HARIAN RAKYAT KALTARA— Dukungan keluarga dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan proses pembinaan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan.
Hubungan yang tetap terjaga melalui komunikasi dan layanan kunjungan disebut mampu memperkuat motivasi warga binaan menjalani masa pidana. Sekaligus mempersiapkan mereka kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, mengatakan pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku selama menjalani hukuman. Tetapi juga menyiapkan warga binaan agar mampu beradaptasi saat kembali ke lingkungan sosialnya.
“Kalau pembinaan berjalan dengan baik, yang dilihat bukan hanya selama mereka berada di dalam lapas. Tetapi juga bagaimana kesiapan mereka saat kembali ke masyarakat,” ujarnya, Rabu (15/7).
Menurut Jupri, keluarga menjadi pihak pertama yang memberikan dukungan moral kepada warga binaan. Kehadiran keluarga, baik melalui komunikasi maupun kunjungan langsung, membantu menjaga semangat mereka untuk mengikuti seluruh program pembinaan yang diselenggarakan lapas.
Layanan kunjungan keluarga pun tetap dibuka sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, setiap pengunjung wajib melalui tahapan pemeriksaan.
Mulai dari verifikasi identitas, pemeriksaan administrasi hingga pengecekan barang bawaan sebagai bagian dari prosedur pengamanan.
“Kunjungan tetap kami buka sesuai aturan yang berlaku. Ada proses pemeriksaan yang harus dilakukan karena keamanan tetap menjadi perhatian. Tetapi hubungan warga binaan dengan keluarga juga perlu dijaga,” kata Jupri.
Ia menjelaskan, dukungan keluarga juga berpengaruh terhadap kondisi psikologis warga binaan selama menjalani masa pidana.
Warga binaan yang memperoleh perhatian dari keluarga cenderung memiliki motivasi lebih baik dalam mengikuti berbagai kegiatan pembinaan.
Selain itu, komunikasi yang tetap terjalin menjadi indikator bagi petugas untuk melihat sejauh mana dukungan sosial yang dimiliki warga binaan. Kondisi tersebut dinilai turut membantu proses perubahan perilaku selama berada di dalam lapas.
“Dari komunikasi dengan keluarga juga terlihat bagaimana dukungan yang mereka dapatkan selama menjalani pembinaan. Hal seperti ini membantu warga binaan menjalani proses perubahan,” ungkapnya.
Jupri menambahkan, keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya bergantung pada pembinaan yang dilakukan di dalam lapas. Setelah bebas, warga binaan tetap membutuhkan penerimaan dari keluarga dan lingkungan. Agar proses reintegrasi sosial dapat berjalan dengan baik.
“Saat kembali ke masyarakat, mereka perlu dukungan dari orang-orang terdekat. Keluarga menjadi bagian yang paling awal memberikan penguatan, agar mereka bisa beradaptasi lagi dengan lingkungan,” tuturnya.
Selain memperkuat hubungan keluarga, Lapas Kelas IIA Tarakan terus menjalankan berbagai program pembinaan kepribadian dan kemandirian. Sebagai bekal warga binaan menghadapi kehidupan setelah masa pidana berakhir.
“Proses pembinaan membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Lapas memiliki peran dalam membina, sementara keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam mendukung proses mereka kembali menjalani kehidupan sosial,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi