HARIAN RAKYAT KALTARA — Belasan pohon tumbang yang terjadi hampir bersamaan di berbagai sudut Kota Tarakan dalam dua hari terakhir, tidak semata dipicu angin kencang.
Di balik rangkaian kejadian itu, BPBD Tarakan mengungkap satu persoalan yang selama ini luput menjadi perhatian. Yakni karakteristik sebagian besar pohon di Tarakan yang hanya ditopang akar serabut di permukaan tanah.
Sehingga lebih mudah kehilangan daya cengkeram saat cuaca ekstrem datang.
Data BPBD Tarakan mencatat sedikitnya 13 pohon tumbang, dua kejadian longsor di Kampung 6 dan Karang Anyar. Serta empat rumah warga mengalami kerusakan akibat terpaan angin kencang. Sejumlah pohon yang roboh bahkan menutup akses jalan dan mengancam fasilitas umum.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan Yonsep, mengatakan sebagian besar pohon yang tumbuh di Tarakan berasal dari hasil pembibitan.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak pohon tidak memiliki akar tunggang yang mampu mencengkeram tanah secara kuat.
“Tanaman di Tarakan ini umumnya tidak memiliki akar tunggal, karena berasal dari pembibitan. Kebanyakan hanya memiliki akar serabut di bagian atas permukaan tanah. Ketika pohon semakin besar, subur, dan terkena angin kencang, bebannya menjadi lebih berat sehingga lebih mudah tumbang,” ujarnya, Jumat (24/7).
Penjelasan itu sekaligus menjawab mengapa pohon yang tampak sehat dan rimbun justru dapat roboh ketika diterpa.angin.
Menurut Yonsep, pertumbuhan batang, cabang, dan tajuk yang semakin besar tidak selalu diikuti kekuatan sistem perakaran.
Karena itu, pohon yang masih berusia muda pun tidak otomatis aman dari risiko tumbang. Apabila akarnya tidak berkembang hingga lapisan tanah yang lebih dalam.
“Bukan hanya pohon tua. Ada juga yang masih muda karena akarnya tidak masuk terlalu dalam. Kalau dipupuk terus dan tumbuh subur, berat pohon juga akan bertambah. Sehingga ketika terkena angin lebih mudah tumbang,” katanya.
BPBD mencatat pohon mangga dan sengon menjadi jenis yang paling banyak mengalami tumbang. Tajuk yang lebat membuat kedua jenis pohon tersebut menerima tekanan angin lebih besar saat cuaca memburuk.
Dari 13 kejadian pohon tumbang, sebanyak 10 lokasi ditangani langsung BPBD Tarakan. Sedangkan tiga lokasi lainnya dievakuasi relawan Kolaborasi Aksi Kemanusiaan (Kolakar). Sebagian besar kejadian berada di kawasan Juata Laut dan Juata Permai.
“Selain mengevakuasi pohon, kami berikan bantuan darurat berupa terpal kepada empat keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat angin kencang. Penanganan lanjutan telah dikoordinasikan dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim),” beber Yonsep.
Yonsep mengingatkan kawasan Gunung Selatan dan jalur menuju Juata menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian. Karena banyak terdapat pohon berukuran besar di sisi jalan.
Masyarakat juga diminta melakukan pemangkasan dahan secara berkala untuk mengurangi beban pohon. Serta segera melaporkan pohon yang miring atau berpotensi tumbang kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Menurutnya, potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga menjelang musim kemarau. BPBD pun menyiagakan personel selama 24 jam bersama TNI, Polri, masyarakat, dan relawan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi bencana.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan beraktivitas di ruang terbuka ketika hujan disertai angin kencang.
Pengendara maupun warga yang berada di luar rumah diminta segera mencari lokasi yang aman hingga kondisi cuaca kembali normal.
“Kalau cuaca sudah ekstrem, jangan memaksakan diri tetap berjalan atau beraktivitas di tempat terbuka. Lebih baik berhenti sementara dan mencari tempat yang aman sampai kondisi kembali normal,” pesan Yonsep. (sas/uno)
Editor : Nurismi