HARIAN RAKYAT KALTARA — Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Utara hingga 25 Juli.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan mencatat kondisi tersebut dipengaruhi aktifnya gelombang Kelvin yang meningkatkan kelembapan udara.
Ditambah terbentuknya bibit siklon tropis 92W di perairan timur Filipina yang memicu pembentukan awan hujan di wilayah Kaltara.
Prakirawan BMKG Tarakan Muhammad Reza Saputra, mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca tiga hari ke depan, Kalimantan Utara berada pada kategori waspada dengan potensi hujan berintensitas sedang hingga lebat di sejumlah daerah.
“Untuk tanggal 23 Juli 2026, wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meliputi Kota Tarakan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Nunukan, dan Malinau. Selain itu terdapat potensi angin kencang di Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan,” ujarnya, Kamis (23/7).
Sementara pada 24 Juli 2026, potensi hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di Kabupaten Bulungan.
Sedangkan pada 25 Juli 2026, kondisi serupa diperkirakan meluas ke Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Bulungan.
Menurut Reza, salah satu faktor utama yang memengaruhi meningkatnya curah hujan beberapa hari terakhir adalah aktifnya gelombang Kelvin. Yaitu gelombang atmosfer yang mulai memasuki wilayah Kalimantan Utara sejak 21—22 Juli 2026.
Fenomena tersebut meningkatkan kandungan uap air di atmosfer secara signifikan hingga lapisan udara sekitar 700 milibar (mb).
Dengan tingkat kelembapan relatif mencapai 90 persen. Kondisi ini menciptakan lingkungan atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Potensi aktifnya gelombang Kelvin di Kaltara diperkirakan berlangsung hingga 23 Juli 2026. Kemudian bergerak ke arah timur sehingga secara bertahap meninggalkan wilayah Kalimantan Utara pada 24 hingga 25 Juli 2026,” jelasnya.
Selain gelombang Kelvin, BMKG juga memantau perkembangan bibit siklon tropis 92W yang berada di perairan timur Filipina.
Meski pusat sistem cuaca tersebut berada cukup jauh dari Indonesia, pengaruhnya tetap dirasakan di Kalimantan Utara melalui terbentuknya pola belokan angin.
Belokan angin tersebut memudahkan proses berkumpulnya massa udara. Sehingga mempercepat pembentukan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan lebat.
“Fenomena itu memicu pembentukan awan konvektif yang didukung kelembapan relatif yang tinggi. Sehingga berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang. Jenis awan yang dominan terbentuk adalah awan Cumulonimbus,” terang Reza.
Meski kondisi cuaca masih didominasi potensi hujan, BMKG memastikan ketinggian gelombang laut di perairan Kalimantan Utara masih berada pada kategori rendah. Yakni di bawah 1,25 meter, belum menunjukkan potensi gelombang tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak hujan lebat agar mewaspadai kemungkinan terjadinya genangan, banjir di daerah rawan, pohon tumbang akibat angin kencang, serta sambaran petir.
Terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Warga juga diminta terus memantau informasi cuaca terbaru yang dikeluarkan BMKG sebagai acuan dalam merencanakan aktivitas sehari-hari. (sas/uno)
Editor : Nurismi