HARIAN RAKYAT KALTARA — Lonjakan investasi di Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Kehadiran Kawasan Industri Tanah Kuning yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus magnet investasi berskala besar.
Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara menilai peningkatan investasi tersebut harus diiringi dengan keterlibatan pelaku usaha lokal.Agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.
Sekretaris Provinsi Kaltara Denny Harianto menerangkan, untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Kaltara memperkenalkan program SINERGI Kaltara (Sistem Integrasi Nilai Ekonomi Rantai Global Industri untuk Kalimantan Utara).
“Program ini dirancang sebagai penghubung antara pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan kebutuhan industri yang berkembang di Kawasan Industri Tanah Kuning,” terangnya, Kamis (9/7).
Ia mengatakan SINERGI Kaltara merupakan strategi agar peluang ekonomi yang lahir dari masuknya investasi tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar. Tetapi juga memberi ruang bagi UMKM lokal untuk berkembang.
“Kami menyusun SINERGI Kaltara sebagai langkah agar peluang ekonomi yang sangat besar benar-benar dapat dirasakan masyarakat, khususnya pelaku UMKM,” kata dia.
Kawasan Industri Tanah Kuning memiliki luas sekitar 10.100 hektare dan telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional.
Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat industri terbesar di Indonesia yang mampu menarik investasi dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Kaltara memiliki sekitar 51.840 pelaku UMKM yang hingga kini belum terhubung dengan kebutuhan industri.
Kondisi itu dinilai menjadi tantangan serius karena pelaku usaha lokal belum memperoleh kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok industri.
“Jangan sampai industri berkembang sangat pesat, tetapi UMKM kita justru tidak ikut tumbuh,” tegasnya.
Melalui SINERGI Kaltara, pemerintah akan memperkuat kapasitas UMKM agar mampu memenuhi standar kebutuhan industri. Mulai dari kualitas produk, kontinuitas produksi hingga tata kelola usaha.
Selain itu, kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) juga akan diperkuat sehingga pembinaan terhadap UMKM berjalan lebih terintegrasi.
“Dengan demikian, pelaku usaha lokal diharapkan mampu menjadi pemasok berbagai kebutuhan industri sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat nasional,” jelasnya.
Pemprov optimistis keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri tidak hanya akan menciptakan peluang usaha baru. Tetapi juga membuka lapangan pekerjaan serta memperkuat struktur ekonomi daerah yang berkelanjutan. (fai/uno)
Editor : Nurismi