HARIAN RAKYAT KALTARA — Kepiting bakau mulai dipilih sebagai salah satu potensi yang dikembangkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan.
Tahap awal program tersebut dimulai melalui pelatihan budidaya kepiting bakau yang melibatkan kelompok masyarakat di Kota Tarakan.
Area Manager Communication, Relations and CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga Edi Mangun, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Menurut Edi, pemilihan budidaya kepiting bakau dilakukan berdasarkan hasil pemetaan sosial atau social mapping yang dilakukan pihak Fuel Terminal Tarakan bersama konsultan.
Dari pemetaan tersebut, kepiting bakau dinilai menjadi salah satu potensi daerah yang dapat dikembangkan melalui program pemberdayaan masyarakat.
“Ini adalah pelatihan budidaya kepiting bakau. Tentunya berdasarkan hasil social mapping yang dilakukan oleh teman-teman FT Tarakan dengan teman-teman dari konsultan. Bahwa yang berpotensi untuk dikembangkan ke sini sebagai potensi daerah di Tarakan adalah kepiting bakau,” kata Edi, Senin (10/8).
Pelatihan tersebut menjadi tahapan awal sebelum perusahaan menyiapkan fasilitas penunjang bagi kelompok masyarakat yang mengikuti program.
Fasilitas itu nantinya diarahkan untuk mendukung warga dalam memelihara dan membudidayakan kepiting bakau di lokasi yang akan ditentukan.
“Setelah pelatihan ini selanjutnya akan juga kami siapkan fasilitas-fasilitas penunjang. Di mana warga atau para anggota kelompok ini bisa memulai untuk memelihara dan membudidayakan kepiting yang ada di wilayah yang nanti lokasinya ditentukan,” ujarnya.
Edi mengatakan, rangkaian program tersebut diarahkan hingga masyarakat mampu menjalankan kegiatan secara mandiri. Menurutnya, kemandirian masyarakat menjadi salah satu tujuan dari pelaksanaan TJSL perusahaan.
“Kalau kita bicara TJSL ini ujung-ujungnya menciptakan kemandirian. Kemandirian bagi masyarakat itu sendiri, bagaimana kemudian dari apa yang kita lakukan hari ini berdampak kepada mereka bisa mandiri untuk tumbuh berkembang,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan TJSL Pertamina juga mengacu pada ketentuan Kementerian BUMN mengenai wilayah sekitar operasional perusahaan.
Wilayah ring 1 menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program sebelum pengembangan diarahkan ke wilayah ring 2 maupun ring 3.
“Di setiap lokasi kami ada, karena seperti diatur dalam ketentuan Kementerian BUMN. Bahwa wilayah ring 1 dari operasional itu menjadi konsen utama, untuk kita melakukan upaya Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL),” jelasnya.
Menurut Edi, pengembangan program di suatu wilayah nantinya akan disesuaikan dengan perkembangan dan kesiapan masyarakat penerima manfaat.
Sementara itu, Fuel Terminal Manager PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan, Hario Somapangestu, mengatakan pelatihan budidaya kepiting bakau tersebut masih berada pada tahap awal pelaksanaan program.
Pihaknya terlebih dahulu memberikan sosialisasi dan pelatihan, sebelum menentukan pengembangan program berikutnya.
“Hari ini berinisiasi untuk melakukan agenda pelatihan budidaya kepiting bakau. Jadi ini masih di tahap penjajakan awal kami sebetulnya. Karena CSR-nya kita coba sosialisasi dulu terkait budidaya kepiting ini,” kata Hario.
Menurut Hario, Pertamina menggandeng kelompok masyarakat yang telah memiliki pengalaman dalam kegiatan budidaya. Dalam pelatihan tersebut, perusahaan menggandeng KSM Malundung Soekaraya dan POKMAS Antara.
Pelibatan kelompok masyarakat tersebut dilakukan, agar program yang dijalankan memiliki keterkaitan dengan aktivitas dan kemampuan masyarakat setempat.
“Kita menggandengnya dari KSM Malundung Soekaraya dan POKMAS Antara. Karena menurut kami CSR itu baiknya harus selaras dengan masyarakat,” ujarnya.
Hario mengatakan, kelompok masyarakat yang dilibatkan telah memiliki sarana dan fasilitas sendiri untuk menjalankan kegiatan. Pertamina kemudian memberikan tambahan pengetahuan melalui pelatihan. Sekaligus melihat kebutuhan fasilitas yang masih diperlukan untuk mendukung kegiatan budidaya.
“Kita memang sudah merekrut, menggaet kelompok masyarakat yang sudah terbiasa untuk pelatihan budidaya. Kita kasihkan bantuan, upgrade lagi wawasannya. Jadi bisa lebih berkembang lagi,” katanya.
Dalam pelaksanaan program tersebut, Pertamina juga berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk Dinas Perikanan serta pendamping dari perguruan tinggi.
Hario menyebut, dukungan perusahaan saat ini diarahkan pada penyediaan sejumlah fasilitas yang dibutuhkan kelompok pembudidaya. Beberapa fasilitas yang telah disiapkan di antaranya crab box dan jaring.
“Sejauh ini masih ada yang kita berikan, itu crab box, kemudian crab trap, jaring-jaring. Kami tambahkan dengan kebutuhannya pembudidaya, apa-apa saja kita coba tambahkan,” tutupnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi