombang laut 1,5 hingga 2 meter,” katanya.
Masyarakat yang hendak bepergian melalui jalur laut disarankan memperhatikan informasi cuaca sebelum berangkat. Operator transportasi juga perlu menyesuaikan perjalanan dengan perkembangan angin dan gelombang. (fai/smi)