HARIAN RAKYAT KALTARA – Upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan mulai dilakukan dari hal-hal sederhana.
Salah satunya dengan menyeragamkan identitas awak kapal melalui penggunaan rompi khusus yang akan dikenakan selama menjalankan aktivitas di kawasan pelabuhan.
Penggunaan rompi tersebut menjadi salah satu langkah awal dalam pembenahan aktivitas di Pelabuhan Tengkayu I.
Dengan identitas yang lebih mudah dikenali, awak kapal diharapkan dapat dibedakan dengan pengguna jasa maupun orang lain yang beraktivitas di kawasan pelabuhan, terutama saat proses embarkasi dan debarkasi.
Kepala KSOP Tarakan, Stanislaus W. Wetik, melalui Kepala Pos Pelabuhan Tengkayu I Tarakan sekaligus Pemeriksa Kecelakaan Kapal dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kantor KSOP Kelas II Tarakan, Abdul Rahman, mengatakan penggunaan rompi tersebut menjadi penanda bagi awak kapal yang sedang menjalankan tugas.
Menurut Abdul Rahman, sebelumnya awak kapal memang telah memiliki seragam berupa kemeja. Namun, seiring waktu, kondisi seragam tidak lagi seragam. Sebagian sudah lusuh dan pudar, sementara sebagian lainnya tidak lagi digunakan atau bahkan hilang.
“Memang sebelumnya sudah pernah memiliki baju seragam. Namun, seiring berjalannya waktu, ada yang sudah lusuh, pudar, tidak digunakan lagi atau mungkin hilang. Jadi rompi ini untuk merefresh sekaligus memberikan identitas bahwa ketika terlihat rompi, itu awak kapal,” ujar Abdul Rahman, Senin (17/8).
Penyediaan rompi tersebut dipelopori Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap).
Penggunaannya mencakup seluruh awak kapal yang beraktivitas di Pelabuhan Tengkayu I, termasuk nakhoda dan anak buah kapal (ABK).
Penyeragaman identitas tersebut menjadi bagian dari gagasan pembenahan Pelabuhan Tengkayu I melalui konsep Port Safety Green.
Konsep itu diarahkan tidak hanya pada aspek keselamatan pelayaran, tetapi juga menyangkut kebersihan dan kenyamanan lingkungan pelabuhan.
Abdul Rahman mengatakan penerapan konsep tersebut tidak harus diawali dengan perubahan besar. Menurutnya, pembenahan dapat dimulai melalui sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di pelabuhan.
“Konsepnya Port Safety Green, jadi pelabuhan yang safety, bersih dan segar lingkungannya. Tidak perlu bermimpi membuat sesuatu yang besar, hal-hal kecil saja dulu untuk membuat pelabuhan kita bersih, aman dan nyaman,” katanya.
Selain penyeragaman identitas awak kapal, pembenahan berikutnya diarahkan pada aktivitas merokok di kawasan pelabuhan.
Sosialisasi larangan merokok di gate keberangkatan dan kedatangan akan didorong sebagai bagian dari upaya menjaga kenyamanan pengguna jasa.
Abdul Rahman menyebut aktivitas merokok masih ditemukan di kawasan pelabuhan, termasuk ketika kegiatan pengangkutan barang berlangsung. Ia bahkan mendapati adanya buruh yang melakukan aktivitas bongkar muat sambil merokok.
“Bukan berarti kita merampas hak perokok. Tetapi merokok harus di tempat yang tidak merugikan orang lain. Saya juga melihat ada buruh yang mengangkat barang sambil merokok dan rokoknya diletakkan sembarangan,” jelasnya.
Pengaturan tersebut, kata dia, bukan dimaksudkan untuk menghilangkan hak seseorang untuk merokok. Namun, aktivitas tersebut perlu dilakukan pada lokasi yang tidak mengganggu pengguna jasa lainnya maupun aktivitas di kawasan pelabuhan.
Terlebih, pengguna Pelabuhan Tengkayu I berasal dari berbagai kalangan. Termasuk masyarakat yang tidak merokok, ibu hamil maupun ibu menyusui yang membutuhkan lingkungan yang nyaman selama berada di kawasan pelabuhan.
“Orang yang tidak merokok juga punya hak untuk mendapatkan lingkungan yang nyaman, apalagi ada ibu hamil dan ibu menyusui. Jadi bukan haknya yang dihilangkan, tetapi tempat merokoknya yang perlu diatur,” katanya.
Pembenahan juga akan menyentuh aspek kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat. KSOP Tarakan bersama pihak terkait berencana melaksanakan drill atau latihan penanganan keadaan darurat di kawasan Pelabuhan Tengkayu I.
Latihan yang direncanakan antara lain berupa simulasi pemadaman kebakaran dan man overboard, yakni latihan penanganan ketika seseorang jatuh ke laut.
Menurut Abdul Rahman, latihan tersebut penting untuk kembali mengingatkan awak kapal maupun pihak terkait mengenai langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.
“Rencananya nanti ada drill pelatihan pemadaman dan man overboard. Jadi ketika terjadi kebakaran atau ada orang jatuh ke laut, awak kapal maupun siapa saja yang ada di pelabuhan bisa langsung melakukan tindakan,” ujarnya.
Latihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menyegarkan kembali kesiapan awak kapal dalam menghadapi keadaan darurat.
Sebab, dalam kondisi tertentu, kecepatan mengambil tindakan menjadi bagian penting dalam penanganan insiden di kawasan pelabuhan.
Abdul Rahman menegaskan pembenahan Pelabuhan Tengkayu I dilakukan melalui kolaborasi antara KSOP, Gapasdap dan pihak pengelola pelabuhan. Sementara pengelolaan Pelabuhan Tengkayu I berada dalam kewenangan Dinas Perhubungan Provinsi.
Ia mengatakan berbagai langkah yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari proses pembenahan secara bertahap.
Mulai dari identitas awak kapal, kebersihan kawasan, pengaturan aktivitas merokok hingga peningkatan kesiapan menghadapi kondisi darurat.
“Minimal hal-hal kecil ini dulu yang dilakukan. Supaya awak kapal lebih mudah dikenali, pelabuhan lebih bersih, aman dan nyaman. Kesiapan menghadapi kondisi darurat juga harus terus direfresh, sehingga ketika ada kejadian kita sudah tahu tindakan yang harus dilakukan,” tutupnya.(sas/smi)
Editor : Nurismi