Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Gelombang Laut Kembali Normal, Nelayan Kaltara Diimbau Tetap Rutin Pantau Info BMKG

Nurismi • Rabu, 15 Juli 2026 | 09:14 WIB
KONDISI CUACA: Fenomena angin kencang di perairan mencapai 20 knot yang sempat melanda sejumlah wilayah di Kaltara telah berakhir. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
KONDISI CUACA: Fenomena angin kencang di perairan mencapai 20 knot yang sempat melanda sejumlah wilayah di Kaltara telah berakhir. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan memastikan fenomena angin kencang yang sempat melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Utara (Kaltara) telah berakhir. 

Seiring berakhirnya peringatan dini yang berlaku pada 9—11 Juli, kondisi kecepatan angin dan tinggi gelombang di wilayah perairan Kaltara kini kembali berada pada kategori normal.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan Reza Saputra, mengatakan hasil pemantauan dan prakiraan cuaca terbaru menunjukkan tidak ada lagi kondisi yang memerlukan peringatan dini terkait angin kencang.

“Fenomena angin kencang memang benar terjadi. Namun peringatan dini yang kami keluarkan berlaku pada 9 sampai 11 Juli dan saat ini sudah berakhir,” kata Reza, Selasa (14/7).

Saat fenomena tersebut berlangsung, kecepatan angin di wilayah daratan mencapai sekitar 15 knot, sedangkan di perairan mencapai 20 knot. Hembusan angin terkuat tercatat terjadi di perairan Tanjung Selor. 

Menurut Reza, kondisi itu dipengaruhi oleh Siklon Tropis Bavi yang saat itu terbentuk di wilayah timur Filipina. Sistem tersebut memengaruhi pola sirkulasi atmosfer dengan menarik massa udara menuju pusat siklon sehingga meningkatkan kecepatan angin di Kaltara.

“Pada saat itu pola angin yang ditimbulkan oleh Siklon Tropis Bavi menarik massa udara ke arah pusat siklon. Kondisi itu yang kemudian memicu angin kencang di Kalimantan Utara,” ujar Reza.

Dampak fenomena tersebut tidak hanya dirasakan di Kota Tarakan, tetapi juga meliputi sejumlah wilayah lain seperti Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Nunukan.

Selain meningkatkan kecepatan angin, kondisi tersebut juga berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus yang berpotensi memicu hujan lebat disertai petir.

“Awan Cumulonimbus tidak hanya menghasilkan angin kencang, tetapi juga dapat memicu hujan lebat disertai petir,” jelasnya.

Berdasarkan prakiraan terbaru BMKG, tinggi gelombang di seluruh perairan Kaltara kini berada di bawah 1,25 meter atau masuk kategori rendah. Kecepatan angin juga telah kembali ke kondisi normal.

Meski demikian, BMKG masih memantau perkembangan Siklon Tropis Hyacinth yang baru terdeteksi di wilayah timur Filipina. Sebelumnya, Siklon Tropis Bavi bergerak ke arah Taiwan sebelum melemah dan akhirnya punah di daratan China.

“Yang terbaru saat ini adalah Siklon Tropis Hyacinth. Namun kami masih memantau apakah sistem ini akan menguat atau tidak,” ungkap Reza.

Reza memastikan berdasarkan prakiraan 24 jam ke depan, keberadaan Siklon Tropis Hyacinth belum memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di Kalimantan Utara.

Kendati demikian, masyarakat, terutama nelayan dan pelaku pelayaran, tetap diimbau untuk rutin memperbarui informasi cuaca sebelum beraktivitas di laut.

“Walaupun peringatan dini sudah berakhir, tetap pantau informasi cuaca dan kondisi di lokasi. Perubahan cuaca bisa terjadi sewaktu-waktu, sehingga pembaruan informasi dari BMKG perlu terus diperhatikan,” pesan Re

Editor : Nurismi
kondisi perairan bmkg tarakan