Pangkas Rantai Distribusi, Rahmawati Zainal Dorong Ekspor Langsung Hasil Perikanan Kaltara

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 09:20 WIB
DONGKRAK EKSPOR: Produk perikanan Tarakan didorong melakukan ekspor langsung. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
DONGKRAK EKSPOR: Produk perikanan Tarakan didorong melakukan ekspor langsung. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Jalur ekspor produk perikanan Kalimantan Utara (Kaltara) yang masih bergantung pada negara transit menjadi sorotan Anggota DPR RI Dapil Kaltara Rahmawati Zainal. 

Menurutnya, rantai distribusi tersebut membuat komoditas asal Kaltara belum memperoleh nilai jual yang optimal. Sehingga akses ekspor langsung ke negara tujuan, termasuk kawasan Timur Tengah, perlu dibuka.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Rahmawati saat mengunjungi sentra pengolahan hasil laut milik CV Globalindo Sea di Tarakan dalam agenda reses.

Di lokasi, Rahmawati melihat langsung proses pengolahan berbagai komoditas perikanan yang selama ini dipasarkan ke dalam maupun luar negeri.

Dalam kunjungan itu, ia menilai Kalimantan Utara memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil komoditas perikanan bernilai tinggi.

Potensi tersebut dinilai perlu didukung dengan sistem distribusi yang lebih efisien. Agar pelaku usaha memperoleh manfaat ekonomi yang lebih optimal.

Rahmawati mengatakan, sebagian produk perikanan dari Kalimantan Utara hingga kini masih dikirim melalui Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum diteruskan ke negara tujuan ekspor.

Mekanisme tersebut membuat rantai distribusi menjadi lebih panjang dan berpengaruh terhadap harga yang diterima pelaku usaha.

“Bagaimana kita memfasilitasi dan mendukung agar produk Kaltara bisa langsung diekspor ke negara tujuan, termasuk Timur Tengah. Dengan begitu prosesnya lebih sederhana dan nilai jual produk bisa lebih meningkat,” ujar Rahmawati.

Menurutnya, apabila akses ekspor langsung dapat diwujudkan. Pelaku usaha di daerah akan memiliki posisi tawar yang lebih baik. Karena harga tidak lagi ditentukan melalui mekanisme perdagangan di wilayah transit.

“Selama ini produk dikirim sampai Kuala Lumpur. Dari sana baru diteruskan ke negara tujuan. Sehingga harga ikut ditentukan di sana. Kalau bisa langsung, pelaku usaha akan memiliki nilai tawar yang lebih baik,” katanya.

Rahmawati menjelaskan, penguatan konektivitas menjadi salah satu faktor penting untuk membuka peluang ekspor langsung.

Selain memanfaatkan jalur laut, ia juga melihat transportasi udara dapat menjadi alternatif distribusi bagi produk-produk perikanan yang membutuhkan waktu pengiriman lebih cepat.

Menurut Anggota Komisi VII DPR RI itu, keberadaan jalur udara internasional akan memberikan keuntungan bagi komoditas perikanan yang memiliki masa simpan terbatas. Sekaligus memperluas akses pasar ke berbagai negara.

“Kalau akses udara untuk ekspor bisa dibuka, produk-produk unggulan Kaltara bisa lebih cepat sampai ke negara tujuan. Ini akan memangkas rantai distribusi dan membantu meningkatkan daya saing pelaku usaha,” tuturnya.

Selain persoalan distribusi, Rahmawati juga menyoroti pentingnya peningkatan nilai tambah melalui pengolahan hasil perikanan.

Ia menilai berbagai jenis hasil laut yang selama ini diproduksi masyarakat masih memiliki peluang besar. Untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi, sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Menurutnya, pengolahan hasil perikanan secara maksimal tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha. Tetapi juga mampu mengurangi potensi limbah, karena seluruh bagian komoditas dapat dimanfaatkan.

“Jadi tidak ada yang terbuang. Hasil yang ada bisa diolah dan dimanfaatkan sehingga memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, pemilik CV Globalindo Sea Supriadi, menjelaskan perusahaannya selama ini mengolah berbagai komoditas hasil laut dan tambak menjadi produk siap ekspor. Salah satu produk unggulan adalah daging kepiting yang berasal dari budidaya tambak dan telah dipasarkan ke Malaysia.

Menurutnya, proses produksi dilakukan mulai dari pengumpulan bahan baku, perebusan, pengolahan hingga pengemasan sebelum dikirim kepada pembeli di luar negeri.

“Daging kepiting ini dari tambak, kemudian kami proses, direbus. Setelah itu diekspor ke Malaysia,” kata Supriadi.

Ia menjelaskan, keberadaan kepiting di tambak memang perlu dikendalikan. Karena dapat mengganggu pertumbuhan udang. Karena itu, hasil tangkapan kepiting kemudian dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku usaha tambak.

Selain daging kepiting, perusahaan tersebut juga memproduksi udang rebon, udang kering atau ebi, kerang darah, serta kapah.

Seluruh produk diolah sebelum dipasarkan untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual hasil perikanan daerah.

“Produk kami beragam, ada udang rebon, kerang darah, kapah, termasuk daging kepiting. Semua kami olah agar hasil perikanan ini punya nilai lebih,” ujarnya.
Supriadi berharap semakin banyak produk olahan perikanan asal Tarakan yang dapat dikenal di pasar internasional.

Dengan membawa identitas Kalimantan Utara sebagai daerah penghasil komoditas perikanan berkualitas.
“Harapannya produk dari sini bisa membawa nama Kaltara dan dikenal di luar negeri,” ucapnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
Komoditas perikanan distribusi