HARIAN RAKYAT KALTARA — Sektor batu bara Kalimantan Utara (Kaltara) mulai menghadapi tekanan seiring menurunnya permintaan di pasar global.
Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas ekspor dan mendorong pemerintah daerah mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Wakil Gubernur Kaltara Ingkong Ala mengatakan, batu bara masih menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap perekonomian daerah.
Namun, ketergantungan terhadap pasar global membuat sektor tersebut rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dunia.
“Batu bara masih memiliki potensi, tetapi saat ini ekspornya mengalami penurunan karena pengaruh kondisi global. Itu yang harus kita antisipasi,” kata dia, Minggu (9/8).
Menurutnya, melemahnya ekspor batu bara menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk mulai mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap sektor pertambangan.
Pemerintah perlu memperkuat sektor lain yang memiliki prospek dan mampu memberikan kontribusi secara berkelanjutan.
“Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar adalah perkebunan kelapa sawit. Namun, pengembangannya tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi bahan mentah. Pemerintah juga mendorong agar komoditas tersebut masuk ke tahap hilirisasi. Sehingga menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi,” jelasnya.
Ia menilai pengembangan industri pengolahan dapat menjadi salah satu alternative. Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi ketika sektor batu bara mengalami perlambatan.
“Selain meningkatkan nilai komoditas, keberadaan industri hilir juga berpotensi membuka lapangan kerja dan menciptakan aktivitas ekonomi baru di daerah,” ungkapnya.
Pemerintah Provinsi Kaltara, lanjutnya, akan terus berupaya menciptakan iklim investasi yang mendukung masuknya industri pengolahan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi daerah. Sekaligus mengurangi risiko akibat ketergantungan pada satu komoditas.
Meski demikian, sektor pertambangan tetap menjadi bagian dari perekonomian Kaltara.
“Pemerintah akan tetap memperhatikan sektor tersebut, sembari mendorong pengembangan sektor alternatif agar perekonomian daerah tidak terlalu terpengaruh ketika harga dan permintaan komoditas batu bara mengalami tekanan,” ungkapnya.
Kondisi melemahnya ekspor batu bara dinilai menjadi momentum bagi Kaltara untuk memperluas basis ekonominya. Perkebunan, industri pengolahan, serta sektor produktif lainnya diharapkan dapat menjadi penopang baru. Ketika kontribusi sektor batu bara mulai mengalami perlambatan. (fai/uno)
Editor : Nurismi