Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Merangkai Gulma Menjadi Primadona

Nurismi • Jumat, 10 Juli 2026 | 09:10 WIB
Perajin Ieko Damayanti menunjukkan produk kerajinan tas yang terbuat dari bahan eceng gondok di Pinang, Kota Tangerang, Banten.
Perajin Ieko Damayanti menunjukkan produk kerajinan tas yang terbuat dari bahan eceng gondok di Pinang, Kota Tangerang, Banten.

HARIAN RAKYAT KALTARA - Hamparan eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang menutupi permukaan air sering kali dianggap masalah.

Tanaman air tersebut dikenal sebagai gulma invasif karena tumbuh dengan cepat dan dapat menghambat aliran air serta menggganggu aktivitas masyarakat di sekitar perairan. 

Namun, di tangan terampil Leko Damayanti (39), gulma air itu dapat dimanfaatkan menjadi produk kerajinan yang bukan hanya memberi manfaat ekonomis, tapi juga menawarkan solusi untuk menjaga kelestarian lingkungan.

DAYA JUAL: Foto udara pekerja mengumpulkan batang tanaman eceng gondok yang menutupi setu atau waduk di Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. (ANTARA)
DAYA JUAL: Foto udara pekerja mengumpulkan batang tanaman eceng gondok yang menutupi setu atau waduk di Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. (ANTARA)

Menggeluti usaha sejak tahun 2008, wanita yang tenar dengan sebutan Ratu Eceng tersebut mengawali karirnya melalui pelatihan menganyam yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangerang di Yogyakarta.

Setelah mengikuti pelatihan yang digelar selama tiga hari tersebut, Ieko mulai memberanikan diri membuka usaha anyaman kecil-kecilan bermodalkan Rp150.000 untuk kebutuhan bahan baku dan mesin jahit.

Kemudian dia mendapatkan dukungan pembiayaan modal usaha dari salah satu bank sehingga berdampak cukup signifikan untuk mengembangkan usahanya.

Ieko membeli eceng gondok untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dengan harga Rp500.000-Rp700.000 per kuintal dalam keadaan sudah kering guna mempermudah proses produksi.

MATA PENCAHARIAN: Pekerja menjemur tanaman eceng gondok di Pakuhaji. (ANTARA)
MATA PENCAHARIAN: Pekerja menjemur tanaman eceng gondok di Pakuhaji. (ANTARA)

Saat ini Ieko telah memberdayakan sebanyak 20 orang penganyam perempuan dengan upah mulai dari Rp10.000-Rp500.000 per produk tergantung tingkat kesulitan jenis kerajinan yang dibuatnya. 

“Para penganyam memang kebanyakan ibu-ibu supaya mereka dapat penghasilan tambahan dengan mengerjakan produk kerajinan di rumahnya masing-masing sambil mengurus kepentingan rumah tangga,” kata Ieko.

Ieko bersama mitra kerjanya dapat memproduksi 10 - 50 produk kerajinan per hari dan dapat meningkat mencapai 100 produk apabila permintaan men ingkat.

Produk yang dibuatnya bervariasi mulai dari kebutuhan gaya hidup hingga dekorasi interior seperti tas, keranjang, tikar, tatakan, kotak tisu, meja dan kursi, yang dijual dengan harga mulai dari Rp25.000 hingga Rp5.000.000 per produk.

Melalui konsistensinya yang telah digeluti belasan tahun, produk kerajinan tersebut telah menembus sejumlah kota besar di Indonesia bahkan telah menembus pasar ekspor hingga ke Amerika Serikat, Ukraina dan Inggris. 

“Untuk pemasaran saya menjual produk melalui aplikasi lokapasar, mengikuti pameran kerajinan dan menyimpan produk di beberapa hotel, dan Alhamdulillah yang membeli di hotel sekitar 90 persen merupakan warga negara asing,” kata Ieko.

Langkah kreatif Ieko seperti ini diharapkan juga dapat menginspirasi masyarakat termasuk pemerintah untuk mengatasi tanaman gulma di kawasan perairan secara lebih kreatif dan efektif sekaligus memberikan kebermanfaatan ekonomi bagi masyarakat sekitar. (ANTARA)

Editor : Nurismi
#enceng gondok #umkm