HARIAN RAKYAT KALTARA – Sumber panas yang diduga berasal dari pembakaran batubara di bawah permukaan tanah ditemukan di sejumlah kawasan rawan kebakaran lahan di Tarakan.
Kondisi ini menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan karena salah satu titik berada di sekitar akses menuju Pantai Amal dan berdekatan dengan kawasan Universitas Borneo Tarakan (UBT).
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, menyebut terdapat sedikitnya empat lokasi yang terindikasi memiliki kandungan batubara dan mengalami pembakaran di bawah permukaan tanah.
Lokasi tersebut tersebar di kawasan Pantai Amal, Juata Kerikil dan Pasir Putih. Dua titik berada di kawasan Pantai Amal, masing-masing di sekitar UBT dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE). Sementara dua titik lainnya berada di Juata Kerikil dan Pasir Putih, Jalan Bhayangkara, Kelurahan Karang Anyar.
“Di Amal itu ada dua titik, satu dekat Borneo dan satu lagi dekat STIE. Kemudian ada di Juata Kerikil dan Pasir Putih. Yang kita lihat sekarang memang perlu penanganan berbeda karena sumber panasnya bisa berada di bawah tanah,” kata Yonsep, Selasa (18/8).
Dari sejumlah lokasi tersebut, kawasan sekitar UBT dan Jalan Bhayangkara menjadi perhatian karena berada dekat akses jalan.
Di kawasan menuju Pantai Amal, area yang diduga terdampak pembakaran batubara diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.
“Kalau untuk kondisi bawah tanahnya kita belum punya kajian yang mendalam. Secara kasat mata memang ada indikasi, tetapi tim masih turun untuk memastikan apakah ini memang kebakaran yang terjadi sekarang atau ada kebakaran lama yang tersimpan di dalam dan kembali aktif,” ujarnya.
Kondisi kebakaran batubara berbeda dengan kebakaran lahan pada umumnya. Sumber panas dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga pemadaman dari bagian atas tidak selalu langsung menghentikan pembakaran.
Yonsep menjelaskan, air yang disiramkan dari permukaan dapat cepat menguap akibat tingginya suhu di dalam tanah.
Karena itu, penanganan terhadap material yang terbakar di bawah permukaan membutuhkan metode berbeda.
Metode penanganan dengan teknologi khusus, kata Yonsep, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk sementara, BPBD menggunakan metode konvensional sembari berkoordinasi dengan instansi terkait mengenai langkah penanganan berdasarkan kondisi masing-masing lokasi.
Salah satu tanda yang dapat diamati masyarakat ketika terjadi pembakaran batubara di bawah tanah adalah munculnya asap dari permukaan. BPBD meminta masyarakat segera melaporkan temuan tersebut agar lokasi dapat diperiksa sebelum kondisi berkembang.
“Kalau masyarakat melihat asap, itu sudah menjadi tanda awal. Jangan menunggu sampai apinya terlihat besar karena sumbernya bisa berada di dalam. Semakin cepat diketahui, semakin mudah kita menentukan penanganannya,” katanya.
Selain persoalan pemadaman, pembakaran batubara di bawah permukaan juga berpotensi membentuk rongga di dalam tanah. Kondisi tersebut menjadi perhatian apabila terjadi di sekitar infrastruktur, khususnya badan jalan.
“Kalau pembakaran batubara, pasti ada rongga yang terbentuk. Rongga itu memiliki potensi longsor. Apalagi kalau lokasinya dekat jalan, memang harus segera kita lakukan mitigasi,” katanya.
Indikasi dampak terhadap akses jalan disebut sudah terlihat di sekitar salah satu titik. Yonsep mengatakan, sebelumnya terdapat bagian jalan yang berlubang hingga menembus lapisan aspal dan telah ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU). Namun, aktivitas pembakaran kemudian kembali ditemukan dari sisi timur kawasan tersebut.
“Memang ada lubang di sana dan sebelumnya sudah diselesaikan oleh PU. Tetapi sekarang yang terbakar kembali dari sisi timurnya. Karena potensi area yang terdampak ini kurang lebih satu hektare, maka harus ada langkah mitigasi supaya tidak berkembang ke bagian lain,” ujarnya.
BPBD Tarakan saat ini memprioritaskan pemutusan sumber api pada lokasi yang mengalami pembakaran di bawah permukaan.
Sementara kondisi badan jalan dan kemungkinan perubahan struktur tanah menjadi bagian yang perlu dikaji bersama instansi teknis terkait.
Persoalan lain yang dihadapi petugas di lapangan adalah ketersediaan sumber air. Pada sejumlah titik kebakaran, sumber air tidak selalu tersedia di sekitar lokasi sehingga petugas harus menunggu suplai.
“Kadang bukan alat yang menjadi persoalan, tetapi sumber airnya. Kalau sumber air tidak ada, kita harus menunggu suplai. Bisa dibuat kolam tampungan dulu, kemudian ditransfer menggunakan mesin portable,” ungkapnya.
Untuk memastikan kondisi di bawah permukaan, BPBD menilai diperlukan kajian lebih mendalam mengenai kondisi geologi, luas material yang terbakar, serta kemungkinan dampaknya terhadap kestabilan tanah dan infrastruktur.
Kajian tersebut dapat melibatkan instansi teknis maupun pihak eksternal yang memiliki kompetensi di bidang terkait, termasuk akademisi dan ahli geologi.
Selain empat lokasi yang telah teridentifikasi di Pantai Amal, Juata Kerikil dan Pasir Putih, BPBD masih memantau sejumlah kawasan lain yang diduga mengalami aktivitas pembakaran di bawah permukaan tanah.
Salah satunya berada di kawasan Pasir Putih, sedangkan lokasi lainnya disebut berada di kawasan antara Kampung 4 dan Kampung 6.
"Berdasarkan data kami, sepanjang Agustus 2026 tercatat 21 titik kebakaran dengan total luasan lahan terdampak mencapai sekitar 52,82 hektare," sebut Yonsep.(sas/smi)
Editor : Nurismi