Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Utamakan Keselamatan, BMKG Tarakan Minta Nelayan Kaltara Tunda Berlayar Jika Cuaca Buruk

Nurismi • Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:10 WIB
WASPADA: Warga yang beraktivitas di perairan Kaltara diharap waspadai gelombang tinggi. (HRK)
WASPADA: Warga yang beraktivitas di perairan Kaltara diharap waspadai gelombang tinggi. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Aktivitas pelayaran di sejumlah perairan Kalimantan Utara (Kaltara) berpotensi menghadapi kondisi laut yang lebih menantang selama tiga hari ke depan. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan mengeluarkan peringatan dini gelombang kategori sedang yang diprakirakan terjadi pada 9 hingga 11 Juli 2026.

Kondisi tersebut diperkirakan berdampak terhadap operasional kapal. Terutama perahu nelayan dan kapal berukuran kecil yang melintasi wilayah pesisir.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan Muhammad Sulam Khilmi, mengatakan hasil analisis cuaca menunjukkan pola angin di wilayah perairan Kaltara umumnya bertiup dari arah barat hingga selatan dengan kecepatan berkisar 6-25 knot.

Kecepatan angin tertinggi diprakirakan terjadi di Perairan Tanjung Selor, sehingga berpotensi memengaruhi pembentukan gelombang di kawasan tersebut.

“Berdasarkan hasil analisis, terdapat potensi tinggi gelombang kategori sedang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah wilayah perairan Kalimantan Utara,” ujarnya, Kamis (9/7).

Wilayah yang diprakirakan mengalami gelombang dengan ketinggian 1,25-2,5 meter meliputi Perairan Tanjung Selor, Perairan Tarakan, dan Perairan Nunukan—Sebatik.

Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian seluruh pengguna transportasi laut. Karena dapat meningkatkan risiko pelayaran apabila tidak diantisipasi sejak awal.

Menurut Khilmi, potensi bahaya tidak hanya dipengaruhi tinggi gelombang. Tetapi juga kombinasi antara kecepatan angin dan karakteristik kapal yang beroperasi di laut.

Karena itu, setiap operator kapal maupun nelayan diminta menyesuaikan aktivitas pelayaran dengan kondisi cuaca yang berlaku.

Ia menjelaskan, perahu nelayan mulai berada pada kategori berisiko ketika kecepatan angin mencapai atau melebihi 15 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter.

Sementara itu, kapal tongkang memiliki potensi risiko apabila kecepatan angin mencapai atau melebihi 16 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,5 meter.

“Perahu nelayan berisiko apabila kecepatan angin mencapai atau melebihi 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter. Sementara kapal tongkang berisiko ketika kecepatan angin mencapai atau melebihi 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter,” sebut Khilmi.

BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, operator kapal, serta pengguna jasa transportasi laut. Untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca sebelum melakukan pelayaran.

Informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan waktu keberangkatan maupun rute pelayaran agar tetap aman.

“Kami mengimbau nelayan, operator kapal, dan seluruh pengguna transportasi laut agar selalu memperbarui informasi cuaca dari BMKG sebelum berlayar,” ujarnya.

Selain memantau prakiraan cuaca, pengguna transportasi laut juga diminta memastikan seluruh perlengkapan keselamatan tersedia dan digunakan sesuai prosedur selama pelayaran.

Penggunaan jaket pelampung, alat komunikasi, serta perlengkapan darurat lainnya dinilai penting. Untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

BMKG juga meminta masyarakat tidak memaksakan aktivitas di laut, apabila kondisi cuaca menunjukkan tanda-tanda memburuk.

Penundaan keberangkatan dinilai menjadi langkah yang lebih aman dibandingkan menghadapi risiko kecelakaan akibat gelombang dan angin kencang.

“Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan, sebaiknya aktivitas di laut ditunda demi keselamatan,” tutup Khilmi. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#bmkg tarakan #perairan #Gelombang