HARIAN RAKYAT KALTARA – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kalimantan Utara terus meluas.
Hingga 2026, jumlah pengguna QRIS di provinsi ke-34 di Indonesia tersebut telah mencapai sekitar 120 ribu pengguna.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara, Agus Taufik, mengatakan pertumbuhan pengguna QRIS turut didorong oleh semakin mudahnya masyarakat beradaptasi dengan sistem pembayaran digital.
"Jumlahnya 120 ribu pengguna QRIS di Kalimantan Utara. Saya yakin ke depan akan semakin meningkat. Melalui berbagai promosi produk, berbagai kemudahan layanan, kerja sama antara perbankan. Terutama dukungan dari perbankan Himbara, bank swasta nasional, termasuk Bank Pembangunan Daerah," kata Agus usai menghadiri kegiatan Katalis 2026, Sabtu (15/8) malam.
Menurutnya, kelompok generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial menjadi salah satu kelompok yang cepat beradaptasi dengan layanan pembayaran digital. Kebiasaan menggunakan layanan digital dalam aktivitas sehari-hari turut mendorong penggunaan QRIS.
"Gen Z ini generasi muda, milenial ini semakin lebih mudah adaptasi terhadap layanan digital. Belanja sekarang pakai e-commerce, kemudian sistem pembayaran pun sekarang menggunakan kanal QRIS," ujarnya.
Meski penggunaan pembayaran digital terus diperluas, Agus menegaskan transaksi secara tunai tetap memiliki peran dalam sistem pembayaran. Bank Indonesia mendorong kedua sistem tersebut berjalan berdampingan sesuai kebutuhan masyarakat.
"Semua masyarakat kita harapkan untuk lebih familiar, lebih menerima kanal pembayaran, sistem pembayaran melalui QRIS tersebut. Walaupun pembayaran tunai juga kita dorong sama-sama, saling melengkapi," jelasnya.
Di sisi lain, perkembangan transaksi digital di Kaltara juga berkaitan dengan ketersediaan jaringan telekomunikasi. Agus mengatakan, pemerataan jaringan menjadi salah satu faktor penting. Agar masyarakat di berbagai wilayah dapat mengakses layanan pembayaran digital.
"Ini kan kita bersama-sama, pemerintah pusat, pemerintah daerah menghendaki perluasan, pemerataan jaringan telekomunikasi lebih merata ke seluruh Kalimantan Utara. Sehingga masyarakat akan lebih mudah untuk menggunakan transaksi digital tersebut," katanya.
Agus menyebut, peningkatan penggunaan QRIS tidak hanya terlihat dari jumlah penggunanya. Frekuensi dan nominal transaksi juga terus mengalami pertumbuhan seiring semakin luasnya penggunaan pembayaran digital, termasuk di kalangan pelaku UMKM. Namun, peningkatan transaksi digital juga diikuti kebutuhan terhadap literasi keuangan dan literasi digital.
Masyarakat dinilai perlu memahami kemudahan, sekaligus risiko yang dapat muncul dalam penggunaan sistem pembayaran digital.
"Di samping kemudahan-kemudahan yang kita peroleh. Tentunya kita harus waspada terhadap berbagai risiko yang muncul. Sehingga kewajiban kami tentunya beserta pemerintah daerah, beserta stakeholder yang ada di Kalimantan Utara untuk terus meningkatkan edukasi literasi keuangan dan literasi digital kepada masyarakat," pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi